
Sedangkan pak Pujianto dan Arga hanya memperhatikan ,Bu Fitriana yang terlihat marah dengan orang suruhannya.
"Sudahlah Bu jangan marah-marah terus! Kalau penyakit kamu kambuh lagi bagaimana?" kata pak Pujianto, mengingatkan istrinya.
"Aku tak terima, jika Meliana pacaran dengan pria begajulan itu! Apa aku nikahkan dia saja dengan Andra anak pak Deni kampung sebrang?"
Tanpa mereka sadari, Meliana mendengar perkataan ibunya yang ingin menikahinya dengan Candra. Pria yang dia kenal, playboy dan suka main perempuan kalau di luar sana.
"Ibu sangat jahat, kenapa tidak merelakan aku dengan Gunawan. Justru rela menikahi ku dengan pria yang suka bermain dengan banyak wanita!" Liana menangis, lalu masuk ke kamarnya kembali.
Arga merasa kalau apa yang ibu bicarakan sangatlah keterlaluan.
"Bu kenapa harus menikahi Mely dengan Candra? Aku tau betul dia itu pria brengsek, yang sering bermain dengan banyak wanita!" protes Arga.
"Diam kamu jangan ikut campur! Kamu dan adik kamu sama saja. Kamu dulu menyukai Ratna kan, teman Liana yang miskin itu? Heran ibu tuh dengan kalian berdua, menyukai lawan jenis kelamin gak ada yang benar. Satu gadis miskin, satu pria brandal!" Arga hanya menundukkan kepalanya, mendengar apa yang ibunya katakan.
Memang benar apa yang di katakan oleh ibunya. Kalau ia memang menyukai Ratna, bukan hanya dulu, bahkan sekarang pun rasa tertarik kepada gadis itu belum hilang.
Saat Liana sedang duduk termenung di dalam kamar, Bu Fitriana datang menatap wajah putrinya dengan sangat marah.
Liana berjalan menghampiri ibunya, dengan menggenggam tangannya.
"Bu, izinkan aku untuk ke kampus! Aku janji gak akan kemana-mana!" ucap Liana seraya memohon.
"Tidak bisa! Ibu tidak akan membiarkan kamu keluar rumah. Ibu tidak ingin kamu kuliah hanya untuk menemui pria begajulan itu!"
"Bu Gunawan bukan begajulan! Dia pria baik dia sekarang sudah berubah Bu," jawab Liana.
"Kamu semenjak kenal dengan dia, semakin kurang ajar dengan ibumu!" bentak Bu Fitriana.
"Kamu lebih baik di rumah, daripada kamu keluar untuk menemuinya. Dengarkan ibu Mely! Jika kamu menghampiri dia, kamu akan tau sendiri apa yang akan terjadi padanya!" Ancaman ibunya membuatnya takut.
Liana tak berani menjawab perkataan sang ibu, ia hanya membaringkan tubuhnya lalu menangis. Bu Fitriana meninggalkan putrinya di kamar, lalu mengunci pintunya.
Sedangkan Meliana sendiri, saat ini tak memegang handphone miliknya, karena ibunya sudah mengambilnya. Ia takut saat Gunawan menghubungi nya, maka sang ibu yang mengangkatnya. Dia tau kalau saat ini, Gun akan datang menemuinya di kampus.
Benar saja saat ini tepat di belakang kampus, seorang pria sedang menunggu kekasihnya di tempat biasa. Sudah satu jam setengah, dirinya menunggu namun gadis yang ia cari tak kunjung datang.
"Sayang, kamu di mana sih? Apa dia masih di kelasnya?" Gunawan bertanya-tanya. "Coba setengah jam lagi, gue tunggu kalau belum datang juga gue cabut,"
Gunawan masih menunggu, entah kenapa hatinya merasa gelisah. Karena Liana belum datang juga, menemuinya.
Sudah dua jam Gunawan menunggu di belakang gedung kampus Liana, namun ia tak kunjung datang juga.
"CK! Liana kamu di mana sih? Aku nungguin kamu, kasih kabar atau apa gitu biar aku gak khawatir seperti ini!"
__ADS_1
Gunawan akhirnya mengubungi Meliana.
Tuuut ... tuuut ... tuuut.
Panggilan pun terjawab.
"Hallo sayang, kamu di mana? Aku nungguin kamu dua jam di tempat biasa, tapi kamu gak datang,"
Tak ada jawaban dari sebrang sana.
"Sayang, kamu lagi ngapain sih? Di telpon kok gak ada suaranya, aku khawatir sama kamu,"
Dari sebrang sana hanya menunjukan senyuman menyeringai, saat mendengar Gunawan bicara.
"Liana tidak akan lagi menemui kamu, bocah tengik. Aku tak mau putri ku sampai menemui kamu, kalau perlu kalian jangan pernah bertemu lagi!"
JEDER ...
Bagai tersambar petir Gunawan terkejut dengan siapa saat ini dirinya bicara.
"I ... ibu," ucap Gunawan dengan gugup, karena saat ini dirinya bicara dengan orang tua Liana.
"Dengarkan saya! Jauhkan anak saya, jangan pernah bermimpi mendekati putri saya. Ingat Liana harus mendapatkan pria yang mapan dan jelas keluarganya, bukan seperti kamu yang tak di akui oleh orang tuamu!" maki Bu Fitriana, Gunawan yang mendengarnya sampai mengepalkan kedua tangannya.
Setelah mengatakan itu, panggilan telpon pun terputus. Mendengar itu, Gunawan sangatlah geram.
Gunawan akhirnya meninggalkan tempat itu lalu mengendarai motornya entah kemana.
Sedangkan di dalam kamar, seorang gadis masih duduk termenung. Dengan ucapan ibunya yang ingin menjodohkan dirinya dengan laki-laki yang tidak ia cintai.
"Aku harus bagaimana, ibu akan dijodohkan oleh laki-laki pilihan ibu." Liana menutup wajahnya, dan menangis sesenggukan.
"Aku gak mau jika bukan Gunawan. Aku sudah cukup sabar mengikuti semua yang ibu inginkan. Tapi jika menikah dengan pria lain aku berhak menolak, aku cinta dengan Gun!"
Kini Liana duduk termenung menatap gelapnya langit. Ia sedang memikirkan suatu rencana untuk keluar dari rumah, dan menemui Gunawan.
Keesokan harinya, Liana mengitari seluruh rumah, mencari tempat yang pas untuk melarikan diri. Saat itu ia melihat ruangan untuk menjemur pakaian, yang tembok nya tak di tanami besi berduri.
"Sepertinya tempat ini aman, tak di letakkan besi berduri,"
Dengan cepat, Liana masuk ke dalam kamar kembali. Menunggu keluarganya yang akan pergi. Setelah rumah kosong, ia menggunakan hoddie berwarna army, lalu berjalan menuju ruang belakang.
Meliana nekat mengambil kursi, lalu memanjat tembok. Setelah sampai atas, ia sedikit takut , karena dari luar cukup tinggi.
"Ya Tuhan, ini tinggi banget. Aku takut, jika tinggi seperti ini,"
__ADS_1
Dari sebrang ada seorang pria memperhatikan Liana.
"Yasudah lah aku loncat saja, aku gak peduli demi bertemu Gunawan!" Dengan nekat Liana loncat dari tembok setinggi kurang lebih tiga meter.
BUUGGH!
"Aaaww ...! Sakit banget. iiiissshhh ..."
Liana terjatuh, ia merasakan sakit di bagian lengan dan lututnya. Dengan cepat ia segera menutup kepalanya.
Liana terkejut mendengar suara motor tepat di belakangnya. Dirinya takut, kalau niatnya akan gagal hari ini.
"Mely," panggil orang itu.
Liana segera menoleh ternyata Bima, anak Bu suci tetangganya.
"Bima. Huuuuff ... syukurlah kamu, aku kira siapa?" Liana merasa lega.
"Kamu ngapain keluar rumah dengan mengendap-endap seperti ini?" tanyanya dengan pelan.
"Ada masalah sedikit, aku ingin keluar tapi gak boleh. Jadi aku nekad lewat sini," jawab ya dengan di sertai senyuman.
"Masalah hati ya?" tanya Bima, dan Liana tersenyum malu, karena pria di depannya bisa menebak nya.
"Kamu terluka gak? Ayo aku obati dulu!" ajak Bima, dan Liana menolak.
"Tidak usah Bima, hanya luka sedikit aja ko,"
"Yakin itu sangat tinggi loh! Ya sudah aku bantu antar kamu keluar dari sini!"
Mendapatkan tawaran bantuan, wajah Liana berbinar.
"Ya ampun terima kasih banyak Bima. Antar aku, sampai ruko yang banyak bengkel sana mau gak? Kalau tidak sampai pertigaan jalan depan aja?"
"Yasudah aku antar, sekarang kamu naik dulu ke motor ku. Sebentar, kamu pakai masker ini, biar penjaga di rumah kamu tidak mengenali kamu." Kata Bima, sambil menyerahkan masker hitam, lalu Liana gunakan untuk menutupi mulutnya.
"Terima kasih Bima,"
"Sama-sama. Yuk kita berangkat!" Liana mengangguk.
Kini Liana sudah menggunakan masker penutup mulutnya, dengan menggunakan hoddie berwarna hijau army, dengan menutupi bagian kepalanya.
Dengan cepat, Bima mengendarai motor sportnya melewati depan rumah Liana. Yang di mana ada tiga penjaga di sana.
Bersambung ...
__ADS_1