
Gunawan pun melanjutkan makan rujaknya, sedangkan Raka yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Karena melihat sahabatnya begitu menikmati rujak bebeg, dengan minuman segelas Teh hangat.
Malam harinya.
Waktu menunjukkan pukul 01.00 malam. Meliana terbangun dari tidurnya, dan merasakan lapar.
"Aku lapar banget, tumben. Aku ke dapur deh, aku liat ada makanan apa." Meliana turun dari tempat tidurnya dan keluar kamar menuju dapur.
Saat Meliana membuka lemari pendingin, ia melihat ada cake buah dan susu. Matanya berbinar saat melihat banyak makanan di depan matanya. Ia pun segera mengambil semuanya, lalu di letakan di atas meja. Tak lupa, Liana mengambil susu UHT dengan rasa vanilla.
Meliana menyantap makanan yang dia sudah ambil, dengan lahap buah dan cake di santap nya dengan semangat. Yang terakhir Liana meminum susu UHT dengan menikmati.
"Dek, kamu ngapain?" tanya Arga yang membuat Liana terkejut.
"Kakak, ngagetin aja sih! Aku lapar karena tadi aku gak ikut makan malam. Mangkaya sekarang baru terasa lapar." Jawab Liana dengan bibir manyunnya.
"Siapa suruh gak makan tadi! Yasudah ini tadi kakak belikan nasi goreng untuk kamu !"
"Waaahh .... seriusan kak ini untuk aku?" tanya Liana, dan Arga mengangguk.
"Terimakasih loh kak! Sebenarnya tadi aku males kak, kalau ikut gabung makan dengan ibu, yang di bicarakan masalah perjodohan aku dengan pria bernama Adam!" dumel Liana.
Arga hanya mendengar keluhan adiknya. Sebenarnya memang malas juga, setiap kali kumpul dengan keluarga yang di bicarakan hanya perjodohan.
"Sudah, jangan banyak bicara! Sekarang kamu makan aja dulu! Tadi bilang katanya lapar?"
"Iya kak." Liana pun akhirnya makan nasi goreng yang di beli oleh kakaknya.
Dua hari kemudian adalah hari yang tak di inginkan Meliana. Karena kata ibunya, pria yang ingin di jodohkan olehnya akan datang. Liana di suruh berhias diri untuk menyambut kedatangan mereka.
Di kediaman pak Pujianto dan Bu Fitriana, sudah kedatangan keluarga pak Alam dan sang istri datang, dengan seorang pemuda yang tampan.
"Bagaimana kabarmu Pujianto, udah lama kita gak pernah ketemu." Kata pak Alam dengan berjabat tangan.
"Kabar ku baik Alam. Ternyata kamu tak berubah sejak dulu sampai sekarang masih terlihat awet mudah aja." Pak puji menyambut jabatan tangannya.
"Hahah ... Bisa saja kamu. Oh iya Puji, kenalkan ini Adam, putra kami." Alam memperkenalkan Adam ke pak puji dan Bu Fitriana.
"Wah, tampan sekali putra kalian. Oh iya ini Arga, putra pertamanya kami." Kata Bu Fitriana memperkenalkan putranya.
Arga dan Adam pun saling bersalaman. Namun Bu Damayanti seperti mencari seseorang.
__ADS_1
"Lalu putri kalian yang cantik itu ke mana? Saya tak sabar ingin melihatnya!" kata Bu Damayanti dengan tak sabar.
"Dia di kamarnya, masih berhias diri. Sebentar nanti aku ajak dia kesini." Cakap Bu Fitriana, Damayanti pun mengangguk.
Bu Fitriana berdiri untuk menjemput putrinya. Saat sampai depan kamar, ia melihat Meliana sedang melamun di depan cermin, dengan wajah sedihnya.
Bu Fitriana merasa geram melihat putrinya bersikap seperti itu. Ia langsung menghampiri Meliana, dan membuatnya terkejut.
"Meliana!" panggil sang ibu, membuat yang punya nama terkejut.
"Ibu." Meliana segera menghapus air matanya.
"Kamu kenapa masih di kamar, semuanya sedang menunggu kamu di luar!" Bu Fitriana menatap mata putrinya dengan tatapan menyelidik.
"Kamu habis menangis? Mikirin pria berandalan itu? Kamu ingin buat ibumu malu Liana! Di sana keluarga pak Alam sudah menunggu dengan putranya yang akan menjadi calon suami kamu!"
"Bu, Gunawan bukan pria brandal. Dia baik, kenapa ibu selalu menghina dia dengan sebutan kasar seperti itu!"
"Ooh ... kamu sudah berani melawan ibu! Liana! Ibu yang melahirkan kamu, tapi kamu membela dia. Ibu seperti ini, memikirkan kebahagiaan kamu, tapi balasan kamu seperti ini ? Membangkang setiap apa yang ibu katakan. Hah!"
Meliana tak berani menjawab perkataan sang ibu, hanya biasa diam menahan rasa kesalnya.
"Sekarang ibu minta kamu hapus air mata kamu!" Liana menghapus dengan tisu. Bu Fitriana memberikan make-up ke putrinya. "Sekarang kamu gunakan ini lagu, untuk menutupi wajah kamu yang habis menangis!"
Meliana mengambilnya, lalu di pakainya di wajah yang terlihat bekas air matanya.
"Ibu tidak ingin, mereka melihat dan bertanya apa kamu habis menangis. Di hadapan mereka kamu harus tersenyum jangan terlihat kusut!" Meliana hanya mengangguk.
Hatinya begitu amat sedih dirasakan. Kenapa ibunya bisa kejam seperti ini. Semenjak kehidupannya sudah memiliki harta dan sering berkumpul dengan ibu-ibu sosialita. Padahal dulu, ibunya sosok ibu yang baik dan ramah. Tapi sekarang mejadi sombong dan mementingkan dirinya sendiri.
Setelah berhias, Bu Fitriana membawa Meliana untuk keluar kamar dan menemui keluarga pak Alam dan keluarganya. Dirinya tak sabar ingin memperkenalkan putrinya dengan seorang pemuda tampan dan kaya.
Terlihat Bu Fitriana yang berada di samping putrinya, memberikan senyuman. Dengan tangan Liana yang selalu di gandengnya, sesekali ia memberikan kode untuk Meliana memberikan senyuman.
Sedangkan Adam sangat malas akan pertemuan antara dua keluarga ini. Meliana berjalan di samping ibunya dengan senyuman.
Bu Damayanti dan pak Alam, tersenyum saat melihat wanita yang akan di jodohkan dengan Putra mereka nampak cantik.
Begitupun juga dengan Adam yang tertegun melihat gadis yang akan dijodohkan olehnya ternyata memang cantik. Namun entah kenapa, hatinya tidak bergetar seperti ia melihat wanita yang dia kagumi di restauran miliknya.
"Ini dia putri kami, dia cantik kan?" cakap Bu Fitriana.
__ADS_1
"Iya Fitriana, putri kamu cantik. Sini sayang, duduk samping Tante!" timpal Bu Damayanti menepuk di sisi sampingnya.
Meliana pun duduk di samping Bu Damayanti, dengan bibir yang terus tersenyum. Liana merasa dirinya seperti barang dagangan yang di percantik, lalu ditawarkan kepada orang lain.
"Siapa nama kamu sayang?" tanya Bu Damayanti, menyentuh tangan Liana dengan lembut.
"Meliana Tante,"
"Nama yang cantik, seperti orang dan suaranya!" puji Bu Damayanti, membuat Bu Fitriana slalu tersenyum mendengar putrinya di sanjung.
Para keluarga tersenyum melihat Bu Damayanti begitu menyukai Meliana. Sedangkan Adam sendiri sejak tadi tak terlalu menghiraukan Mama nya yang selalu memuji gadis di sebelahnya.
"Meliana, kenalkan ini putra Tante namanya Adam. Dia putra tunggal kami, dan sekarang ia membantu mengelola beberapa restauran milik om papanya. Nanti sesekali kamu ikut ke sana ya!"
"Iya Tente," jawab Liana, dengan senyum di paksakan.
Bukan hanya Meliana menunjukkan senyuman yang di paksa. Adam pun juga sama, ia sangat malas dengan acara pertemuan ini. Ingin sekali ia keluar dari sana, dan menemui gadis yang selalu membuatnya tersenyum jika mengingatnya.
Kini Liana dan Adam di berikan waktu berduaan, untuk saling mengenal dan mengobrol. Namun di antara mereka berdua tak ada yang saling bicara.
Karena Bu Damayanti memperhatikan putranya yang hanya diam. Adam yang sedang memainkan alat gawai nya, mendapatkan notifikasi pesan masuk.
Mommy: "Dam, kamu jangan diam aja. Ajaklah Meliana bicara, sejak tadi di perhatikan kalian tak ada yang saling bicara."
'Ya Tuhan, untuk masalah seperti ini aja, mama masih mengawasi aku. Benar-benar mama itu, udah kaya security keamanan aja!' Dumel Adam dalam hatinya saat membaca isi pesan mamanya.
Adam memperhatikan gadis di hadapannya, hanya duduk termenung. Karena sejak tadi, Liana hanya diam saja.
"Ekhem ... Liana, kamu ini kuliah atau kerja?" akhirnya Adam membuka suaranya untuk bertanya.
"Aku kuliah," jawabnya sebagai singkat.
Adam yang mendengarnya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.
"Maaf ya jika kamu tidak nyaman, dengan acara perjodohan ini?" Meliana melihat ke arah Adam yang memberikan pertanyaan kepadanya.
Meliana menatap Adam dengan tatapan menyelidik, sebenarnya kalau bisa di bilang ia juga sangat tidak menginginkan perjodohan yang di lakukan oleh ibunya. Karena di hatinya saat ini hanya ada Gunawan, dirinya hanya ingin Gun yang menjadi miliknya, bukan pria lain.
Bersambung....
...Assalamu'alaikum semuanya. Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca karya ku. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak 👍 dan komentar yang positif dari kalian. Agar Othor nya semangat untuk membuat alur ceritanya yang bagus. Terimakasih 🙏🙏🙏...
__ADS_1