Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Ratna sangat marah


__ADS_3

Arga tersenyum melihat Liana dan ibunya saling berpelukan. Begitupun dengan Gunawan, ia tak percaya jika hubungannya di restui oleh Bu Fitriana.


Gunawan mencium tangan Bu Fitriana, sebagai bentuk rasa terimakasih. Karena sudah merestui hubungannya dengan Liana.


Bu Fitriana, hanya memberikan sedikit senyuman kepada Gunawan. Dirinya terpaksa mengatakan itu, karena ia tak mau jika di laporkan ke polisi oleh Adam.


Setelah kepergian Bu Fitriana, Pujianto, dan Arga. Kini hanya tinggal, Adam, Gunawan, Ratna dan Meliana.


Gunawan menggenggam tangan Liana dengan begitu erat, hingga senyuman pun terpancar di wajah mereka.


Ratna pun ikut merasakan kebahagiaan, saat kedua sahabatnya kembali bersatu. Gunawan mengulurkan tangannya ke arah Adam. "Maaf tadi saya sudah kasar sama anda, karena saya masih emosi. Teringat saat anda memasangkan cincin di jari Liana."


Adam tersenyum, lalu membalas uluran tangan Gunawan.


"Santai saja, saya maklum dengan sikap kamu tadi. Saya tau, kamu emosi. Jika posisi itu berada di diri saya, mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama kepada kamu." Jawab Adam dengan menepuk pundak Gunawan.


Adam tersenyum, saat menoleh ke arah Ratna. "Oke kalau begitu, karena hubungan kalian sudah membaik. Tinggal saya saja. Ada yang ingin saya tanyakan kepada kalian?"


"Tanyakan saja? Memang kamu mau tanya apa Dam?" tanya Liana, dengan tangannya memeluk pinggang Gunawan.


"Jika setatus kalian sudah jelas, boleh tidak kalau saya menjalin hubungan dengan teman kalian ini?" tanya Adam merangkul pundak Ratna.


Ratna membelalakkan matanya, karena terkejut dengan apa yang di katakan oleh Adam. Apalagi tangan pria di sampingnya juga merengkuh pundaknya.


Gunawan dan Meliana tersenyum mendengar Adam bicara seperti itu.


"Kalau kami berdua setuju aja, kalau kamu menjalin hubungan dengan Ratna. Tapi tergantung gadis di sebelah kamu Dam," ledek Liana.


Ratna melotot ke arah Liana, yang bicara seperti itu kepada pria di sebelahnya. Gunawan terkekeh, melihat raut wajah temannya terlihat kesal.


"Gak papa Na, jangan semua cowok yang suka sama elo. Elo selalu menghindar, sekarang di sebelah elo ada laki-laki yang suka sama elo. Udah jangan menghindar terus!" timpal Gunawan.


Ratna hanya diam tak menjawab, karena memang apa yang di katakan benar adanya. Dirinya selalu menghindar jika ada cowok yang suka kepadanya.


"Aku gak akan maksa untuk kamu jawab sekarang. Tapi aku ingin, kamu jangan menghindar, agar aku bisa dekat kamu, dan mengenal kamu lebih jauh lagi. Karena selama ini, aku sering memperhatikan kamu secara diam-diam." Adam seraya menggenggam tangan Ratna.

__ADS_1


Entah kenapa Ratna merasa hatinya berdebar-debar, saat Adam menggenggam tangannya. Selama ini, hanya Arga laki-laki yang menyentuh kepadanya.


"Bagaimana?" tanya Adam, membuat Ratna terkejut, karena tangannya di genggam.


"Mel," panggil Liana.


"Eemm ... Aku butuh waktu untuk menjawabnya. Maaf ya!" Jawab Ratna.


Adam mengangguk dan tersenyum.


"Ya, gak papa. Aku kasih waktu untuk kamu menjawab. Tapi aku minta kamu, untuk tidak menjaga jarak sama aku ya?"Ratna pun menganggukkan kepala.


Adam tersenyum, dengan jawaban Ratna. Begitupun juga dengan Gunawan dan Meliana, ikut bahagia karena ada laki-laki yang tak menyerah untuk mengejar sahabatnya.


Kini Gunawan sudah mengantar Meliana pulang ke rumah. Begitu juga dengan Adam, yang mengantarkan Ratna pulang. Bukan hanya itu, Adam juga mampir dan mengobrol dengan orang tua Ratna.


Dua hari kemudian, Gunawan menemui ayahnya, untuk membicarakan tentang dirinya yang ingin menikahi Liana. Tak lupa Gun juga memberitahu kepada pamannya tentang hubungan dirinya dengan Meliana.


Sedangkan di sebuah restauran, Ratna di buat pusing dengan sikap Adam. Yang berani mendekati dirinya secara terang-terangan di depan karyawannya.


Contoh nya hari ini, setelah Ratna sakit dan bos-nya dekat dengannya. Ada tiga orang karyawan perempuan yang menghampiri Ratna.


Ratna di bawa paksa dengan tiga orang gadis, yang sudah lama bekerja di sana.


"Kalian sebenarnya mau bawa gue kemana sih? Sakit tangan gue di tarik begini !"


Ratna di bawa ke belakang yang di mana adalah tempat mengumpulkan barang yang tak terpakai.


"Sini loe." Tangan Ratna di hempas dengan kasar oleh mereka.


"Kalian apa-apaan sih? Kalau ada yang ingin di bicarakan, kenapa harus begini!" Ratna dengan rasa kesal.


"Elo itu anak baru, semakin kesini kayanya semakin ngeloncong ya!" Kata seorang gadis bernama Zara.


"Maksud elo apa si Ra? Jujur gue gak ngerti, sama apa yang elo katakan?"

__ADS_1


"Jangan berlaga beg* loe ya? Elo bekerja disini, kayanya elo semakin dekat sama pak Adam. Ada maksud tertentu Sepertinya, elo suka ya sama pak bos?" tanya Zara.


"Bener apa yang Zara bilang. Elo suka ya sama pak Adam? Apa emang ini rencana elo, ingin ngegaet pak bos?" tanya seorang gadis bernama Cindy.


Ratna tersenyum mendengar apa yang di katakan dua gadis di hadapannya.


"Kalian ngomong apa si?" tanya Ratna berlagak tak tau.


"Alah! jangan munafik deh loe. Gue tau kalau pak Adam diam-diam suka kasih perhatian ke elo? Tapi gue salut sih dengan keberhasilan elo,buat dekat dengan pak bos. By the way, gue boleh minta resep dari loe gak, tapi yang paling ampuh. Buat ngegaet cowok kaya model pak bos?" Tanya satu orang gadis dengan senyuman menyeringai bernama Anya.


Ratna terlihat menahan rasa kesalnya, mendengar Anya bicara seperti itu.


"Resep. Elo pikir gue main magic gitu, untuk dekat dengan pak Adam. Gil* loe ya? Gue bukan orang kaya gitu, gue bukan cewek yang Carmuk( cari muka) agar gue bisa dekat dengan beliau!" Ratna terlihat emosi.


"Terus elo pikir kita percaya? Sayangnya enggak! Anak-anak juga punya pikiran yang sama kaya kita. Elo kerja di sini pakai magic kan, agar elo bisa dapat perhatian dari pak Adam?" tanya Cindy.


"Astaghfirullah. Pikiran kalian itu yang selalu jelek. Buat apa gue pakai magic segala, gak ada gunanya tau gak! Gue punya Allah, gue minta dengan-Nya bukan dengan begituan!" jawab Ratna dengan membela diri.


"Masih aja ngelak, jelas-jelas udah ketahuan. Emang ya, cewek kaya elo, harus di kasih pelajaran." Lalu Cindy dan Zara, memegangi tangan Ratna.


Ratna curiga kalau mereka ingin bertindak kasar kepadanya. Benar saja Anya membawa ember berisikan air cucian piring. Lalu di sendok nya air itu menggunakan gayung, lalu di guyur lah kepala Ratna.


Ratna memejamkan matanya, menahan rasa kesalnya. Air cucian piring, yang aromanya sangat bau tersebut membuatnya merasa mual.


Setengah air itu sudah mengguyur ke tubuh Ratna. Dirinya sangat emosi, lalu Ratna berontak sampai Cindy dan Zara pun terjatuh.


Sedangkan Anya terkejut dengan Ratna yang saat ini menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Gue gak terima ya, kalian melakukan ini ke gue! Dengerin ya! Gue gak Carmuk sama pak bos, dan gue juga gak pakai magic atau jampi-jampi untuk dekat dengan pak Adam. Jadi semua yang kalian tuduhan gak benar!"


Ratna tersenyum menyeringai.


"Karena elo udah ngeguyur gue pakai ini. Sekarang gue bagi ke elo, bagaimana rasanya aroma air ini." Ratna mengambil gayung, yang berisikan air cucian piring tersebut. Lalu di guyur di atas kepala Anya.


"Bagaimana rasanya, hemm? Enggak enak kan?" tanya Ratna dengan senyuman menyeringai. Setelah itu ia meninggal Anya, Cindy dan Zara di sana, dengan raut wajah menahan kesal.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2