
Meliana pun membalas kecupan dari sang suami. Membuat keduanya saling bertatapan dan melakukan kembali ci*man yang membuat hubungan mereka menjadi in*im.
Meliana hendak mengajak Gunawan untuk sarapan. Sedangkan mereka melihat di ruang makan para keluarga sudah berada di sana.
"Pagi ayah, ibu, kak Arga," sapa Liana dengan ceria.
"Pagi," jawab semuanya.
"Pagi semua, maaf kami telat gabung untuk sarapan bersama," Gunawan dengan rasa canggung.
"Santai aja Gun, ayo sarapan!" ajak pak Pujianto.
Gunawan mengangguk lalu duduk di kursi, samping kakak ipar, dan Arga pun tersenyum.
Namun saat Gunawan baru duduk, Bu Fitriana justru menyudahi sarapannya.
"Ibu sudah kenyang, kalian lanjutin sarapan!" ucap Bu Fitriana dengan ketus.
Setelah mengatakan itu, ia pun langsung meninggalkan kursi makan. Padahal makanan di atas piring masih ada, Gunawan merasa tak enak hati.
'Kenapa ibu pergi, apa mungkin karena ada aku di sini.' Gumam Gunawan dalam hati.
Liana tau, pasti suaminya merasa tak enak hati. Atas ibunya yang meninggal sarapan saat ada dia.
Meliana hanya menyentuh tangan Gunawan, dan tersenyum. Membuat Gun membalas senyuman sang istri.
"Maafkan ibu ya, dia memang seperti itu," ucap pak Pujianto, yang tau pasti menantunya merasa tak enak hati.
"Benar Gun. Ibu memang seperti itu, lebih baik kamu lanjutin sarapan. Jangan kamu pikirkan sikap ibu kami!" timpal Arga, dengan menepuk pundak Gunawan.
Gunawan mengangguk, lalu Liana menyendokan nasi goreng untuk sang suami. Ia melayani sarapan untuk Gun, yang kini sudah berstatus suaminya.
"Cukup! Terimakasih sayang," ucap Gun, dan Liana mengangguk
Gunawan dan Liana akhirnya menikmati sarapan bersama dengan ayah dan sang kakak.
Sedangkan di lain rumah, Ratna sedang bersiap-siap hendak berangkat kerja.Dari luar terdengar suara mesin motor, berhenti di halaman rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Adam.
"Waalaikumsallam," jawab dari dalam, ternyata suara Bu Nur. "Loh nak Adam, kirain siapa."
Adam mencium tangan, sebagai bentu rasa hormat. "Ratna ada Bu? Saya ingin menjemput putri ibu, untuk berangkat kerja."
__ADS_1
Bu Nur tersenyum. "Ratna ada di dalam sedang bersiap-siap. Silahkan duduk dulu, sambil menunggu biar ibu buatkan kopi!"
"Tidak usah repot-repot Bu, saya hanya menjemput anak gadis ibu." Jawab Adam dengan tersenyum.
Tidak lama, Ratna datang untuk berpamitan kepada sang ibu. Namun ia terkejut saat melihat ternyata ada Adam.
"Loh, Mas Adam ko di sini?" tanya Ratna.
"Iya, aku jemput kamu. Biar kita berangkat kerja bareng." Jawab Adam dengan senyum.
"Tapi kan, tempat kerjaku lebih jauh dari restauran kamu Mas?"
"Memang kenapa? Kalau aku ingin jemput pacar aku," dengan santai Adam menjawab, membuat Bu Nur tertegun mendengarnya.
Ratna melototi Adam, lalu terlihat kesal. Sedangkan yang di tatapnya, hanya menunjukan giginya yang rapih. Bu nur cuma tersenyum melihat sikap putrinya yang nampak malu-malu.
"Jadi kalian sudah ...?" tanya Bu Nur menautkan jari telunjuknya, meledek dua orang di hadapannya.
Ratna mengangguk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia terlihat nampak malu-malu, saat sang ibu menggoda dirinya.
Sedangkan Adam tersenyum melihat sikap Ratna Yeng terlihat lucu baginya.
Bu Nur tersenyum, lalu merangkul putrinya.
"Ibu setuju dengan hubungan kalian. Tapi pesan ibu, jaga batasan pacaran kalian ya! Jangan melewati batas yang di larang!" Ratna mengangguk.
Adam tersenyum mendengar apa yang Bu Nur katakan. Ia mendapat lampu hijau, dan izin untuk hubungan mereka ke tahap yang serius.
"Baik Bu. Sayang sangat bahagia, mendengar ibu memberikan izin untuk hubungan saya dengan putri ibu. Jika Ratna sudah siap, maka secepatnya saya akan melamarnya." Jawab Adam dengan semangat, lalu mencium tangan wanita yang akan mejadi ibu mertuanya.
Ratna tersenyum melihat sikap Adam, yang begitu semangat untuk hubungannya. Padahal baru juga semalam, mereka berstatus pacaran.
"Yasudah kalau begitu kalian berangkat! Takut macet nanti, dan kalian telat," Bu Nur dengan tersenyum.
"Kalau saya telat sih gak masalah Bu. Tapi putri ibu ini yang saya khawatirkan," Adam sambil melirik Ratna.
Sedangkan Ratna hanya memanyunkan bibirnya, mendengar Adam yang terus meledek dirinya.
"Yasudah Bu, kalau begitu Ratna berangkat ya. Takut telat, soalnya masih karyawan baru," Bu Nur mengangguk.
Lalu Ratna mencium tangan sang ibu, begitupun juga dengan Adam. Lalu mereka naik motor, dan meninggalkan sang ibu.
Sedangkan Bu Nur tersenyum dan menggelengkan kepala. Saat melihat dua Adam dan Ratna. Ia teringat kembali saat muda dulu, saat sang suami terang-terangan mengatakan kepada orang tuanya. Kalau pak Syafi'i jatuh hati kepadanya.
__ADS_1
Sedangkan Gunawan saat ini sedang berada di dalam kamar. Ia sedang mencatat apa-apa saja, barang yang di butuhkan untuk rumah baru mereka.
Liana pun datang dengan membawakan secangkir kopi untuk suaminya, lalu di letakan di atas meja.
"Sayang, ini kopi dan kue untuk kamu,"
"Iya sayang, terimakasih," jawab Gunawan dengan menatap sang istri.
Lalu Liana menghampiri Gunawan, sedang asyik menatap layar handphone. Ia mengintip apa yang di lakukan oleh suaminya. Gun tersenyum melihat sang istri yang diam-diam melirik dirinya.
Gunawan menoleh ke arah sang istri, yang dimana Liana hanya tersenyum manis kepadanya. "Kenapa ngintip-ngintip segala? Kalau kepo, langsung tanya aja apa?"
"Hihihi ... iya maaf. Aku penasaran kamu sedang apa, dari tadi sibuk sama gadget aja? Masa sudah menikah, masih sibuk sama hape aja!" Liana dengan cemberut, membuat Gunawan terkekeh.
"Uuuuhhh ... istriku gemesin banget sih!" Gunawan mencubit pipi sang istri.
"Iihh ... sakit tau!" Liana dengan cemberut dan mengusap pipinya.
Gunawan terkekeh lalu mencium pipi sang istri.
Cup.
Liana pun tertawa, dengan sikap sang suami. "Lagi!" pintanya dengan nada manja.
"Lagi? Sini-sini mau berapa kali ciuman hemm? Aku siap, mau memberikan ke kamu sebanyak yang kamu minta." Goda Gunawan, membuat Liana mencubit pinggang sang suami.
"Iiihh ... genit banget sih kamu." Liana memukul lengan Gunawan dengan manja.
"Biarin, genit sama istri sendiri. Apa mau kita melakukannya lagi seperti yang semalam?" tanya Gunawan dengan menaikkan kedua alisnya.
Liana tersenyum malu, melihat sikap sang suami yang begitu genit kepada dirinya.
"Kan udah semalam?" tanya Ratna menggoda suaminya.
"Kurang sayang. Aku tidak berani melakukan itu sampai berkali-kali, dengan waktu yang sama, atau jarak yang dekat. Karena ada baby kita di dalam, tapi kalau sekarang kan sudah lama tuh waktunya. Mangkanya aku minta lagi," Gunawan dengan terkekeh geli, saat mengatakan itu.
"Kok kamu tau sayang?"
"Kan aku baca, artikel tentang kehamilan. Apalagi hamil muda, aku baca betul-betul. Saat aku mengetahui kamu sedang mengandung anakku." Gunawan menyentuh pipi Liana dengan lembut.
Liana tersenyum mendengar apa yang Gunawan katakan. Benar-benar pria di hadapannya, memang suami pengertian.
Dengan menatap wajah Gunawan, yang berharap. Akhirnya Liana pun mengangguk, dan Gun tersenyum kemenangan saat sang istri mengizinkan dirinya untuk melakukan pertandingan sessions ke dua.
__ADS_1
Jujur saja setelah sah menjadi suami istri. Rasa be* cinta pun rasanya berbeda. Karena saat mereka melakukan hubungan itu pertama kalinya, dalam keadaan tidak baik. Ada rasa takut di benaknya, namun setelah menikah, ia begitu menikmati, apalagi dengan wanita yang sangat ia cintai.
Bersambung....