
Meliana menatap ke arah Gunawan, dengan mata yang mengembun. Mungkin sebentar lagi bulir bening itu akan lolos dari pelupuk matanya.
Meliana juga mengulurkan tangan, ke Gunawan. "Gun, aku ...."
Liana tak sanggup mengatakan apapun kepada Gun, bibirnya bergetar saat menyebut namanya.
Adam dapat melihat wajah kesedihan pada pria di hadapannya, dan juga Meliana. Sedangkan Ratna yang saat itu, sedang mengobrol dengan Arga, melihat Liana sedang berhadapan dengan Gun, segera menghampiri mereka.
Gunawan melepaskan tangannya dari Liana. Lalu menatap ke arah Adam, lalu tersenyum kecil.
"Aku harus pergi." Ucap Gunawan, dan Liana menggelengkan kepala. " sekali lagi selamat ya." Setelah mengatakan itu, Gun langsung meninggalkan Meliana.
Bu Fitriana segera menghampiri putrinya, saat melihat Gunawan datang.
"Guun !" teriak Liana, namun yang memiliki nama tak menoleh.
Semua tamu undangan melihat ke arah Meliana. Bu Fitriana memegangi tangan putrinya, agar tak mengejar Gunawan.
"Liana," kata Ratna datang menghampiri Meliana.
"Saya bilang apa, jika kamu dan dia yang datang. Bisanya hanya membuat acara putri saya berantakan!" Bu Fitriana terlihat sangat marah.
Plak!
Bu Fitriana menampar pipi Ratna, membuat semua orang terkejut dengan perlakuannya. Begitupun juga Liana, Arga dan terutama Adam, mereka tercengang apa yang ibunya lakukan kepada Ratna.
"Kenapa ibu menampar saya? Apa salah saya, sampai ibu melakukan hal yang kasar kepada saya." Kata Ratna dengan menatap Bu Fitriana dengan tatapan marah.
"Apa ibu gak malu, jadi pusat perhatian para tamu, bertingkah seperti preman. Harusnya ibu sebagai orang tua, bisa memberikan contoh sebagai ibu yang baik, untuk putra dan putrinya. Tapi justru ibu memperlihatkan contoh buruk ke semua orang!" jawab Ratna dengan tersenyum ngeledek, membuat bu Fitriana terlihat kesal.
Meliana menangis, sedangkan Arga memegangi ibunya, agar tidak menyakiti Ratna.
"Liana, pak Adam aku harus pergi. Maaf acara kalian jadi berantakan seperti ini!" pamit Ratna.
Ratna pun juga berpamitan ke Arga, yang sejak tadi hanya menatapnya. "Kak, aku pamit ya,"
Setelah mengatakan itu, Ratna melangkah untuk meninggalkan rumah Meliana. Terdengar suara Liana yang memanggil dirinya. Namun ia tetap melangkah tanpa menoleh.
"Ratnaaa ...."
Meliana terus memanggil nama sahabatnya. Saat ingin mengejar, Bu Fitriana memegang lengan putri nya dengan sangat erat.
Sedangkan Adam ia ingin sekali mengejar Ratna, namun ia tak ingin membuat keluarganya malu. Kalau sampai ia menyusul gadis yang bukan siapa-siapa baginya. Apalagi dia melihat kalau Arga, juga menyukai gadis yang membuatnya tertarik.
Meliana merasa kepalanya terasa berat, dan pandangannya pun gelap. Semua terkejut, saat Liana yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
Adam segera mengangkat tubuh Liana dan membawanya ke rumah sakit. Ratna yang mendengar suara kepanikan segera menoleh, dan terkejut melihat Meliana di bawa oleh bosnya.
__ADS_1
Ratna berlari menghampiri Adam.
"Pak Adam, Liana kenapa?" Tanya Ratna dengan rasa khawatir, melihat sang sahabat tak sadarkan diri.
"Dia pingsan saat kamu pergi. Tolong buka pintunya!" pinta Adam dan Ratna mengangguk.
Adam meletakkan Liana di kursi belakang.
"Pak saya ikut ya, menemani Liana!" Ratna dengan memohon.
"Ngapain kamu masih disini!" suara Bu Fitriana membuat Ratna terkejut.
Adam melihat Bu Fitriana dengan tatapan tak suka. "Biarkan Ratna ikut. Ayo Na, kamu temani Liana!"
Ratna mengangguk dan masuk ke dalam mobil, duduk di samping Liana.
Adam dapat melihat wajah Ratna yang mencemaskan keadaan Meliana. Entah kenapa hatinya merasa tak tega dengan gadis yang selama ini selalu mencuri perhatiannya..
Kini Meliana sudah ditangani oleh dokter, Ratna, Adam dan seluruh keluarga Liana menunggu di luar ruangan.
Lalu keluar dokter perempuan, dari ruangan Liana berada. Lalu para keluarga menghampiri untuk mengetahui kabarnya.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya? Dia sakit apa, kenapa tiba-tiba dia tak sadarkan diri?" tanya Bu Fitriana beruntun.
Sang dokter pun tersenyum.
Bu Fitriana dan yang lain terkejut. Ratna menutup mulutnya, mendengar kalau Meliana sedang mengandung.
"Hamil, Dok?" tanya Arga dengan rasa tak percaya.
"Iya pasien sedang hamil, dan kandungannya sekarang berusia 9 Minggu," jelas dokter.
"Kalau begitu terimakasih Dok, penjelasannya," kata Arga, dokter itu mengangguk.
Setelah dokter itu pergi, tubuh bu Fitriana seketika menjadi lemas. Kalau putrinya saat ini sedang hamil.
Adam terlihat menunjukkan wajah marah, mendengar kalau Meliana sedang hamil. Dirinya merasa seperti di permainkan oleh keluarga Pujianto.
"Apa-apaan ini, Meliana hamil. Sedangkan saya hari ini bertunangan dengan dia? Ibu ingin mempermainkan keluarga saya, lalu menyuruh saya menikahi Liana dalam keadaan hamil. Yang jelas-jelas itu bukan perlakuan saya. Maaf saya tidak akan melanjutkan perjodohan ini lagi, saya juga akan beri tau keluarga saya, atas kabar ini!" Adam berkata dengan sangat marah.
Setelah berkata seperti itu Ada langsung meninggalkan, mereka.
Bu Fitriana tak dapat berkata apa-apa, saat Adam mengatakan itu. Seketika ia melihat Ratna dengan tatapan marah.
"Semua itu gara-gara kamu. Andai saja kamu tidak mengenalkan anak saya dengan dia, maka kejadian seperti ini tak pernah ada!"
Ratna menggelengkan kepala. Arga menahan tangan sang ibu, agar tidak sahabat Liana. "Bu, jangan sakiti Ratna lagi! Semua ini bukan seutuhnya salah dia,"
__ADS_1
"Diam kamu! Kamu dan adik kamu sama saja! Suka sekali mencintai orang miskin seperti dia!"
Ratna hanya menundukkan kepala, saat Bu Fitriana mengatakan hal itu. Hatinya merasa sakit, setiap kali mendengar hinaan darinya.
"Kak aku lebih baik pulang, sampaikan aku tidak bisa menemani dia," Arga mengangguk.
"Lebih baik kamu pulang, dasar gadis pembuat masalah!"
"Bu! Ratna bukan gadis seperti itu!" ucap Arga membela.
"Diam kamu!" bentak Bu Fitriana.
Ratna sangat kesal, dengan apa yang di katakan oleh Bu Fitriana. ia hanya mengepalkan tangannya, tanpa membalas perkataan wanita itu.
"Ratna sebaiknya kamu pulang saja. Maafkan istri saya ya!" timpal pak Pujianto, yang sejak tadi tak dapat berbuat apa-apa.
Ratna mengangguk, lalu meninggalkan mereka.
Tanpa disadari tanpa sepengetahuan mereka, Adam masih mendengarkan pembicaraan bu Fitriana yang selalu menghina Ratna.
Ratna keluar dengan rasa kesal dan sedih. Namun ia terkejut saat ada tangan lain menarik lengannya.
"Aaaa ... mmmmppphh..." Teriak Ratna namun Adam segera menutup mulutnya.
"Sssttt ... jangan berteriak. Sekarang kamu ikut saya!" Kata Adam, dengan tatapan tajam.
"Tapi Pak,"
"Jangan tapi-tapian!" Adam dengan tatapan tajam.
"Iya Pak," jawab Ratna, setuju dengan apa yang di katakan oleh pak bos.
Adam menggenggam tangan Ratna, lalu membawa ia ke parkiran.
Sedangkan Ratna nampak terkejut, Adam menggenggam tangannya tanpa di lepas sedikitpun.
Kini mereka sudah berada di depan mobil Adam, Ratna menghentikan langkahnya.
"Ada apa berhenti?" tanya Adam.
"Lepasin tangan saya Pak!"
"Kenapa?" tanya Adam.
"Karena bapak bertunangan dengan Liana, saya tidak ingin kalau ada yang melihat akan salah paham,"
Adam tersenyum sinis. "Tunangan. Ratna kamu tau sendiri, dia hamil pria lain. Mana mungkin aku melanjutkan hubungan aku dengan dia!"
__ADS_1
Bersambung ....