
Akhirnya Raka dan Ratna pun keluar dari kontrakan Gunawan. Membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya.
Liana dan Gunawan masih belum ada yang membuka suara, entah kenapa rasa canggung hadir kembali pada mereka.
Gunawan melihat Meliana yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya. Terlihat pundaknya bergetar, Gun tau kalau Liana menangis.
"Liana, kamu kenapa menangis sayang?" tanya Gunawan dengan lembut, membuat Liana semakin terisak mendengar sebutan Gun untuknya.
Gunawan menghampiri Liana, lalu menyentuh tangannya.
"Sekarang aku minta, lihat aku sebentar saja! Aku gak tau harus bagaimana jika kamu terus menangis, aku mohon tatap mata aku!"
Meliana menuruti apa yang Gunawan katakan, untuk menatapnya.
"Kamu kenapa hemm ? kok sedih 'kan sekarang ada aku di depan kamu." Gunawan menghapus air mata Liana.
"Maaf ya, aku sudah membuat kamu sedih dan kecewa?Aku gak mungkin mengkhianati kamu, karena di hatiku hanya ada kamu."
"Gun. Aku yang seharusnya minta maaf, aku sudah salah paham sama kamu? Karena ibu yang terus memaksa ku, aku jadi terus memikirkan hubungan kita. Tambah lagi aku melihat kamu, berduaan dengan gadis itu dan terlihat sangat bahagia,"
"Enggak papa, kalau aku di posisi kamu. Sudah pasti aku juga akan sangat marah, seperti kamu." Gunawan mengecup tangan Liana.
"Terimakasih Gun, kamu selalu mengerti aku. Jujur aku gak mau sampai hubungan kita berakhir, aku hanya ingin kamu yang menjadi milikku, aku sayang kamu."
"Aku juga lebih sayang kamu Liana. Jujur aku selalu memikirkan kamu, bahkan aku hampir gil* saat aku tak melihatmu," jawab Gunawan, lalu membawa Liana ke dalam pelukannya.
Gunawan merasa bahagia akhirnya ia bisa bertemu dengan Liana. Gadis dengan rambut panjang, mempunyai paras cantik dan mata indah membuat betah memandangi wanita yang selalu membuatnya bersemangat jika mengingat senyuman nya yang manis.
Meliana, Gunawan , Raka dan Ratna. Mereka sudah bisa lagi tertawa dan bercerita bersama.
Gunawan pun juga bisa dapat perhatian lagi dari Liana. Membuat dua para jomblo, yaitu Raka dan Ratna hanya bisa menghela nafas, melihat ke uwuhan dua insan yang sedang Bucin di depan mereka.
__ADS_1
"Huufh ... begini nih yang gue males kalau ngeliat dia berdua. Jengah banget gue!" gerutu Ratna, membuat Gunawan dan Liana tertawa melihatnya.
"Ya itu mah resiko elo Na. Siapa suruh jomblowati, jadi iri kan loe liat mereka," ledek Raka.
"Idih ... gak sadar! Dia sendiri aja jomblo juga, pake ngatain gue lagi!" celetuk Ratna dengan raut wajah kesalnya.
"Gue tau bro, jiwa jomblo loe saat ini meronta-ronta kan? Ngeliat mereka berduaan, apalagi Liana lagi suapin Gunawan!" jawab Ratna dengan mencebikkan bibirnya.
Raka sedikit kesal dengan Ratna yang terus saja nyerocos ngeledek dirinya. Sebenarnya ia juga ngerasa ingin sekali punya cewek yang lemah lembut dan perhatian kepadanya. Seperti Liana, yang begitu perhatian ke Gunawan.
Gunawan dan Meliana hanya terkekeh melihat dua sahabatnya saling bertengkar, seperti kartun Tom and Jerry.
"Kalian tadi kayanya akur banget, kenapa sekarang jadi berantem lagi? Sepertinya kalian cocok kalau bersatu?" timpal Gunawan yang ngeledek Raka dan Ratna.
"Apaan sih loe Gun! Main cocak, cocok aja!" sembur Ratna.
Gunawan dan Liana melihat Ratna memanyunkan bibirnya, terkekeh. Sedangkan Raka, mendengar jawaban Ratna, tak nampak kesal sedikitpun. Justru dia tersenyum melihat ekspresi gadis yang ia kenal jutek.
"Gimana, udah senang ngeliat pangeran Gunawan. Udah gak ngambek lagi kan?" goda Ratna.
"Iya gue udah senang lagi. Akhirnya kesalahpahaman antara gue dan dia bisa terselesaikan dengan baik. Sekarang gue bahagia banget Na." Kata Liana memegang tangan Ratna.
"Terimakasih banyak ya Ratna. Elo memang sahabat gue yang paling pengertian. Andaikan elo itu istri kakak gue, pasti gue akan lebih bahagia, dan merasa beruntung punya kakak ipar kaya elo." Liana memeluk sahabatnya.
Ratna mematung mendengar apa yang Liana katakan. Sebenarnya dirinya setiap kali melihat Arga hatinya selalu berdebar. Namun ia tak mau, jika mereka mempunyai hubungan nasib asmaranya akan sama dengan sahabatnya.
Kini Meliana sudah dijemput kembali oleh dua pria suruhan Bu Fitriana, dan Liana bersiap kembali berakting untuk bersikap biasa-biasa saja di hadapan mereka.
Kini mobil yang menjemput Liana sudah tak terlihat lagi, dan Ratna kembali masuk ke dalam rumahnya.
Sedangkan di kontrakan, Gunawan sedang tersenyum, mengingat dirinya sudah berbaikan dengan Liana.
__ADS_1
"Akhirnya, hubungan ku dan Liana sudah kembali membaik. Aku bahagia sekali rasanya. Mulai sekarang aku harus lebih semangat, untuk melanjutkan usaha ku untuk membuat bengkel sendiri!"
"Bukankah paman juga bilang akan berniat ingin membantuku. Sekarang aku harus memulainya, agar aku bisa membuktikan kalau aku serius untuk menikahi Liana!" ucap Gunawan dengan sungguh-sungguh.
Hari-hari terus berganti. Meliana dan Gunawan sudah tak pernah bertemu kembali, semenjak Liana datang dengan Ratna tempo hari. tekat Gunawan untuk membuka usaha bengkelnya pun terus berjalan dengan di bantu pamannya sebagian.
Tiga Minggu kemudian.
Gunawan kini sudah menyewa sebuah ruko, dan sudah memulai membuka usaha bengkel motornya. Meskipun masih bengkel baru, tapi banyak kendaraan yang minta di service di bengkel tersebut. Sudah pasti Raka sahabatnya, ikut membantu mengelolanya.
Jarak ruko milik Gunawan dengan pamannya cukup lumayan jauh. Jadi Gun tidak perlu khawatir kalau dirinya menutup rezeki bengkel pamannya.
Gunawan dan Raka juga tidur di sana, di lantai atas untuk tempat tinggal mereka. Gun ingin membuktikan, kepada keluarganya kalau dirinya mampu berdiri sendiri. Meskipun dirinya sudah di buang oleh mereka, dan tak di pedulikan lagi.
Sedangkan di rumah yang besar seorang gadis nampak termenung di balkon kamarnya. Ia terlihat sedih saat ibunya berniat ingin mengenalkan dirinya dengan seorang pria.
"Aku gak mau jika di jodohkan dengan laki-laki itu yang bernama Adam! Aku hanya ingin Gunawan, gak mau dengan yang lain!"
Rupanya gadis itu Meliana, ia di paksa oleh ibunya untuk menerima perjodohan dengan seorang pria yang bernama Adam, putra tunggal dari pasangan pak Alam, dan Bu Damayanti.
Adam yang memiliki nama panjang Adam Pratama, seorang pemuda berusia 27 tahun. Yang baru menyelesaikan kuliahnya di kota Surabaya, kini harus kembali untuk mengelola usaha restauran milik papanya.
Namun baru saja dua minggu ia kembali kerumah, orang tuanya sudah menyuruhnya untuk menerima perjodohan, dengan seorang wanita yang ia tak kenal.
"Kenapa ibu ingin sekali memisahkan aku dengan Gunawan. Sampai harus menjodohkan aku dengan anaknya teman ayah. Kenapa aku tidak bisa memilih pria pilihanku sendiri, untuk di jadikan suamiku!"
Meliana menangis meratapi nasibnya sendiri. Yang harus merasakan kekecewaan kepada wanita yang sudah melahirkan dirinya.
Tiba-tiba Meliana merasa kepalanya terasa sakit dan berdenyut. Memang beberapa Minggu ini, kesehatan sedang tidak baik-baik saja. Tubuh nya sering merasa lemas, dan membuatnya malas untuk melakukan aktivitas apapun.
Tiap hari yang di lakukan Meliana hanya berbaring, bahkan untuk makan saja ia sangat malas, dan meminta di antar ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Bersambung ...