Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Gunawan menemui Ratna


__ADS_3

Meliana menatap Adam dengan tatapan menyelidik, sebenarnya kalau bisa di bilang ia juga sangat tidak menginginkan perjodohan yang di lakukan oleh ibunya. Karena di hatinya saat ini hanya ada Gunawan, dirinya hanya ingin Gun yang menjadi miliknya, bukan pria lain.


"Maksud kamu, bicara seperti itu apa ya?" tanya Meliana, membuat Adam tersenyum.


"Langsung aja ke intinya. Jujur aja kalau aku juga gak suka dengan perjodohan ini. Aku juga tau kamu juga tidak menginginkan nya?" tanya Adam tanpa basa basi.


Meliana terkejut mendengar Adam bicara seperti itu. Lalu mereka akhirnya mengobrol untuk membicarakan tentang perjodohan itu.


Beberapa hari kemudian.


Gunawan yang mendapatkan kabar, kalau ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Ia pun langsung menjenguknya, untuk mengetahui kabar pria yang selama ini sudah mengacuhkan dirinya.


Pak Candra, menatap wajah putranya dengan rasa bersalah. Sudah berapa tahun ia mengacuhkan putra semata wayangnya, dari pernikahan istrinya pertamanya, yaitu Sarah.


Jangan salahkan Gunawan jika saat ini ia acuh kepadanya. Sejak tadi putranya hanya diam, dan setiap di berikan pertanyaan dan menjawabnya juga hanya seperlunya.


"Gun. Kamu mau kemana?" tanya pak Candra, melihat putranya sudah bersiap-siap.


"Pulang," jawab Gunawan seperlunya.


"Kamu tidak ingin berlama-lama menemani papa Nak?"


"Untuk apa? Bukankah Papa tidak ingin Gun berlama-lama, di saat aku sedang rindu Papa!" jawab Gunawan dengan dingin.


Ada rasa bersalah di benak pak Candra saat Gunawan mengatakan itu. Rasanya begitu sakit menusuk hatinya, saat seorang anak sebegitu benci kepada dirinya.


"Maafkan Papa Nak. Papa sudah membuat kamu terluka!"


"Ya benar kata Papa. Papah bukan hanya membuat aku terluka, tapi juga kecewa. Mungkin kalau bisa di bilang aku merasa menyesal, kenapa aku memiliki orang tua seperti kalian, yang membuang dan tak memperdulikan aku. Padahal kalian berdua itu orang tua ku, kalian yang melakukan kesalahan, membuat hubungan kalian berpisah, tetapi kenapa justru aku yang menjadi korban atas apa yang kalian lakukan." Jawab Gunawan dengan mengepalkan kedua tangannya, menahan marahnya.


Gun mengingat betapa sakit hatinya, ketika ia ingin sekali bersekolah sungguh-sungguh. Saat di pinta uang untuk membayar keperluan di sekolah, ia di usir oleh ayahnya. Padahal Gun melihat, anak dan ibu sambungnya habis berbelanja dan bersenang-senang.

__ADS_1


Sampai Gunawan terpaksa mengamen menyusuri jalan, hanya untuk mendapatkan uang.


"Sudahlah aku tak ingin mengingat pahitnya hidupku selama ini. Aku melakukan ini, karena aku masih menganggap kamu ayahku. Berkat kalian, aku bisa berada di dunia ini. Meskipun, aku harus di buang, dan selalu mendapat hinaan di luar sana. Aku akan tetap menganggap kalian orang tuaku!"


Sebenarnya Gunawan tak ingin bicara seperti itu, namun hatinya terlanjur sakit. Mengingat bertapa kejam mereka, kepada anaknya.


Setelah mengatakan itu, Gunawan pergi dari ruang rawat papanya. Sedangkan pak Candra teramat sakit saat mendengar putranya mengatakan seperti itu.


"Gunawan maafkan papa nak!" pak Candra menangis, menyesali perbuatannya kepada putranya.


Gunawan meninggalkan papa nya, lalu duduk di halaman rumah sakit. Ia teringat betapa sakit hatinya, mengingat orang tuanya sendiri tidak peduli kepadanya.


Flashback


Saat itu Gunawan masih duduk di bangku SMP, ia harus menjadi korban dari berpisahnya kedua orangtuanya. Ia harus memilih, ingin tinggal dengan siapa.


Selama tiga bulan Gunawan pernah tinggal bersama mereka dan selalu berpindah tempat. Namun Gun merasa tak nyaman, karena orang tua sambungnya, tak menginginkan ia untuk kalau bersama mereka.


Karena tak betah di rumah, Gunawan selalu keluar rumah, dan bermain dengan teman-teman yang nakal.


Semua yang dilakukan Gunawan tanpa sepengetahuan orang tua. Terkadang hasil menang balapan, ia gunakan untuk bayar sekolah.


Sampai di saat Gunawan kelas tiga SMA dan akan melakukan ujian sekolah. Musibah menimpanya, di saat balapan berlangsung ada aparat kepolisian menggerebek balapan liar, yang di mana Gun ikut sana.


Saat acara berlangsung, Gunawan melarikan diri. Namu sayang keberuntungan tidak berpihak kepadanya, motor yang Gun gunakan terjatuh. Ia pun di bawa ke rumah sakit, karena mendapatkan luka yang parah.


Pak Candra dan Bu Sarah datang menjenguk Gunawan, yang di mana sedang terbaring lemah. Awalnya Gun bahagia, karena orang tuanya masih peduli terhadapnya.


Namun bukan perhatian yang di


di dapatkan, justru Gunawan mendapatkan omelan dari ayah nya. Bukan hanya itu, mereka justru menjadi bertengkar di hadapan Gun, karena tidak ingin terbawa masalah.

__ADS_1


Bu Sarah menatap putranya merasa tak tega. Ia meminta Gunawan untuk tinggal bersama pamannya, yang tak lain kakak dari ibunya Gun.


Sejak dari sana lah, Gunawan ikut dengan pamannya. Ya hanya beliau yang mau menerima nya, bahkan dia juga yang menyuruh Gun untuk melanjutkan sekolah setara paket C.


Karena sejak kejadian itu, Gunawan sudah tidak boleh bersekolah, ia juga tidak ikut ujian di sekolah yang lama.


Karena pak Seno sangat menyayangi keponakannya, ia menyuruh Gun untuk melanjutkan ujian paket C, dan ikut membantunya dengan bengkel miliknya.


Flashback of.


"Apakah aku salah, kalau aku saat ini membenci papa! Bahkan dulu, di saat aku hampir tiada, bukan perhatian yang ku dapatkan, tapi justru cacian darinya!"


"Bahkan mama, aku tak tau di mana dia sekarang. Pergi tanpa kabar bersama keluarganya, dia pergi seperti tidak pernah memiliki aku yang darah dagingnya sendiri." Gunawan membuang nafasnya dengan kasar, yang membuatnya sesak.


"Huuuffhh .... Apa ini sudah nasib ku, untuk hidup seperti ini. Keluarga sudah tak peduli, dan pacar pun juga tak ada kabar. Kamu sedang apa sayang, aku rindu kamu. Akhir- akhir ini, aku merasa tak tenang. Aku selalu memikirkan kamu,"


Gunawan melihat ke atas, menatap langit biru terlihat cantik.


"Langit aja, bukan hanya ada satu warna yaitu biru. Ada awan berwarna putih menemani di dekatnya, hingga terlihat cantik dan sempurna saat di lihat. Sedangkan aku di sini, seorang diri merasa sepi dan sunyi." Gunawan tersenyum kecut meratapi nasibnya sendiri.


"Aku ingin ada warna lain dalam hidup ku, aku ingin merasakan kebahagiaan yang ku buat sendiri. Tetapi dengan wanita yang mencintaiku, yang mampu memberikan banyak warna yang indah nantinya." Gunawan mengusap wajah nya sendiri.


Tidak lamanya terdengar notifikasi pesan masuk, saat di lihat ada chat dari Ratna.


✉️ Ratna: "Elo di mana? Sekarang bisa gak datang ke cafe jalan xxx! Ada yang ingin gue bicarain sama elo, sekarang!!


Gunawan melihat jam yang berada di tangannya. "Jam dua siang. Mau ngapain ya? Kaya nya penting benget


✉️ Gunawan: "Oke gue datang. Tunggu ya, gak lama kok."


Lalu Gunawan meninggalkan rumah sakit lalu menemui Ratna, ke tempat yang di maksud.

__ADS_1


Kini Gunawan sudah sampai di sebuah cafe xxx, yang di sebutkan Ratna. Ia melihat kalau temannya sudah menunggu di sana, dan Gun segera menghampirinya.


Bersambung ...


__ADS_2