Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Liana datang


__ADS_3

Ratna terkejut mendengar pengakuan Liana, ada rasa tak percaya kenapa bisa mereka mengakhiri hubungannya. Padahal dirinya tau, kalau mereka berdua saling mencintai, dan akan berusaha mempertahankannya.


"Kalian putus? Kok bisa kenapa memangnya?" tanya Ratna dengan rasa tak percaya.


Liana menceritakan semuanya kepada Ratna, tentang hubungan mereka yang terpaksa harus berakhir. Ibunya mengancam akan menyakiti Gunawan, dengan orang suruhannya.


Ratna hanya menjadi pendengar, agar Liana bisa meluapkan kesedihannya saat ini.


Liana juga menceritakan, dirinya kecewa dengan Gunawan yang memiliki gadis lain selain dirinya.


"Hati gue sakit Na! Di saat gue mempertahankan hubungan untuk bersama dia. Tetapi dia malah tertawa bahagia dengan gadis lain." Derai air mata tak henti-hentinya.


Ratna tak percaya dengan apa yang Liana katakan.


"Gunawan selingkuh? Kayanya gue gak yakin kalau dia sampai berbuat seperti itu. Karena gue tau dia kaya gimana Liana!"


"Jadi elo gak percaya, dengan apa yang gue katakan ini?" Liana kecewa karena sahabatnya tidak mempercayainya.


"Bukan begitu Liana! Gue tau Gunawan bagaimana, dia sangat mencintai elo. Bahkan di saat dia sakit aja, yang dia pikirin itu ya hanya elo. Kalau dia benar selingkuh, dan mengkhianati elo. Gue juga pastinya akan marah sama dia. Karena elo teman baik gue," jawab Ratna.


Liana menundukkan kepalanya, saat sahabatnya bicara. Ratna menaikkan satu alisnya, dengan mengerutkan keningnya. Dirinya sedang memikirkan sesuatu, dan tersenyum.


Ratna membuka lemari pakaian, lalu mengambil sesuatu dari dalamnya.


"Mending elo ikut gue! Tapi sebelumnya elo pakai ini!" kata Ratna dengan memberikan Liana hoddie berwarna biru, serta topi berwarna hitam.


"Gue minta elo pakai ini! Gue mau ajak elo ke suatu tempat!"


"Kemana?" tanya Meliana, lalu ia melihat topi yang seperti ia kenal. "Ratna ini topi siapa? Kok kayaknya gak asin, kayanya gue pernah liat ini?"


Ratna bingung ingin jawab apa. Karena dia akan sangat malu, sampai Liana tau siapa pemilik asli topi itu.


"Udah jangan banyak tanya. Yang jelas itu gue pinjemin ke elo, sekarang elo pakai!" jawab Ratna dengan ketus.


"Iya!" jawab Liana memanyunkan bibirnya.


'Sebenarnya topi itu milik kakak elo Liana. Elo gak pernah tau, kalau gue dan kak Arga pernah dekat. Bahkan gue pernah sempat di kecewakan oleh Abang loe itu.'


Setelah Meliana siap, Ratna pun juga menggunakan jaket berwarna mocca. Lalu kedua memakai helmet dan naik motor.

__ADS_1


Liana tak tau, Ratna akan membawa dirinya kemana. Untuk saat ini Meliana pasrah karena ia sangatlah bosan di rumah terus menerus. Sudah sebulan ini ia tak kuliah, dan hanya terkurung di dalam kamar.


Liana mengenal jalan yang di tuju Ratna.


"Ratna, berhenti!" suruh Liana.


"Ada apa?"


"Elo mau bawa gue ke tempat Gunawan? kalau iya, gue balik aja!" Liana turun dari motor.


Terlihat Liana marah karena Ratna akan membawanya ke tempat Gunawan.


"Liana ..." panggil Ratna, yang melihat temannya sudah melangkah.


Liana pun berhenti, saat langkah kakinya semakin menjauh.


"Elo mau kemana? Kalau ada masalah di selesaikan, bukan lari. Jika elo ingin tau siapa gadis itu, loe harus dengarkan penjelasan dari dia!"


Liana diam mematung mendengar perkataan Ratna, membuat hatinya tercubit.


Dari arah berlawanan, ada motor berhenti di dekat Ratna, lalu memanggilnya.


Ratna pun menoleh mendengarnya, lalu melihat ke sumber suara yang memanggilnya.


"Kalian dari dari mana?" tanya Ratna.


"Dari sana," jawab Gunawan namun tatapan matanya melihat gadis di belakang Ratna.


"Gue habis nganterin Gunawan berobat. Dia sakit udah beberapa hari ini, namun di tahan sama dia. Sampai tadi pagi di lemes di kontrakan. Mangkanya gue antar dia ke dokter, itu juga gue paksa Na!" kata Raka menjelaskan, namun justru dia mendapatkan cubitan dari yang punya nama.


Liana yang mendengar Gunawan sakit, sekilas melihat pria yang masih duduk di atas motor. Memang terlihat jelas wajah Gun, terlihat pucat. Ada rasa tak tega di benaknya.


"Ya ampun, elo sakit Gun? CK ... kebiasaan di bilang jangan sampai lupa makan. Kerja terus, sampai makan aja gak ingat!" omel Ratna, layaknya seorang ibu.


Gunawan tersenyum kecut, sedang Raka hanya mengangguk.Yang Gun inginkan, Liana lah yang mengatakan itu kepadanya, dan mengkhawatirkan keadaannya. Namun sepertinya gadis itu acuh kepada dirinya.


"Kalau elo dan Liana, mau kemana emangnya?" tanya Raka, karena dia tau Gunawan sedang tidak baik-baik saja dengan kekasihnya itu.


"Niatnya gue mau ke kontrakan elo Gun. Tapi kayaknya gak jadi, Liana ngajak pulang," jelas Ratna, Gunawan tersenyum kecut mendengarnya.

__ADS_1


'Sampai segitunya kamu Liana sama aku. Bahkan untuk melihat aku saja kamu tak mau. Padahal aku berharap banget ingin melihat kamu, aku ingin menjelaskan semua tentang kesalahpahaman ini.'


Gunawan masih melihat Liana yang enggan menatap dirinya sedikitpun.


"Ratna jangan paksa Liana, jika dia masih belum ingin bertemu gue. Dengan melihatnya dia sekarang baik-baik aja, gue udah senang. Oh iya, bilangin ke gadis yang di sana. Bilangin cewek yang waktu itu dia liat naik motor sama gue, dia bukan siapa-siapa gue. Dia hanya anak bu Rahma tetangga baru gue, dia juga udah punya pacar ko! Bahkan cowoknya suka main ke kontrakan, dan nongkrong bareng sama gue dan Raka," terang Gunawan, membuat Meliana terdiam mendengarnya.


Ratna dan Raka hanya mengangguk dan tersenyum, karena dia tau maksud dari Gunawan bicara seperti itu.


"Kalau begitu gue balik ya! Bilangin ke Liana, kalau gue sayang banget sama dia. Gue seperti ini, karena gue kangen banget sama dia. Andaikan setelah bertemu gue, dia gak di hukum sama ibunya. Gue akan nekat untuk bertemu dengan dia tiap hari,"


Setelah mengatakan itu, Gunawan dan Raka pergi meninggalkan Ratna. Sedangkan Liana matanya mengembun saat mendengar penjelasan dari Gun.


Kini Gunawan sudah sampai di kontrakan, sedangkan Raka berada di dapur untuk membuat teh hangat untuk Gun yang sedang sakit.


Baru saja Gunawan duduk ingin berbaring, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Karena pintunya di tutup, lalu di buka oleh Gun.


Gunawan terkejut saat melihat ternyata Ratna dan Meliana yang datang. Ada senyuman tersemat di bibir Gunawan saat melihat Liana, gadis yang sangat ia rindukan.


"Sorry Gun, gue datang nganterin cewek yang sejak dari tadi nangis. Setelah elo pergi ninggalin dia tadi!" sindir Ratna, dengan senyuman ngeledek.


"Kalian pasti lelah? Kalau begitu ayo masuk dulu!" ajak Gunawan, Ratna dan Liana pun mengangguk dan duduk.


Rasanya Gunawan bahagia sekali saat ini bisa melihat gadis yang ia rindukan beberapa Minggu ini. Namun Gun hanya bisa menatapnya dalam-dalam, rasanya ingin sekali ia memeluk gadis di hadapannya ini.


Liana dan Gunawan saling menatap satu sama lain. Namun tak saling bicara, di antara mereka.


Raka yang baru saja membuatkan dua gelas teh, untuk dirinya dan Gunawan. Lalu ia melihat kalau ada Ratna yang datang, bersama Liana.


Raka melihat ke arah Ratna, yang sepertinya memberikan kode untuknya. Dengan menggerakkan bola mata, mengarah kesamping, dan menggerakkan kepalanya sekali ke arah luar.


Raka paham, akan kode yang di berikan Ratna kepadanya. Ia pun tersenyum dan mengangguk.


"Ekhem ..." Raka berdehem. "Eeh ... ada Ratna dan Liana. Yah gue cuma buatin teh nya cuma dua aja. Gue buatin lagi ya?" sambil meletakkan gelas berisikan minum berwarna coklat.


"Gak usah Raka! Mending elo temenin gue keluar aja! Biar Liana dan Gunawan bisa menyelesaikan masalah mereka." jawab Ratna dengan berdiri, dan memberikan kode kepada pria di hadapannya.


"Yasudah kalau begitu gue keluar sama Ratna aja ya Gun? Lebih baik, kalian selesaikan masalah kalian berdua. Biar gak semakin berkepanjangan, dan kesalahpahaman di antara kalian bisa terselesaikan," kata Raka.


Gunawan menganggukkan kepalanya, namun tatapannya masih mengarah kepada Meliana. Yang sejak tadi hanya menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Akhirnya Raka dan Ratna pun keluar dari kontrakan Gunawan. Membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya.


Bersambung ....


__ADS_2