
Sedangkan di dalam rumah yang besar, seorang pria duduk termenung dan sangat gelisah. Karet sejak tadi ia menghubungi seseorang, namun tak ada jawabannya.
"Aku rasa memang sepertinya Ratna sedang menghindar dariku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Adam bertanya-tanya seorang diri.
Dua hari kemudian.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Adam sedang menunggu kedatangan seseorang yang sejak kemarin ia nantikan.
Saat itu juga terdengar ketukan pintu dari luar, saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita yang di nantinya kini hadir di depan mata.
"Ratna," Adam melihat penampilan gadis di hadapannya sedikit berbeda, tak menggunakan seragam kerja.
"Kok kamu gak pakai seragam?" tanya Adam.
"Eeem ... maaf pak sebelumnya. Saya ingin menyerahkan ini ke bapak." Ratna memberikan sebuah map.
Adam membulatkan matanya saat ia melihat yang di mana surat itu berisikan surat pengunduran diri.
"Maksud kamu apa? Kamu ingin mengundurkan diri dari sini?" tanya Adam.
"Iya Pak, saya mengundurkan diri dari restauran ini. Maafkan saya pak kalau selama ini saya membuat kesalahan,"
"Alasan kamu resign dari sini kenapa? Kamu gak pernah melakukan kesalahan apapun, apa saya yang punya salah ke kamu?" tanya Adam.
"Maaf Pak, tapi saya tak ingin ada kata-kata yang gak mengenakkan dari anak-anak. Melihat kedekatan kita di sini,"
Adam segera menghampiri Ratna, lalu menggenggam tangannya.
"Apa ada yang berkata buruk ke kamu? Ooh saya ingat apa yang terjadi sama kamu kemarin, karena ulah anak-anak yang lain?" tanya Adam, dengan tatapan menyelidik.
Ratna diam tak menjawab, dan itu membuat Adam yakin. Kalau ada sesuatu yang terjadi kepada gadis di hadapannya.
"Berarti benar anak-anak yang kemarin yang membuat badan kamu jadi basa?" tanya Adam. "Kalau iya aku tidak mengizinkan kamu resign dari sini!"
"Enggak bisa Pak, saya akan tetap resign dari sini. Karena lusa saya sudah harus mulai bekerja di tempat lain!" Jawab Ratna kekeh.
__ADS_1
Adam menatap Ratna lekat-lekat, sebenarnya ia tak ingin kalau gadis yang ia sukai pergi. Tapi ia harus tetap profesional, dengan berat hati. Akhirnya ia pun terpaksa membiarkan Ratna resign dan mulai bekerja di tempat yang lebih baik.
Dua minggu sudah berlalu.
Ya hari ini adalah hari pernikahan antara Gunawan dan Meliana. Mereka terlihat bahagia saat duduk di kursi pelaminan, sebagai pasangan suami-istri.
Kedua orang tua Gunawan pun turut hadir menemani putranya. Liana sangat bahagia karena saat ini, pria yang selama ini ia cintai duduk bersanding bersama dirinya.
Meliana terlihat sangat cantik, sampai Gunawan tak sedikitpun melepaskan tangannya. Mimpinya kini menjadi kenyataan duduk bersanding dengan wanita yang sangat ia cintai.
Sedangkan sejak tadi, Arga yang sedang menemani para tamu, dari jauh ia selalu memperhatikan Ratna yang sedang asyik mengobrol dengan Bima. ( pria yang pernah menolong Liana melompat dari pagar tembok).
Penampilan Ratna tak kalah cantik dengan sang pengantin. Penampilan tomboinya kini berubah terlihat menjadi gadis feminim, karena tertutup dengan makeup.
Ratna juga menggunakan dres brokat modern, berwarna krem, ia terlihat berbeda dan nampak cantik.
Sedangkan Bu Fitriana sejak tadi hanya duduk di bersembunyi. Ia tak ingin berada di atas pelaminan menemani Liana. Karena hatinya masih belum bisa menerima Gunawan menjadi menantunya.
Arga sejak tadi mencari keberadaan ibunya, namun ia melihat ibunya sedang duduk di luar gedung tempat acara berlangsung.
"Bu, kenapa di sini? Liana dan ayah sejak tadi mencari ibu." Arga duduk menemani sang ibu.
"Aku tau, tapi setidaknya hargai putri ibu di sana. Kasian Liana Bu, sejak tadi nyariin ibu." Arga menyentuh tangan sang ibu.
"Jika Adam datang, dan melihat ibu tak berada di sana. Aku yakin, dia akan curiga, karena ibu tak menemani dua pengantin yang sedang berbahagia. Ibu mau Adam mengetahui kalau ibu terpaksa menikahi mereka berdua?" Arga dengan tatapan serius.
Bu Fitriana nampak berpikir apa yang di katakan sang putra mang benar.
"Yasudah kalau begitu ibu akan ke sana," jawab Bu Fitriana membuat Arga tersenyum.
Fitriana hendak melangkah namun di urungkan, lalu menatap wajah sang putra.
"Ibu tau sejak tadi kamu diam-diam memperhatikan Ratna. Ibu tak ingin kalau kamu sampai menjalin hubungan dengan gadis itu! Liana dengan Gunawan, lalu kamu dengan dia. Lebih baik ibu tiada, daripada melihat kalian semua. Setelah ini ibu akan mengurus pernikahan kamu dengan gadis pilihan ibu. Suka atau tidak, mau atau enggak, ibu tidak peduli dengan penolakan kamu itu!"
Setelah mengatakan itu, Bu Fitriana langsung meninggalkan Arga seorang diri. Duduk termenung memikirkan perkataan sang ibu, yang begitu sangat tak menyukai Ratna.
__ADS_1
'Apa aku harus menerima permintaan ibu. Tapi hati ini masih menyimpan namanya. Aku menyesal sudah mengakhiri hubungan ku dengan Ratna. Mungkin dia juga sudah kecewa, karena melihat aku bersama Naura saat itu.'
Arga mengacak rambutnya sendiri, merasa frustasi dengan permintaan sang ibu, untuk tidak mendekati Ratna kembali. Tapi hatinya tak dapat di bohongi, kalau ia masih berharap gadis itu bisa kembali kepadanya.
Saat Arga menoleh, ia terkejut kalau di belakangnya ada Ratna.
'Ratna sejak kapan dia di situ. Apa dia sudah lama, dan mendengar ibu bicara.'
Arga berjalan menghampiri Ratna, dan menatapnya lekat-lekat.
"Kamu ko di sini Na, sejak kapan?" tanya Arga.
"Sejak ibu mu mengatakan, beliau tidak menyukai kedekatan kamu dengan ku," Arga terkejut mendengar pengakuan Ratna.
"Ratna, maafkan ibu yang_ _ "
Arga tak melanjutkan pembicaraannya, karena Ratna sudah memotongnya.
"Kak, jika ibumu tak menyukai aku, aku paham. Aku minta kamu dengarkan permintaan ibumu itu!" ucap Ratna.
"Kenapa kamu mengatakan itu, apa sekarang sudah ada laki-laki lain yang menyinggahi hati kamu? Ratna hanya menundukkan kepalanya, tanpa menjawab apapun.
Arga pun tahu maksud dari diamnya Ratna itupun tersenyum kecut. "Aku mengerti dengan diamnya kamu itu, sepertinya saat ini memang ada laki- laki, lain yang bersinggah di hati kamu,"
"Aku hanya tidak ingin, sampai kamu berani menentang pemerintah ibumu. Demi aku, yang hanya seorang gadis miskin bahkan ibumu sangat tidak menyukai aku. Aku lebih baik mundur, aku tidak ingin kamu menjadi durhaka karena kamu selalu bertengkar dengan beliau,"
"Maaf kak, kamu masih bisa mendapatkan perempuan yang lebih cantik dariku. Mungkin yang bisa ibu mu sukai. Karena aku juga bukan gadis yang beliau inginkan, aku sadar diri siapa aku. Maka maafkan aku kak, jika aku pernah menyakiti hati kamu."
Dengan berat hati, Ratna harus mengatakan itu ke Arga. Setelah itu ia pun berbalik dan hendak meninggalkan pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.
Namun pertanyaan Arga mengentikan langkah Ratna.
"Apa kamu sudah memiliki pria lain, yang sudah mengisi hati kamu?" tanya Arga
Ratna terdiam mendengar pertanyaan yang di berikan oleh Arga.
__ADS_1
Memang tak bisa di pungkiri, kalau hatinya saat ini sudah tertulis nama pria lain. Memang nama Arga masih ada, namun ia berusaha untuk menghapus namanya karena tidak mudah baginya untuk jatuh cinta.
Bersambung....