Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Memperjuangkan Meliana


__ADS_3

Biasanya ia sangat menyukai wangi parfum yang di pakai Gunawan, karena itu parfum yang ia pilihkan untuk suaminya. Namun kenapa sekarang ia tak menyukai bau nya. Rasanya sangat menyengat, dan membuat perutnya seperti di kocok.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Gunawan pun selesai mandi, dengan rambut yang masih basah kembali. ia mencoba mendekati istrinya kembali, dirinya ingin melihat reaksi sang istri.


"Sayang, bagaimana masih Bu tak?" sambil memeluk Liana.


Liana mengendus, seperti anak kucing.Mambuat Gunawan terkekeh dengan sikap sang istri yang sangat menggemaskan baginya .


Liana tersenyum manis layaknya anak kecil yang di berikan permen. "Kamu gak bau lagi, euummm ... segar wanginya." Masih betah mengendus-endus.


"Sayang, kamu mau ke bengkel ya?"


"Iya kenapa sayang." Gunawan seraya memeluk sang istri.


"Aku lagi ingin kamu di rumah? Aku ingin ngajak kamu temani aku beli es teler, di kedai bakso pak Joko." Pinta Liana dengan manja sambil memeluk sang suami.


"Loh, kalau aku di rumah. Terus makanan yang kamu siapkan bagaimana?"


"Ya udah aku ikut ke bengkel, tapi siang hari kita pulang. Aku mau kamu temani aku beli yang aku bilang tadi!" ajak Liana dengan tersenyum manis.


"Yasudah iya, aku gak bisa nolak kalau kamu minta nya seperti ini." Mencubit hidung sang istri.


"Yasudah sekarang kita siap-siap buat ke bengkel. Aku juga harus cek keadaan di sana, kasian Raka pasti kebingungan costumer bengkel. Katanya lagi rame,"


"Yasudah aku ikut di bengkel, kita di sana," jawab Liana, Gunawan tersenyum mendengarnya.


Kini tepat jam 11 siang, Gunawan dan Liana pun datang ke bengkel. Dengan membawa makanan untuk para karyawan.

__ADS_1


"Hallo abang-abang semua. Maaf ya baru dateng!" ucap Gunawan, saat berada di bengkel.


"Santai Gun. Bos mah bebas mau datang kapan. Ya gak?" Kata Raka meledek Gunawan.


"Gun, barang ada yang stok nya tinggal dua. Gue tulis di catatan, dan gue satuin sama list barang yang kemarin."


"Ya udah catat aja. Tapi elo udah order sekalian sama body motor MX yang udah di pesan kemarin sore." Gunawan mengajak istrinya untuk masuk kedalam.


"Udah, bos tenang aja." Raka mengacungkan jari jempolnya.


"Ya udah bagus. Ow iya ini Liana masak banyak. Jadi siang kalian jangan beli makan ya, makan ini aja!" pesan Gunawan.


"Alhamdulillah siap bos. Liana makasih ya, sampai buatin makan siang segala,"


"Iya Raka sama-sama." Jawab Liana yang masih menggenggam tangan Gunawan.


"Sekarang kamu istirahat di sini dulu ya! Aku mau liat di luar sebentar,"


"Ya sayang," jawab Liana


Gunawan pun meninggalkan Liana sendiri, ia bergabung dengan Raka dan yang lainnya.


Setelah makan siang, Gunawan mengajak Liana untuk mencari apa yang di minta ibu hamil. Akhirnya mereka menemui yang menjual es teler, dan Gun menghentikan motornya.


Karena penjual es teler yang di minta Liana juga menjual bakso. Saat itu mereka melihat Adam dan Ratna sedang berada di sana, Gunawan segera menghampiri mereka berdua.


"Woy! Asyik banget makan bakso nya?" Ratna dan Adam pun menoleh, lalu terkejut karena ada dua sahabatnya.

__ADS_1


"Liana, Gun. Kalian di sini juga? Ayo sini duduk." Adam menggeser duduknya.


Liana dan Gunawan pun akhirnya duduk bersama Ratna dan Adam. Pesanan Liana pun datang dan mereka menikmati bersama sambil mengobrol.


Di sela-sela obrolan, Liana menceritakan tentang acara keluarga nya.


"Na, tiga hari lagi elo datang ya! Ke acara pertunangan kak Arga dengan gadis bernama Tiara!" ajak Liana, membuat mereka bertiga terdiam.


Terutama Ratna, yang mematung. Membuat Adam dan Gunawan melihat raut wajah Ratna yang merasa tak nyaman.


"Eemm ... gue gak bisa kayanya. Soalnya gue ada acara keluarga juga," Ratna dengan alasannya.


"Ow gitu, acara apa memangnya. Padahal gue berharap elo datang dan temani gue!"


"Sorry ya Nak. Gue gak bisa dateng, apalagi elo tau nyokap elo gak suka sama gue. Kalau gue kesana gue gak mau sampai ada keributan kaya kemarin," jelas Ratna.


Liana pun mengerti, dan diam tak melanjutkan perkataannya.


"Ya sudahlah kalau elo enggak bisa datang juga gak papa," Ratna pun tersenyum.


Liana menyentuh perut Liana yang sudah terlihat sedikit menonjol. Karena usia kandungannya saat ini sudah memasuk hampir empat bulan.


"Gun, gue cuma titip pesan ke elo. Jangan elo buat sahabat gue ini sedih, apalagi sampai nyakitin perasaannya. Gue gak terima kalau elo sampai buat Liana terluka!" ancam Ratna.


"Tenang Na, gue akan jaga sahabat loe ini. Sampai mata gue tertutup untuk selamanya. Baru gue gak bisa melindungi dia. Tapi yang jelas gue sayang banget sama istri gue ini, gue akan bertahan walau banyak cobaan yang mencoba menghancurkan rumah tangga gue ini. Gue akan tetap memperjuangkan Meliana agar tetap menjadi milik gue."


Terlihat ada wajah ketulusan saat Gunawan mengatakan itu ke Ratna.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2