
Meliana mengangguk, lalu Bu Fitriana membawa putrinya keluar, yang di mana para tamu dan calon besan nya menunggu di taman yang sudah di hiasi bunga-bunga.
Gunawan datang bersama dengan Ratna, namun baru sampai depan pagar, Gun menghentikan langkahnya.
"Kok berhenti di Gun? Ayo kita masuk!" aja Ratna.
Gunawan menggelengkan kepalanya. "Enggak Na, elo aja yang masuk gue tunggu di sini."
Ratna menatap wajah Gunawan, terlihat menyedihkan. "Kalau begitu kita pulang aja ya Gun!"
Gunawan menggelengkan kepalanya.
"Elo masuk aja, gue tunggu sini. Gue juga gak akan pergi, gue cuma lihat dari kejauhan aja. Pasti elo paham kan? Kalau elo pulang, Liana akan sedih karena elo gak hadir di acaranya."
Ratna nampak berpikir, kalau apa yang di katakan oleh Gunawan benar adanya.
"Ya udah kalo begitu, gue masuk ke dalam ya. Gak papa kan elo di sini?"
"Ya gak papa Na, gue liatnya dari sini.Ya udah sana masuk!" suruh Gunawan dan Liana mengangguk.
Ratna masuk kedalam halaman rumah Liana yang terlihat besar. Di mana dari kejauhan Adam terkejut saat melihat gadis yang ia kenal.
'Dia di sini? Apa dia kenal dengan keluarga Liana?" Adam bertanya-tanya dalam hatinya.
Hingga Adam melihat kalau Arga menghampiri Ratna, dan menyambutnya.
"Ratna, kamu datang. Bukankah kamu lagi sakit?"
"Iya, kaki ku memang masih sakit, tapi sudah bisa di bawa untuk jalan. Gak ada salahnya kan, kalau aku melihat Liana bertunangan dia sahabatku?"
"Yasudah kalau begitu, ayo masuk yuk! Meliana sudah menunggu kamu." Ajak Arga, dengan menggandeng tangan Ratna.
Ratna sendiri tertegun, melihat tangannya di gandeng oleh pria yang pernah menyinggahi hatinya. Arga tersenyum, lalu mengajaknya untuk menghampiri Meliana.
Pandangan Adam mengikuti kemana arah Ratna melangkah, entah kenapa ia sangat tak menyukai Arga menggenggam Ratna.
'Apa dia memiliki hubungan dengan Ratna? Kalau memang iya, harapan ku untuk mendekati dia semakin menjauh. Di tambah lagi, saat ini aku bertunangan dengan gadis yang tak ku sukai. Gugur sudah harapanku, berapa kuat aku menolak acara ini. Tidak ada hasilnya, tetap saja semua berjalan rencana para orang tua.' Gumam Adam dalam hatinya.
Meliana menghampiri Ratna, lalu memeluknya, sambil terisak-isak. Entah kenapa rasanya ingin sekali ia mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya itu.
"Aku tidak ingin ini terjadi. Aku hanya ingin dia Na," bisik Meliana, dengan sangat pelan.
"Iya aku tau. Semuanya ini udah menjadi keinginan orang tua kamu." Jawab Ratna, menguatkan Liana dengan suara pelan.
"Sudah jangan menangis ya! Sekarang kita jadi pusat perhatian para tamu." Bisik Ratna, dan Liana pun mengangguk, seraya mengusap air matanya.
__ADS_1
Liana tetap berusaha tersenyum, begitu pun juga Ratna.
Tidak lama, Adam pun datang menghampiri Ratna, Liana dan Arga.
"Ratna," panggil Adam.
Semua menoleh ke sumber suara, Ratna terkejut kalau pria yang memanggilnya ternyata orang yang di kenal.
"Pak Adam," jawab Ratna.
"Ratna, kamu kenal dengan calon suami Liana?" tanya Arga.
Ratna lebih terkejut, saat Arga mengatakan kalau Adam adalah pria yang akan jadi calonnya Meliana.
'Jadi pak Adam ini calon suaminya Liana?' Ratna bertanya-tanya dalam hatinya.
"Iya, aku kenal. Pak Adam ini, pemilik restoran tempat aku bekerja," jawab Ratna, di angguki oleh Adam.
Meliana dan Arga, mengangguk dan ber oo saja. Ratna menjadi salah tingkah, saat Adam terus menatapnya, tanpa berkedip.
'Kenapa gue jadi salah tingkah begini, saat pak Adam ngeliatin gue seperti itu. Ini lagi kenapa gue deg-degan segala sih. Inget Na, dia itu calonnya Meliana!'
Meliana melihat Adam yang menatap Ratna tanpa berkedip. Ia tau tatapan pria di sampingnya itu penuh isyarat.
Lalu Arga menggandeng tangan Ratna. Namun baru dua langkah, ternyata Bu Fitriana menghampiri mereka, dengan tatapan tak suka ke arah gadis yang di samping putranya.
"Ngapain kamu datang kesini?" tanya Bu Fitriana dengan tatapan tak suka, melihat Ratna.
"Bu Ratna datang atas permintaan Liana dan aku. Please jangan paksa dia untuk pergi!" jawab Arga, dengan memohon.
Adam mendengar suara Bu Fitriana yang ketus, seperti tidak menyukai keberadaan Ratna.
Meliana segera menghampiri mereka, lalu berdiri di samping ibunya.
"Bu, Ratna datang karena aku yang menyuruhnya. Jadi biarkan dia di sini, bukankah aku sudah menuruti permintaan ibu!" timpal Liana dengan membela kakaknya.
"Kalian itu, selalu saja membela gadis miskin ini." Bu Fitriana dengan senyuman menyeringai.
Ratna sebenarnya sangat malas jika harus berdebat dengan Bu Fitriana, yang tak ada habisnya.
Akhirnya Ratna melepaskan tangannya dari Arga, dan ingin berbalik. Namun tangan itu di genggamannya kembali dengan kakak sahabatnya.
"Aku minta kamu agar tetap di sini!" ucap Arga menggenggam tangan Ratna.
Bu Fitriana tentunya sangat tidak suka dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Sedangkan Meliana baru pertama kalinya, melihat kakaknya bersikap seperti itu kepada gadis. Karena selama ini dia melihat kakaknya selalu cuek kepada wanita yang di kenalkan kepadanya.
__ADS_1
Ratna hanya menundukkan kepalanya, saat Arga, mengatakan itu di hadapan ibunya.
"Ada apa ini?" tanya Adam tepat di belakang Ratna, dengan suara dinginnya.
"Tidak ada apa-apa nak Adam. Ibu hanya khawatir gadis miskin ini, akan mengganggu acara pertunangan kalian," ucap Bu Fitriana dengan tatapan sinis ke arah Ratna.
Adam menatap Ratna, yang sedang menahan rasa kesalnya.
"Maaf semuanya. Sepertinya aku memang harus pergi." Ratna melepaskan tangannya, namun Arga menggelengkan kepalanya.
"Ratna, kamu jangan pergi!" pinta Liana dengan memohon.
Adam melihat kalau Liana begitu menginginkan Ratna untuk tetap di acaranya.
"Ratna, kamu sebaiknya di sini. Anggap saja ini perintah untukmu, dari atasan kamu!" kata Adam, dengan raut wajah yang serius.
Bu Fitriana, terkejut mendengar apa yang Adam katakan.
"Apa maksud kamu Dam? Kalau gadis ini ...?" tanya Bu Fitriana dengan tak percaya.
"Ratna karyawan saya. Jadi saya minta biarkan dia di sini!" jawab Adam dengan raut wajah dinginnya.
"Baik, saya membiarkan dia di sini. Ingat Ratna, jangan membuat ulah di acara ini!" ancam Bu Fitriana.
Ratna hanya mengangguk, Liana pun langsung memeluk sahabatnya dengan rasa bahagianya. Adam dan Arga pun tersenyum melihat dua wanita yang terlihat bahagia.
Kini acara di mulai, yang di mana Adam memasangkan cincin di jari Liana. Dari kejauhan seorang pria melihatnya dengan rasa kekecewaan.
Ratna melihat Gunawan dari kejauhan. 'Pasti saat ini hati elo sedang merasakan sakit.'
Kini acara pun selesai, yang di mana para kerabat sedang menikmati hidangan yang di sediakan.
Saat itu juga Gunawan datang menghampiri Liana dan Gunawan. Meliana terkejut saat melihat pria yang ia rindukan saat ini ada di hadapannya.
"Gun," ucap Liana.
Gunawan tersenyum kecut, melihat jari Liana sudah terpasang cincin.
"Selamat ya, atas pertunangan kamu. Semoga kalian bahagia." Ucap Gunawan mengulurkan tangannya.
Meliana menatap ke arah Gunawan, dengan mata yang mengembun. Mungkin sebentar lagi bulir bening itu akan lolos dari pelupuk matanya.
Bersambung....
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak Kalianππππ€...
__ADS_1