
Sedangkan Adam sendiri juga khawatir dengan kondisi Ratna, yang sejak tadi mengurung dirinya di kamar. Karena waktu juga sudah malam, akhirnya ia berpamitan untuk pulang.
Meliana yang sudah sampai rumah, masih duduk termenung. Saat mendengar cerita dari Bu Nur, tentang orang tuanya. Ia tak menyangka kalau ibunya ternyata seorang yang sudah merusak kebahagiaan orang lain.
Gunawan sebenarnya merasa khawatir dengan kondisi istrinya, yang sejak tadi terlihat murung.
'Kenapa ibuku bisa sejahat itu. Pantas saja ibu selalu membenci Ratna, rupanya karena sahabatku putri dari ibu Nur.'
Liana terkejut saat tangan sang suami, menggenggamnya. Gun memberikan senyuman, lalu Meliana pun menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Aku mengerti, kamu saat ini sedang kecewa kepada ibu. Tapi kamu harus ingat, ada baby kita di sini. Kalau kamu sedih dia juga ikut merasakan kesedihan yang kamu rasakan." Sambil membelai lembut rambut Liana.
"Iya Gun, aku masih gak percaya aja, kalau ayahku ternyata pernah menikah dengan ibu Nur. Mereka hidup bahagia, namun karena datang ibuku, kebahagiaan mereka hancur. Lalu aku di sini, ternyata anak dari seorang pelakor." Liana kembali terisak.
"Uuuusssttt ... jangan bilang begitu. Yang jelas kamu itu, wanita yang aku cintai. Aku tak peduli dengan setatus kamu apa? Mau anak pelakor, penjahat, atau rentenir. Yang penting bagiku, kamu wanita baik, dan aku sangat mencintai kamu." Gunawan menghapus air matanya.
Meliana tersenyum, lalu memeluk sang suami, pria yang selalu membuatnya tersenyum.
Hingga keesokan harinya, di kediaman rumah pak Pujianto. Arga, Bu Fitriana dan pak Puji, sedang menikmati sarapan pagi. Namu tak ada sepatah katapun yang keluar dari mereka.
Arga masih tak percaya, saat mendengar cerita ayahnya. Kalau ia pernah menikah dengan Bu Nur. Seorang ibu, dari wanita yang sangat ia cintai.
"Ibu peringatkan kamu, jangan pernah coba-coba menentang apa yang menjadi keputusan ibu. Kamu akan tetap menikah dengan Tiara, kalau tidak kamu akan tau sendiri!" ancam sang ibu, saat membuka obrolannya.
"Apa ibu belum puas, karena sudah banyak menyakiti perasaan orang. Mau sampai kapan Bu, aku harus menjadi korban atas keegoisan ibu?"
Bu Fitriana menatap Arga murka, karena tak suka dengan apa yang di katakan putranya.
"Sudah menjadi kewajiban anak, mengikuti apa yang ibu katakan!"
"Tapi tak harus menyakiti perasaan anak Bu! Aku sejak dulu mencintai Ratna. Tetapi ibu selalu menyuruhku untuk berjalan dengan Zahra, dan Niken. Gadis yang tak pernah aku sukai, lalu sekarang Tiara. Aku di suruh menikah dengan dia, sampai kapan Bu aku selalu menuruti keinginan ibu!" Arga terlihat marah dengan Bu Fitriana.
"Bahkan, aku juga sangat malu. Ternyata ibuku adalah seorang pelakor, yang sudah menghancurkan kebahagiaan orang lain!"
Karena tak terima, Bu Fitriana menggebrak meja. "Kamu berani menentang ibu, dan mengatakan ibu seorang pelakor!"
__ADS_1
"Nyatanya apa? Benar kan?" Arga dengan mata merah.
Sedangkan pak Pujianto yang sejak tadi terdiam. Ia menggebrak meja, membuat Arga dan Bu Fitriana terkejut.
"Cukup! Waktu sarapan saja, kalian masih ribut. Kenapa tidak bisa diam sedikit gitu, ada saja perdebatan di rumah ini. Arga lebih baik kamu masuk ke kamar, atau mulai aktivitas kamu seperti biasa!"
Argan pun bangun dari duduknya dan meninggalkan sarapannya. Sedangkan oak Puji menatap sang istri dengan tatapan marah. Bu Fitriana masih menunduk, karena menahan rasa kesalnya.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Melukai hati putra, dan putri. Apa kamu ingin membuat hati mereka hancur. Aku tak ingin putra ku sampai melakukan seperti Meliana. Aku tak ingin Arga bisa nekat, atau lebih dari Liana. Sampai itu terjadi, bukan aku berjanji akan menceraikan kamu!" ancam pak Pujianto.
Setelah mengatakan itu, pak Pujianto pergi meninggalkan sang istri yang nampak kesal.
Lanjut ke Ratna.
Pagi ini, Bu Nur dan pak Syafi'i sedang menunggu Ratna keluar dari kamar. Setelah putra bungsunya pergi ke sekolah, kini mereka masih menunggu putri kesayangannya untuk sarapan bersama.
Ratna keluar kamar dengan rapih, yang siap akan berangkat bekerja. Namun tidak seperti biasa, penampilannya sangat berbeda.
"Nak, kamu berangkat kerja?" tanya pak Syafi'i, dan Ratna mengangguk.
Bu Nur terlihat bersedih, saat melihat putrinya menjawab hanya seperlunya.
"Kalau sakit jangan di paksa untuk kerja," ucap Bu Nur.
"Aku gak papa," jawab nya, dan Bu Nur hanya bisa menghela nafas saja.
"Yasudah sekarang kamu sarapan dulu ya! Ibu sudah membuat masakan kesukaan kamu. Nasi goreng bakso, dan ini bakwan udang untuk kamu." Bu Nur meletakkan bakwan di atas piring makanan Ratna.
Ratna menikmati sarapan tak berselera seperti biasanya. Sebenarnya ia merasa kurang sehat, namun jika ia berada di rumah ia tak ingin membuat ayah ibunya khawatir.
Namun lagi-lagi ia teringat tentang rahasia sang ibu yang pernah menikah dengan ayahnya Liana. Dirinya kembali merasa kesal, saat mengingat akan kata-kata Bu Fitriana.
Kepala Ratna terasa berdenyut, ia memijat keningnya. Bu Nur melihat putrinya.
"Kamu sakit Nak? Kepala kamu pusing?"
__ADS_1
"Sedikit, tapi gak papa ko," jawabnya.
"Yakin kamu gak papa, kalau di bawa kerja? Lebih baik kamu istirahat di rumah saja Nak!" pinta pak Syafi'i.
"Enggak Yah, aku masih bisa kerja." Ratna tersenyum.
Ketika Ratna hendak bangkit dari duduknya, tiba-tiba kepalanya terasa berat, dan pandangan gelap. Saat itu juga, ia pun terjatuh dan tak sadarkan diri.
Pak Syafi'i dan Bu Nur panik, melihat putrinya terjatuh dan pingsan.
"Astaghfirullah, Ratna kamu kenapa Nak." pak Syafi'i menghampiri sang putri dan menepuk pipinya.
"Yah. Ayo kita bawa Ratna ke kamar!" Bu Nur mulai cemas.
Pak Syafi'i, mengangkat Ratna dan membawanya ke dalam kamar. Saat itu juga terdengar suara deru mesin mobil berhenti di depan rumahnya.
"Assalamu'alaikum ..." salam dari luar.
"Waalaikumsallam, iya sebentar!" pintu terbuka terlihat Bu Nur yang membuka pintu.
Adam pun mencium tangan Bu Nur, sebagai bentuk rasa hormat.
"Syukurlah kamu datang Nak Adam," Bu Nur terlihat cemas.
"Ada apa Bu?" tanya Adam.
"Ratna pingsan, ibu dan ayah ingin membawa ke rumah sakit,"
"Astaghfirullah. Yasudah kalau begitu biar saya antar ke rumah sakit!" Bu Nur mengangguk, lalu mereka masuk ke dalam kamar, dan melihat kondisi Ratna.
"Ayo Yah, Bu. Kita bawa Ratna ke rumah sakit. Biar saya bantu membawa Ratna ke mobil." Pak Syafi'i pun mengangguk.
Adam pun segera mengangkat Ratna ala bridal style, ke dalam mobilnya. Lalu mereka segera membawa Ratna ke rumah sakit.
Bersambung....
__ADS_1