Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Menunggu Gunawan


__ADS_3

Dengan cepat, Bima mengendarai motor sportnya melewati depan rumah Liana. Yang di mana ada tiga penjaga di sana.


Liana merasa lega, saat sudah melewati depan rumahnya. Lalu berlanjut Bima mengendarai motor sportnya, menuju tempat yang di maksud Meliana.


Setelah 30 menit, ketempat yang di maksud. Kini Bima sudah sampai di sebuah ruko yang cukup besar, Liana minta berhenti.


"Sudah sampai Bim, aku turun di sini aja!" kata Liana.


Bima pun menghentikan motornya, dan Liana pun turun. Ia melihat di sebrang jalan terdapat bengkel yang cukup ramai.


"Di sini tempatnya?" tanya Bima, Liana pun mengangguk. "Ya sudah kalau gitu selesai kan masalahnya dengan baik-baik. Terus jangan panjat- panjat tembok lagi!"


Liana tersenyum saat Bima meledeknya, karena ia melihat dirinya panjat tembok.


"Iya tadi terpaksa aku melakukan itu. Karena ibu ku melarang untuk menemuinya. Aku cuma ingin mengatakan sesuatu ke dia," jawab Liana.


"Ya sudah kalau begitu aku lanjut lagi ya, mau ke kampus !" kata Bima.


"Iya sebelumnya terima kasih atas bantuannya, sudah mengantar ku sampai sini ya,"


"Iya sama-sama Mel, lagian tadi aku kebetulan liat kamu. Gak ada salahnya dong nolongin." Bima tersenyum. "Ooh iya gue mau tanya? Teman kamu yang cantik itu ko gak keliatan sih?"


"Siapa, Ratna?" tanya Liana, dan Bima mengangguk dan tersenyum.


"Kamu suka sama dia?" tanya Liana sekali lagi.


"Ya kagum aja, dengan kesederhanaan dia. Dia baik dan cantik pula. Sampaikan salam ku dengannya. Kalau perlu, aku minta nomor hapenya sama kamu!" kata Bima terus terang mengagumi Ratna.


"Maaf, handphone ku di pegang oleh ibu," jawab Liana menundukkan kepalanya.


"Oooh, ya sudah next time aja deh. Sekarang kamu selesaikan masalah kamu dulu. Kalau begitu aku cabut ya Mel," pamit Bima.


"Iya terima kasih ya Bima, nanti aku share nomor dia deh." Jawab Liana, Bima tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


Kini bima kembali melanjutkan mengendarai motornya, menuju kampusnya. Sedangkan Liana berdiri menatap bengkel Gunawan dari kejauhan.

__ADS_1


Liana nampak ragu dengan kedatangannya menuju bengkel tempat Gunawan. Takut Gun marah, karena ia tak datang menemuinya saat itu.


"Aku ke sana gak ya? Kaki ku juga baru terasa sakit ini." Ucap Liana menyentuh lututnya.


Akhirnya Liana diam menunggu di tempat, berharap kalau Gunawan melihatnya di sana.


Gunawan sebenarnya melihat seseorang menggunakan hoddie berwarna army, menunggu di pinggir jalan. Tapi ia tak tau kalau itu Liana. Memang pikiran nya sejak beberapa hari ini, memikirkan Meliana yang tak ada kabar. Tapi kenapa setiap orang dia lihat seperti kekasihnya.


"Gun, kira-kira siapa ya orang yabg berdiri di sana." Tanya Raka temannya Gunawan sambil menunjuk ke arah sebrang jalan.


"Gak tau juga, sejak tadi gue liatin dia diam di tempat aja gak kemana-mana," jawab Gunawan yang sejak tadi memperhatikan orang di sebrang.


Gunawan tak mengenalinya, karena Liana masih menggunakan penutup kepalanya, hanya masker penutup mulutnya yang di buka.


"Ya udah kalo gitu, gue ke warteg dulu. Laper banget gue,"


"Sip. Sekalian titipan gue juga!"


"Iya, bos,"


"Gun!" Raka memanggil dengan berteriak.


Gunawan menghampiri Raka. "Ada apaan lagi loe balik?"


"Orang yang berdiri itu cewek loe ternyata. Mending elo ke sana deh! Kasian banget gue liatnya," kata Raka, dan Gunawan segera menghampiri Liana dengan mengendarai motor.


Kini Gunawan sudah berada di dekat wanita yang sangat ia rindukan. Liana melihat gun yang datang merasa bahagia.


Liana segera memeluknya, dan menangis. Gunawan merasa heran, atas sikap Meliana yang menangis.


"Sayang kenapa kamu di sini? Kok gak langsung ke sana?" tanya Gunawan saat melihat Liana sudah tenang.


"Kaki ku sakit, gak bisa melangkah ke sana. Mangkanya aku menunggu di sini, berharap kamu di datang,"


"Yasudah Ayo aku bantu, kamu pucat banget!" Gunawan merasa tak tega melihat Liana.

__ADS_1


Saat Gunawan menyentuh lengannya, Liana meringis kesakitan.


"Aaaww ... Iiiissshhh ...."


Gunawan pun melepaskan tangannya, karena takut menyakitinya.


"Kamu kenapa si sayang? Kaki dan tangan kamu bisa sakit seperti ini?"


Liana nampak ragu ingin mengatakan apa yang sudah terjadi pada dirinya, kepada Gunawan.


"Kenapa kamu diam aja? Bilang dong Yank, jangan bikin aku khawatir begini?"


"Aku tadi saat kesini sebenarnya, aku gak melalui pintu depan rumah. Aku nekat panjat tembok, secara diam-diam," jelas Liana dengan sedikit rasa takut.


Gunawan mendengarnya, dengan rasa tak percaya. "Maksudnya kamu panjat tembok? Kamu melarikan diri dari rumah?" Liana mengangguk.


Gunawan terkejut mendengar jawaban Liana. Dirinya bingung harus bagaimana, pasti dia akan di salahkan oleh keluarga Meliana.


"Kamu kenapa harus melarikan diri segala si sayang?" tanya Gunawan, membuat Liana hanya menundukkan kepalanya.


"Ini akan semakin rumit, untuk aku menyelesaikan masalah, tentang hubungan kita!" Gunawan terlihat menahan rasa kesalnya.


Sebenarnya Gunawan tidak ingin, kalau Liana sampai nekat melarikan diri. Dia berjanji ingin menemui keluarga Meliana dengan cara baik-baik.


Liana melihat raut wajah kecewa pada Gunawan, tentang dirinya yang melarikan diri. Ada rasa takut di benaknya.


"Maaf jika aku hanya bikin rumit untuk hubungan kita. Aku hanya ingin memberitahu kamu, kalau handphone ku di pegang ibu. Dan kemungkinan aku juga akan dijodohkan oleh pria lain,"


Gunawan terkejut mendengar, kalau Liana akan dijodohkan dengan laki-laki lain. Hatinya tak rela, jika wanita yang ia cintai menjadi milik orang lain.


"Aku hanya ingin bilang itu. Maaf jika aku sudah membuat kamu kecewa, sepertinya aku haru kembali pulang aja." Jawab Liana, yang berniat pulang kembali dan meninggalkan Gunawan.


Meliana berusaha melangkahkan kakinya sekuat tenaga, ia merasa begitu sakit saat ke dua kakinya di gerakkan.


Gunawan mengejar Liana, yang belum terlalu jauh. Gun menahan tangannya, agar kekasihnya berhenti. Ia ingin membicarakan tentang hubungannya itu dengan baik-baik bukan dengan emosi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2