Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Melarikan diri


__ADS_3

Adam tersenyum sinis. "Tunangan. Ratna kamu tau sendiri, dia hamil pria lain. Mana mungkin aku melanjutkan hubungan aku dengan dia!"


Ratna tak berani menjawab, karena apa yang di katakan oleh atasannya memang benar.


"Ratna ini di luar, jangan bicara formal seperti itu. Panggil saja dengan nama ku!" perintah Adam.


"Tapi Pak?"


"Jangan ada tapi-tapian. Sekarang aku antar kamu pulang ya! Kaki kamu masih sakit kan?" tanya Adam.


"Hanya sakit sedikit," jawab Ratna.


"Ya udah kalau begitu aku antar kamu pulang. Tapi sebelum itu, kita makan dulu ya. Aku lapar, tadi belum sempat makan soalnya!" ajak Adam, dan Ratna mengangguk.


Adam tersenyum dengan jawaban Ratna, sedang Ratna menatap atasannya yang sedikit aneh.


Kini kedua masuk ke dalam mobil, saat melihat tempat bertulisan Ayam penyet sambal geledek, Mak nyooos. Adam menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu mereka keluar dan masuk ke dalam warung tenda yang bergambar ikan, bebek dan ayam.


Adam memesan menu makan dan minuman untuk mereka. Setelah itu Ratna pun mencari tempat duduk lesehan.


"Bapak makan di sini?" tanya Ratna.


"Kenapa memang, gak boleh. Atau kamu gak suka makan di tempat seperti ini? Kalau iya, kita cari tempat lain aja !" jawab Adam.


"Bukan-bukan begitu pak. Maksud saya ..."


"Ekhem ..." Adam memberikan kode ke Ratna untuk tidak memanggil sebutan pak.


"Kenapa Pak tenggorokan bapak kering, biar saya pesankan minuman ya." Ratna hendak bangun dari duduk, namun Adam menahan tangannya.


Adam menggelengkan kepalanya. "Saya sudah bilang, jangan panggil saya dengan formal!"


Ratna melihat raut wajah Adam kembali dingin. "Panggil aku kamu. Ini perintah!"


Ratna membelalakkan kedua matanya, saat mendengar atasannya bicara seperti itu.


"Tapi kan Pak?"


"Jangan membantah! Kamu bisa bicara dengan Arga dengan aku kamu, kenapa dengan saya tidak!"


"Ya ampun, ini bos gue kenapa ya? Apa karena dia tau Liana hamil, lalu dia jadi begini karena akan batal nikah? Ya sudahlah dari pada ribet, mending di iya kan saja.' Batin Ratna.


"Iya, aku minta maaf!" jawab Ratna dengan cemberut.


Melihat ekspresi Ratna, Adam pun tersenyum. Saat itu juga menu dua ayam penyet dan minuman es jeruk pun datang.

__ADS_1


Tanpa melanjutkan pembicaraan, akhirnya mereka berdua pun menikmati nasi dengan menu ayam penyet tersebut.


Next Liana.


Meliana yang sudah di perbolehkan pulang, lantas langsung di interogasi oleh Bu Fitriana.


"Siapa anak, yang ada di dalam kandungan kamu Liana? Apa itu Gunawan, anak brandalan itu? Jawab!" bentak Bu Fitriana.


Liana menundukkan kepalanya, sambil menangis. "Jawab Liana, kamu jangan hanya menangis saja! Apa anak yang di dalam kandungan itu anak Gunawan?"


Meliana mengangguk, Arga dan pak Pujianto membelalakkan matanya, dengan jawaban Liana. Bu Fitriana pun terlihat sangat murka, mendengar jawaban sang putri.


PLAK!


Bu Fitriana menampar Meliana.


"Benar-benar kamu Liana, kamu membuktikan kalau kamu menentang ibu. Sampai-sampai kamu hamil anak dari laki-laki brandalan itu?"


"Ibu minta kamu gugu* kan kandungan kamu itu!" Meliana, Arga dan pak Pujianto, terkejut dengan apa yang Bu Fitriana katakan.


"Bu. Apa yang kamu katakan? Kamu menyuruh menggugurkan kandungannya?" tanya pak Puji, dengan nada marah.


Sedangkan Meliana hanya menangis mendengar apa yang di katakan oleh ibunya.


"Bu, tapi itu dosa. Sampai menghilangkan janin yang tak berdosa?" timpal Arga membela adiknya.


"Tapi aku tidak mau, melakukan apa yang Ibu perintahkan. Aku akan tetap menjaga kandungan ku ini. Karena ini, anak dari laki-laki yang aku cintai." Kata Liana seraya menyentuh perutnya yang rata.


"Baik kalau begitu, rawat lah anak itu. Tetapi siap-siap untuk melihat ibu yang terbujur kaku di depan kalian!" ancam Bu Fitriana.


"Bu! Ngomong apa sih kamu. Kenapa hati kamu bisa keras seperti batu! Dari pada malu, lebih baik kita cari dia untuk bertanggung jawab!" pak puji memberikan usul, namun sang istri seperti tak terima dengan apa yang di katakannya.


"Pokoknya, ibu ingin kamu gugurkan kandungan kamu. Akan ibu Carikan seseorang yang akan, menghilangkan dia dari perut kamu!" ancam Fitriana.


Setelah mengatakan itu, Bu Fitriana keluar dari kamar putrinya. Sedangkan Liana hanya menangi, pak Pujianto dan Arga nampak bingung dengan masalah di keluarga mereka.


Beberapa menit kemudian, Bu Fitriana datang ke kamar Liana. Pujianto dan Arga bertanya-tanya, apa yang ibu nya lakukan kepada Meliana.


Bu Fitriana mengambil baju salin Liana, lalu di letakkan ke dalam tas.


"Sekarang kamu ikut! Ibu sudah menemukan tempat untuk melakukan ab*rs*. Ibu tak ingin anak itu ada di kandungan kamu." Kata Bu Fitriana memegang tangan Liana.


"Enggak Bu! Aku tidak mau melakukan itu, dosa Bu!" Liana menolak.


"Kamu bilang apa, dosa? Kamu sekarang ingat dosa, saat kalian melakukannya apa kalian ingat, Hah!" bentak Bu Fitriana.

__ADS_1


"Bu, justru itu aku tak ingin menambah dosa ku. Apalagi sampai melakukan ab*rs*. Aku gak mau." Liana menggelengkan kepala.


"Kepalang tanggung. Sekarang kamu ikut dengan ibu." Bu Fitriana menarik tangan Liana dengan paksa.


"Enggak Bu. Kak, ayah tolong aku!" Liana memohon pertolongan ke pada dua pria di dekatnya.


"Bu, jangan lakukan itu kepada putri kita. Ayah tak tega melihat ibu, sampai hati melakukan itu ke Liana." Pak Pujianto menahan tangan Meliana.


"Diam kamu Yah. Ini akan jadi urusan ibu, kamu jangan ikut campur!"


"Bu, jangan seperti ini! Kasian Liana Bu, dia juga sedang sakit." Arga menahan sang ibu, namun yang di dapatkan hanya tatapan membunuh darinya.


"Pergi kamu! Adikmu dan kamu sama saja Arga. Mencintai orang yang salah. Setelah urusan Liana selesai, ibu akan mengurus perjodohan kamu dengan gadis pilihan ibu!"


"Bu,"


"Pergi." Bu Fitriana mendorong Arga, lalu ia melanjutkan menarik tangan Liana. "Sekarang ikut ibu!"


Meliana menolak untuk ikut namun tarikan tangan sang ibu, sangat kuat. Sampai akhirnya Liana berada di dalam mobil. Lalu Bu Fitriana membawa putrinya entah kemana.


Sedangkan Arga dan Pujianto mengikuti mobil yang di bawa ibunya dari belakang.


Ketika di perempatan jalan, mobil yang dikendarai oleh Bu Fitriana berhenti, karena lampu merah.


"Kenapa lampu merah segala sih!" dumel Fitriana.


Karena Meliana melihat ada kesempatan untuk melarikan diri. Dengan cepat ia membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Bu Fitriana terkejut melihat Liana yang sudah melarikan diri.


"Liana!" teriak Bu Fitriana.


Meliana berlari, menyebrang jalan. Agar ibunya tak dapat mengejarnya. Ratna yang berada di dalam mobil bersama Adam, dari kejauhan ia melihat Liana berlari.


"Astaga Liana. Kenapa dia berlari seperti itu, bukannya dia di rumah sakit?"


Adam yang mendengar Ratna bicara tentang Liana, ia segera mengikuti kemana arah pandangannya.


"Ratna, itu bukannya Liana? Mau kemana dia berlari seperti itu?" tanya Adam.


"Aku gak tau Mas," jawab Ratna, membuat Adam tersenyum mendengarnya.


"Aku harus mengikuti dia." Saat Ratna hendak membuka pintu mobil, Adam menahannya.


"Mau kemana? Lihat lampu sudah hijau, kamu ingin tertabrak mobil. Diam di tempat, kita ikuti dia dari mobil!" Ratna pun mengangguk dengan apa yang Adam katakan.


Mobil yang di belakang mereka, memberikan bunyi klakson. Dengan cepat Adam mengendarai mobilnya untuk mengikuti arah Liana berlari.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2