
Memang tak bisa di pungkiri, kalau hatinya saat ini sudah tertulis nama pria lain. Memang nama Arga masih ada, namun ia berusaha untuk menghapus namanya karena tidak mudah baginya untuk jatuh cinta.
"Ya saat ini ada pria lain di hatiku. Aku harap kamu bisa melupakan aku dan menuruti apa yang ibumu katakan. Aku tidak ingin, hubungan antara orang tua dan anak, jadi menjauh karena kamu mencintai gadis seperti aku. Maaf sekarang aku harus kembali ke acara Liana dan Gunawan."
Setelah mengatakan itu, Ratna meninggalkan Arga, menuju parkiran. Ia segera menghapus air matanya, agar tak terlihat semua orang. Saat itu juga Adam melihat gadis yang selama ini ia rindukan lalu ia segera menghampirinya.
Adam merasa heran karena melihat Ratna sedang menghapus air mata.
"Ratna seperti habis menangis, sebenarnya dia kenapa? Apa ada masalah." Adam bertanya-tanya sebelum menghampirinya.
"Ratna," panggil Adam.
Ratna terkejut, dan ia segera menghapus air mata, dan tersenyum.
"Pak Adam," jawab Ratna.
"Eem mulai! Aku sudah bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu. Lagian kita sekarang udah gak satu kerjaan 'kan? Kenapa masih manggil bapak!"Adam terlihat menahan kesalnya, membuat Ratna tersenyum mendengarnya.
Memang setelah Ratna berhenti dari restauran milik Adam. Mereka jadi sering berbalas pesan, hanya saja tak saling bertemu.
"Iya maaf, Mas Adam," ucap Ratna, membuat sang empunya tersenyum mendengarnya.
"Ratna kamu kenapa di sini? Memang acara Liana sudah selesai?"
"Belum Mas, tadi aku habis menerima panggilan telpon. Karena di dalam berisik jadi aku di sini." Jelas Ratna, dan Adam pun mengangguk.
"Yasudah yuk temani aku masuk. Soalnya gak ada yang aku kenal, cuma kamu aja," ajak Adam, dan Ratna mengangguk.
Namun saat Ratna hendak melangkah, ia hampir terjatuh. Beruntung ada Adam di sampingnya, jadi ia tak terjatuh.
Saat itu juga Arga melihat adegan itu saat Ratna dan Adam saling bertatapan dengan jarak yang sangat begitu dekat. Ia benar-benar sangat panas menyaksikan kedekatan antara mereka berdua.
Dengan cepat Arga pun segera meninggalkan Ratna dan Adam yang masih saling bertatapan.
"Kamu gak papa Na?" tanya Adam, membuyarkan lamunannya.
"Enggak papa, terimakasih ya."Ratna meringis, menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Adam kembali.
"Mungkin karena aku gak biasa kali ya, pakai Haighil, kaya gini. Kaki ku sampai sakit, jadi kurang keseimbangan. Terimakasih ya, untung ada kamu Mas. Kalau enggak, udah pasti aku akan jatuh tadi,"
"Iya sama-sama. Lagian kamu gak biasa pakai hak tinggi, ko di pakai sih?" tanya Adam, masih memegangi Ratna.
"Iya, sebenarnya ini pemberian Liana saat tiga bulan yang lalu. Katanya aku di suruh tampil feminim, dia ingin lihat aku seperti ini," jawab Ratna dengan memanyunkan bibirnya, membuat Adam tersenyum melihatnya.
"Tapi gak mesti menyiksa diri kamu sendiri tau." Adam mencubit pipi Ratna. "Terus kamu nyaman gak pakai ini?"
"enggak, tapi aku gak enak sama Liana,"
"Liana pasti mengerti kok. Dia gak akan marah, kalau sahabatnya sampai menahan sakit karena haighil nya. Sekarang kamu lepas sepatu kamu itu!"
"Hah ... lepas, terus aku pakai apa kalau di lepas?"
"Udah lepas aja!" Ratna pun melepaskan Haighil nya, Adam tersenyum melihatnya. "Sekarang kamu tunggu sini ya!"
Adam berjalan membawa sepatu hell milik Ratna, lalu berjalan menuju mobilnya. Tak lamanya ia membawa sepatu flat berwarna hitam.
Sebelumnya, Adam juga mengoleskan salep untuk luka lecet di kaki Ratna, yang menggunakan hell terlalu lama, membuat jari kelingking dan tumit sedikit lecet.
Setelah itu Adam memasangkan sepatu flat itu di kaki Ratna.Ia tersenyum saat melihat pemberiannya ternyata cocok di kaki gadis yang ia sukai.
Ratna di buat speechless dengan apa yang di lakukan oleh Adam. Sikapnya yang selalu manis kepadanya, bahkan sampai saat ini pria ini selalu baik kepadanya.
"Sudah,dan cocok di kaki kamu. Sekarang bagaimana nyaman gak kamu gunakan sepatunya?" tanya Adam.
"Nyaman, sangat nyaman. Terimakasih Mas," Ratna dengan senyum manisnya.
"Sama-sama. Yasudah kalau begitu, yuk kita masuk!" ajak Adam, yang mengulurkan tangannya, berharap agar Ratna menyambutnya.
Ratna pun tersenyum dengan sikap laki-laki di sampingnya. Yang tak pernah menyerah untuk mendekati dirinya, meskipun ia selalu menghindar darinya. Tapi pria itu tak pernah berhenti untuk tetap mendekatinya.
Lalu Ratna mengulurkan tangannya, ke Adam. Ada senyuman di bibir mereka, dan tangan mereka pun saling berpegangan tangan.
Sebenarnya Adam tak percaya, kalau ternyata Ratna membalas tangannya. Biasanya gadis itu selalu menghindar, setiap kali ia mendekat. Bahkan senyuman manisnya pun juga di berikan untuk dirinya.
__ADS_1
Kini Ratna dan Adam jalan saling bergandengan tangan, membuat Arga, Bima dan Raka menatap dengan rasa kecewa.
Mereka menghampiri kedua mempelai pengantin yang sedang berbahagia, dan bersalaman.
"Selamat ya, akhirnya kalian sudah menjadi pasangan suami-istri. Saya senang melihat Liana melabuhkan hatinya pada pria yang sangat dia cintai." Ucap Adam bersalaman kepada Gunawan dan Liana.
"Iya, semuanya juga berkat kamu juga. Sampai kita berdua direstui dan duduk di sini. Semoga kalian cepat menyusul ya!" timpal Gunawan, dan Adam terkekeh mendengarnya.
"Amiin, semoga aja gadis di samping saya ini segera menjawab perasaan saya." Goda Adam membuat Ratna tersenyum malu.
"Pokoknya sekali lagi selamat ya," Adam tersenyum.
Lalu mereka pun berfoto bersama kedua mempelai pengantin dan setelah itu turun dari pelaminan.
Malam harinya, acara pernikahan pun selesai dan kedua pengantin pun sudah kembali ke rumah.
Meliana dan Gunawan sudah berada di dalam kamar. Gun melihat Liana yang nampak malu-malu saat di tatapnya.
"Kamu kenapa sayang? Kok aku baru liat ya kamu malu-malu seperti itu. Aku jadi ingat senyuman kamu pertama kali, saat aku lihat kamu," goda Gunawan.
"Jujur hatiku saat ini, berdebar sangat cepat. Aku juga bingung, padahal kita bukan pertama kali kenal?" jawab Liana dengan terkekeh.
Gunawan duduk berdekatan dengan Liana yang kini sudah berstatus sebagai istrinya. Ia menggenggam tangan gadis yang selam ini sangat ia cintai.
"Rasanya, hari ini aku sangat bahagia. Kamu tau gak, selain aku bisa menikah dengan kamu. Gadis yang selama ini aku cintai. Adalagi yang membuat ku senang,"
"Apa?" tanya Liana dengan tak sabar.
"Mamah dan papa ku hadir di hari bahagia ku ini. Keluarga ku juga semuanya hadir, aku merasa hari ini mereka semuanya mengakui diriku, yang aku pikir aku sudah di buang mereka selama ini," terlihat bulir bening di mata Gunawan.
Liana pun ikut merasakan kebahagiaan yang di rasakan Gunawan, sekaligus merasa terharu mendengar cerita suaminya.
"Bahkan, mamaku memberikan ku rumah. Meskipun rumah yang tidak besar. Tapi aku senang beliau masih peduli denganku, dan menganggap aku ada." Bulir bening itupun berhasil lolos di pelupuk matanya.
Liana mencoba menghapus air matanya, untuk pertama kalinya ia melihat Gunawan mengeluarkan air matanya. Yang benar-benar ia curahkan dari hatinya.
Bersambung ....
__ADS_1