Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Rasa bersalah


__ADS_3

Gunawan mengejar Liana, yang belum terlalu jauh. Gun menahan tangannya, agar kekasihnya berhenti. Ia ingin membicarakan tentang hubungannya itu dengan baik-baik bukan dengan emosi.


"Sayang ..." panggil Gunawan, dan Liana tak menatap wajahnya.


"Aku minta maaf! Karena aku, kamu jadi seperti ini. Sekarang ikut aku ya! Untuk obati luka kamu." Gunawan menyentuh lembut tangan Liana.


Gunawan mengajaknya ke kontrakan, dan meminjamkan pakaian untuk Meliana. Karena akan sulit mengobati luka dengan pakaian yang tertutup menutupi lukanya.


Gun tertegun melihat luka memar, di lengannya, terutama di bagian mata kaki sampai bengkak karena terkilir.


"Ya ampun Liana, ini hampir bengkak loh. Jangan ulangi lagi ya! Loncat dari pagar rumah, apalagi tinggi tanpa pelindung!" Meliana hanya mengangguk.


"Iya," jawab Liana.


Liana meringis saat lukanya di pegang oleh Gunawan. Dengan sabar Gun mengobati luka memar yang ada di lengan dan kakinya.


Setelah mengobati, Gunawan menatap Liana yang hanya menundukkan wajahnya sejak tadi.


Gunawan menyentuh tangan Liana, lalu di genggamannya.


"Sekarang aku minta kamu jangan sedih lagi! Apalagi sampai kabur dari rumah, lewat pagar. Jangan ya! Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, apalagi sampai seperti ini!"


"Jangan khawatir, hubungan kita akan baik-baik aja. Aku dan pamanku akan datang melamar kamu, untuk menjadi istriku. Aku juga akan membawa kedua orang tuaku," kata Gunawan membuat Liana tersenyum mendengarnya.


"Benarkah Gun? Jika kamu dan keluarga akan datang ke rumah, untuk melamarku?" tanya Liana dengan tak percaya.


"Iya sayang." Jawab Gunawan seraya mengecup tangannya.


Liana tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari kekasihnya.


"Kamu sudah makan belum?" Liana menggelengkan kepalanya.


"Yasudah yuk makan! Tadi aku nitip makanan sama Raka. Karena tangan kamu lagi sakit, aku suapin ya?" Liana tersenyum dan mengangguk.


Kini mereka sedang menikmati sebungkus nasi berdua, Gunawan menyuapi Liana menggunakan tangannya. Benar-benar perhatian Gun kepada Meliana sangat tulus, sampai gadis itu merasa nyama jika di dekatnya.


Setelah makan, Liana di berikan obat untuk pereda rasa sakit, dan kemudian ia tertidur. Sebenarnya Gunawan masih merasa lapar, karena pikirannya sangat kacau, dan membuatnya tak berselera untuk makan.


Tetapi dirinya tak tega dengan Liana, yang terlihat pucat, dan membuatnya cemas. Gunawan tak ingin gadis yang ia cintai sampai sakit, karena dirinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Gunawan keluar untuk membeli sesuatu. Karena hujan cukup deras, membuatnya tertahan di warung.

__ADS_1


Terdengar suara petir begitu kencang, membuat seluruh rumah gelap karena listrik padam.


Sedangkan Liana yang tertidur, terbangun karena terkejut mendengar geludug yang besar. Melihat semuanya gelap, dan tak terlihat sedikit pun. Membuat dirinya takut sendirian.


"Gunawan, Gun kamu di mana?" panggil Liana dengan suara paraunya.


Meliana sebenarnya sangat takut akan kegelapan, karena ia pernah mempunyai rasa trauma akan gelap sejak kecil.


"Gunawan, kamu di mana? Aku takut gelap!"


Liana menangis, dirinya begitu sangat ketakutan. Terdengar suara langkah kaki dari luar, pikiran buruk Meliana sudah terbayang akan hal-hal yang menyeramkan.


Peluh sudah membasahi seluruh wajahnya. Tubuhnya juga sudah gemetar, dirinya sangat takut. Liana duduk di sudut ruangan, dengan memeluk guling, dan mata terpejam.


"Aku takut ...."


Terdengar suara pintu terbuka, namun Liana masih enggan membuka matanya. Untuk melihat siapa yang datang.


"Meliana ..." panggil suara seseorang yang di kenal.


Meliana segera membuka matanya, dan tersenyum saat Gunawan lah yang berada di hadapannya.


"Gunawan ..." Liana segera memeluknya, karena rasa takutnya.


"Kamu yang tenang ya !Ada aku di sini, jangan takut lagi!"


Liana menatap wajah Gunawan yang begitu tampan, dan terlihat gagah, jika di lihat begitu dekat saat ini.


Entah kenapa Meliana tak ingin hubungannya dengan Gunawan berakhir, ia begitu sangat menyayangi pria yang di sebut ibunya anak berandalan.


Selama dekat dengan pria ini, terlihat kesungguhan Gunawan ingin berubah menjadi pribadi yang baik.


Kini di ruangan itu, hanya ada cahaya lilin yang menerangi mereka berdua. Berdiam diri, menunggu hujan reda, dan lampu untuk menyalah kembali.


Pandangan Meliana masih betah menatap Gunawan. Sampai kini tatapan mereka berdua saling bertemu..


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Awas nanti kamu selalu merindukan aku loh!" goda Gunawan.


CUP.


CUP.

__ADS_1


Liana menci*m bibir Gunawan. Gun tertegun mendapatkan sebuah kecupan manis dari gadis di hadapannya.


"Aku sayang kamu,"


"Aku juga sangat menyayangi kamu Liana,"


Kini wajah mereka berdua sampai tak ada jarak, Gunawan menatap bibir ranum Liana, yang terlihat amat manis baginya.


Entah kenapa Gunawan ingin sekali mengecapnya, dan menikmatinya. Pikiran liarnya, sudah menguasai hatinya.


Begitupun pun juga dengan Liana. Ciuman, yang ia berikan, membuat hatinya berdebar. Tatapan mata teduh Gunawan, membuatnya sangat menyukai dengan pria yang memiliki tatapan indahnya.


Cup.


Liana kembali mengecup bibir Gunawan, dan tersenyum. Gunawan menggelengkan kepalanya, namun gadis itu mengangguk. Seakan-akan, hanya mereka berdua saja yang mengerti tatapan itu.


Gunawan langsung menyentuh bi*ir ranum yang sejak tadi menggodanya. Lalu ia menempelkan di bibir Liana. Dan mereka berdua pun saling menautkan dan menyatukan kedekatan mereka. Kecapan manis, dan meng*air*hkan, yang saat ini mereka nikmati.


Cahaya malam, di temani turunnya hujan, serta udara yang dingin. Membuat kedekatan mereka berdua menjadi terasa hangat. Minim nya cahaya, membuat suasana menjadi sangat romantis, untuk mereka berdua.


Karena na*su dan cinta mereka sedang menggebu-gebu. Akhirnya mereka melakukan hub*ngan yang di larang.


Gunawan sudah melanggar apa yang selama ini ia tahan dan ia jaga, untuk tidak menyentuh nya. Namun kini ia sudah merenggut mahkota dari wanita yang ia cintai. Dirinya begitu sangat merasa bersalah kepada Liana, sudah mengambil apa yang ada padanya.


Kini cahaya lampu sudah terang kembali. Dua insan yang saling mencintai, kini mereka berada dalam satu selimut yang sama, tanpa sehelai benang pun mereka gunakan.


Liana tertidur dalam dekapan Gunawan, sedangkan Gun hanya termenung, dengan apa yang sudah ia lakukan kepada kekasihnya.


'Ya tuhan, apa yang sudah aku lakukan kepada Meliana. Aku sudah merenggutnya, aku sudah melanggar apa yang selama ini aku pertahankan, untuk tidak menyentuhnya sampai dia halal untukku. Kini aku sudah mengambilnya, dan aku sekarang benar-benar di nilai anak berandalan oleh keluarganya.'


Gunawan menatap langit-langit, dan merenungi kesalahannya. Sedangkan mata indah Liana terbuka, ia tersenyum saat menatap pria tampan kini berada di hadapannya.


Cup.


Gunawan lagi-lagi di buat tertegun dengan sikap Liana, yang mencium pipinya.


"Kamu kenapa? Kok melamun?" tanya Liana dengan suara manjanya.


"Aku merasa bersalah sama kamu. Aku sudah merenggut apa yang sudah kamu punya. Maafkan aku Liana, maafkan aku!" Bulir bening berhasil lolos dari pelupuk matanya.


Terlihat rasa bersalah Gunawan saat ini yang sudah merenggut kesucian wanita yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2