
"Maaf sudah mengganggu." Ratna pun menutup pintu kembali, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan rasa kecewa.
Adam takut kalau Ratna marah, ia pun segera mengejarnya.
Bulir bening berhasil lolos dari mata indah Ratna, dan ia segera menghapusnya. Adam berhasil menggapai tangan Ratna.
"Ratna, aku bisa jelasin semua ke kamu." Adam masih menggenggam tangannya. "Please kamu jangan marah!"
Ratna masih diam tak menjawab, bahkan menoleh pun juga enggak. Adam merasa bingung, karena untuk pertama kalinya ia membuat gadis yang ia cintai marah seperti ini.
Dari kejauhan terdengar suara seorang wanita berteriak memanggil Adam dan berlari menghampirinya.
"Adam kamu tega ninggalin aku. Padahal aku kangen sama kamu." Ucap seorang gadis, memeluk lengan pria di samping Ratna.
"Apa sih Zara, pergi jauh sana!" Adam mendorong gadis tersebut.
"Adam, aku rindu dengan kamu. Tega kamu menyuruh aku pergi, padahal aku jauh-jauh hanya untuk menemui kamu." Gadis itu menghentakkan kakinya, dengan wajah cemberut.
Ratna menoleh ke arah Adam, dan gadis yang berkata manja di sampingnya. Perempuan itu memiliki paras wajah yang cantik, rambut panjang dengan body yang seperti gitar spanyol.
Ratna merasa tak percaya diri dengan penampilannya yang tak secantik gadis di hadapannya.
"Seperti kalian harus menyelesaikan permasalahan dulu deh! Kalau begitu biarkan saya pergi." Ratna mencoba melepaskan tangan Adam darinya.
Adam semakin mempererat genggaman tangannya. "Enggak ada yang perlu di selesaikan lagi. Karena memang sudah selesai!" sambil menatap wajah Ratna.
"Sekarang ikut aku? Ayo masuk kedalam mobil." Ajak Adam menggenggam tangan Ratna.
"Adam lalu aku bagaimana?" Zara menahan agar Adam.
"Aku gak ada urusan sama kamu! Minggir kamu dari sini." Adam menggeser Zara, dengan menggandeng tangan Ratna.
Adam membuka pintu mobil, lalu menyuruh Ratna masuk. Namun lagi-lagi Zara menahan agar dirinya yang masuk.
"Cukup Zara, aku gak ada urusan apa-apa lagi sama kamu. Kamu bukan siapa-siapa aku, sekarang aku minta pergi kamu dari sini!" usir Adam ke gadis yang sejak tadi mengganggu dirinya.
Adam memanggil keamanan, lalu menyuruh membawa pergi Zara. Ratna hanya memperhatikan Adam, yang sejak tadi kesal kepada gadis yang selalu mengejarnya.
Setelah Zara pergi, Adam menyuruh Ratna masuk ke dalam mobil, lalu mengendarai meninggalkan restauran miliknya.
__ADS_1
Selama di dalam mobil, Adam memperhatikan Ratna yang sejak tadi berdiam diri. Bahkan tak menoleh nya sedikitpun, ia hanya memperhatikan pemandangan di luar saja.
Adam menghentikan kendaraannya di tempat yang sepi. Ratna pun terkejut lalu melihat sekitar, lalu menoleh ke arah pria yang sejak tadi menatap dirinya.
"Sayang, kenapa kamu diam aja sih? Aku minta maaf aja, kamu tak menjawabnya," Adam masih menatap diamnya Ratna.
"Terus aku harus apa? Nangis, melihat kamu dan dia berpelukan. Aku harus seperti itu, iya?" tanya Ratna.
"Enggak begitu, sikap kamu cuek banget. Apa kamu gak merasa kecewa, melihat dia bersikap seperti itu ke aku?" pertanyaan Adam seperti layaknya anak ABG.
"Aku kecewa, jujur sangat kecewa! Apalagi saat kamu membiarkan aku untuk pergi dengan Arga. Yang jelas-jelas kita mempunyai janji, dan aku sengaja pulang cepat agar kita bisa jalan berdua. Tapi nyatanya kamu justru pergi, menyuruh ku untuk menyelesaikan permasalahan dengan Arga!" Ratna terlihat sangat kesal.
"Apa kamu bisa tenang. Saat kamu tau, Arga mengajak aku kemana dan ngapain?" Ratna tersenyum menatap Adam.
"Dia mengajak aku ketempat yang dimana menjadi tempat favorit kami dulu. Kamu tau dia ngapain? Arga melamar aku, dia memintaku untuk menjadi istrinya," ucap Ratna mampu membuat Adam terkejut saat mendengarnya.
"Itu yang kamu inginkan, mengizinkan aku pergi dengan dia. Untuk membuka hubungan kita kembali,"
Ratna menjelaskan terlihat sekali ia kesal dengan Adam.
"Aku minta maaf. Aku juga tidak ingin kamu kembali dengan dia, aku ingin kamu menjadi milikku." Adam menggenggam tangan Ratna.
Setelah meminta maaf, dan Ratna pun akhirnya memaafkan pria yang sudah membuat dirinya kesal.
Adam juga menjelaskan, kalau Zara adalah mantan kekasih selama mereka kuliah. Namun sepertinya Ratna memang tidak mempermasalahkan, jika memang Arga jujur kepadanya.
Next ke Liana.
Kini sudah dua hari Gunawan mulai beraktivitas kembali di bengkelnya, ia juga sudah memiliki karyawan yang sudah ahli, di bidang permotoran.
Hari ini Liana sudah memasak dari pagi untuk suaminya makan di bengkel. Sengaja ia masak banyak, agar para karyawan juga bisa makan siang bersama.
"Sayang, kamu masak banyak?"
"Iya Gun. Agar teman-teman kamu juga ikut makan juga. Kan kasian mereka, lagian kan kita berbagi makanan, daripada mubazir,"
"Iya juga sih. Uuuhh istri ku baik banget si. Makin sayang aku sama kamu." Gunawan mengecup pipi Liana.
Liana terkekeh melihat sikap sang suami.
__ADS_1
" Sekarang aku mandi dulu ya," Liana mengangguk.
Di dalam kamar.
15 menit Gunawan mandi, dan kini sudah selesai. Gun menggunakan kaos berwarna abu-abu dengan menggunakan celana jeans. Liana terus memperhatikan sang suami yang terlihat tampan.
Gunawan dengan wajah segar dan senyuman manisnya, lalu menghampiri sang istri. Gun lalu mengecupnya, namun tiba-tiba reaksi Liana membuatnya takut.
Liana mengembuskan pipinya, lalu menahan nafas dan menjauh dari sang suami.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Gunawan.
"Menjauh sana, jangan dekat-dekat. Huuussh..." Liana mengusir Gunawan.
"Hei, kamu kenapa sayang?" Gunawan penasaran, lalu ia mendekat.
Namun justru sikap Liana sangat berlebihan, wajahnya di halangi dengan bantal agar Gunawan tak mendekat.
"Kamu kenapa sih sayang? Aku jadi takut liat kamu seperti ini?" tanya Gunawan menahan tangan sang istri.
"Kamu bau. Kamu pakai apa sih? Hoooek ..." Liana kembali merasa mual.
Gunawan mencium pakaiannya sendiri, justru ia tak mencium bau aneh. Ia merasa tubuhnya wangi, karena parfum yang biasa ia pakai. Itu juga wangi yang Liana sukai, tapi kenapa sang istri kebauan.
"Aku gak mencium bau apapun. Justru ini wangi yang biasa kamu sukai sayang,"
"Aaaa ... tapi beneran kamu bau Gun. Hoooek... aku gak bohong. Lebih baik kamu mandi lagi sana!" suruh Liana.
Gunawan tercengang, mendengar istrinya menyuruh ia mandi lagi. "Kamu yakin, aku mandi lagi. Aku udah keren loh ini."
Liana segera menggelengkan kepalanya.
"Enggak, kamu sangat bau. Aku gak kuat sama bau kamu itu." ucap nya menutup hidung.
Pasrah akan sikap aneh sang istri. Akhirnya Gunawan pun masuk ke dalam tandas, dan membersihkan dirinya kembali.
Meliana pun menunjukkan wajah lega, saat Gunawan masuk kedalam kamar mandi. Liana juga heran, akan sikap anehnya akhir-akhir ini.
Biasanya ia sangat menyukai wangi parfum yang di pakai Gunawan, karena itu parfum yang ia pilihkan untuk suaminya. Namun kenapa sekarang ia tak menyukai bau nya. Rasanya sangat menyengat, dan membuat perutnya seperti di kocok.
__ADS_1
Bersambung....