
Selama dua minggu Adam mengelola restauran, ada rasa tertarik dan berniat hati dan memberanikan diri untuk mendekati Ratna. Namun justru ia di buat kecewa karena kedua orang tuanya sudah menjodohkannya dengan gadis lain yang ia sendiri tak mengenal nya.
Kini Ratna susah di tangani oleh dokter, kakinya sudah terpasang perban.
"Dokter, saya tidak perlu di rawat kan? Kaki saya hanya cidera biasa aja, apa boleh kalau saya pulang ?" tanya Ratna, kepada dokter laki-laki.
Dokter itu tersenyum, menatap ke arah Ratna.
"Iya kamu boleh pulang, kaki kamu tak terlalu parah. Tapi kamu harus butuh istirahat untuk beberapa hari, jangan paksakan kaki kamu untuk bergerak dan melakukan aktifitas kamu!" jelas dokter.
"Tuh dengerin!" timpal Adam.
"Iya Dok. Terimakasih sudah mengobati kaki saya,"
"Sama-sama mba Ratna,"
Setelah mengobati kaki Ratna, dokter itu pergi meninggalkan ruangan. Di san hanya ada Adam yang menemaninya.
"Pak Adam, saya mengucapkan terima kasih sudah mengantarkan saya ke rumah sakit,"
"Sama-sama. Saya melakukannya ini, karena kamu itu karyawan saya, dan saya tidak ingin di nilai bos yang tak peduli. Karena karyawannya cidera, bosnya acuh,"
"Iya Pak saya mengerti. Kalau begitu saya ingin menghubungi keluarga untuk menjemput saya." kata Ratna mengambil handphonenya, untuk memberi tau kakak nya.
"Biar saya yang antar kamu pulang!" kata Adam, Ratna terdiam mendengarnya, karena terkejut.
"Tidak usah Pak, biar saya minta jemput keluarga. Bapak bisa pulang!"
"Kamu mengusir saya? Niat saya baik, ingin nganterin kamu pulang. Bagaimana pun kamu karyawan saya, saya bertanggung jawab atas kamu!" jawabnya dengan tatapan garang.
'Astaghfirullah. Ini pak Adam kenapa ya? Kok jadi maksa begini, karena gue nolak di antar. Gue kan jadi gak enak, soalnya dia yang bayarin pengobatan gue. Padahal buka yang menyebabkan kecelakaan ini,' Gumam Ratna.
"Bagaimana, apa kamu masih menolak saya untuk mengantarkan kamu pulang?" tanya Adam sekali lagi, dengan tatapan garang.
"Iya pak, boleh. Tapi maaf, saya sudah merepotkan pak Adam!"
"Heemmm ..." jawab Adam, dengan senyum kecilnya.
Sedangkan Ratna bingung harus bagaimana. Ia merasa tak enak, jika bos nya mengantarkan ia pulang.
Sedangkan di kediaman pak Syafi'i dan Bu Nur. Mereka sejak tadi sedang menunggu putri nya belum juga pulang kerja, padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Pak, ko Ratna belum pulang juga ya? Padahal dia kan sift pagi, harusnya sore tadi sudah di rumah. Tapi ini belum sampai, kemana ya? Kok perasaan ibu jadi gak enak gini ya?" ucap Bu nur dengan perasaan tak tenang.
"Iya bapak juga khawatir dengan Ratna Bu. Semoga aja, dia tidak kenapa-napa ya," timpal pak Syafi'i.
Adnan kakaknya Ratna menghampiri orang tuanya yang sedang berada di luar.
__ADS_1
"Pak, Bu kok kalian ada di sini?"
"Nan, adik kamu belum pulang. Jadi bapak dan ibu menunggunya, karena khawatir dengan Ratna," jawab Bu Nur.
"Bu, Ratna itu bukan gadis manja. Dia itu wanita yang hebat, dan bisa menjaga dirinya sendiri, jika ada yang berniat jahat. Mungkin dia sedang main ke rumah Gunawan atau temannya yang lainnya," kata Adnan mencoba menenangkan orang tuanya.
Dari luar pagar, terlihat sebuah mobil berhenti. Pak Syafi'i, Bu Nur dan Adnan, melihat ke arah luar. Karena tak pernah ada mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
Saat seorang pria turun, dan membuka pintu mobil satunya. Mata pak Syafi'i terbelalak saat yang di lihat ternyata putrinya, sedang di bantu untuk berjalan.
Adnan dan pak Syafi'i berlari menghampiri Ratna, yang berjalan menggunakan tongkat.
"Ya ampun dek, kamu ko bisa begini. Ayo kakak gendong kamu!" kata Adnan sudah dengan posisi Jongkok
"Gak papa kak, aku bisa ..."
Di saat Ratna belum selesai, Adnan sudah menggendong adiknya.
"Aaa .... kakak ..." Ratna berteriak, saat sang kakak menggendong ala bridal style.
Kini Adnan meletakkan adiknya di kursi, dan Adam mengikuti di belakangnya.
"Ya Allah Ratna, kamu kenapa?" tanya Bu Nur dengan cemas. Lalu beliau menatap ke arah Adnan. "Loh ini siapa Nak?"
"Pak, Bu ,kakak. Kenalkan ini pak Adam. Beliau ini, anak pemilik dari restauran tempat ku bekerja," kata Ratna menjelaskan.
"Nah pak Adam ini, tadi nolongin aku, saat aku di tabrak sama mobil yang tak bertanggung jawab,"
"Ya Allah Pak, terimakasih banyak sudah menolong anak saya." Kata pak Syafi'i, bersalaman dengan Adam.
"Ya ampun pak, jangan seperti ini. Saya tadi kebetulan lewat, dan melihat karyawan saya terjatuh." Jawab Adam merasa tak enak, karena pak Syafi'i terlalu berlebihan berterima kasih nya.
"Pak, maaf sebelumnya. Saya hanya menolong Ratna, karena kita ini kan sesama manusia. Memang sudah menjadi kewajiban kita saling tolong menolong. Jadi bapak jangan merasa sungkan seperti itu!"
Dengan ramah dan sopan saat Adam berbicara kepada pak Syafi'i dan Bu Nur. Biasanya sebagai atas, meskipun lebih muda, terkadang ada yang sombong karena jabatan yang ia punya.
"Yasudah kalau begitu, sebagai bentuk rasa terima kasih kami. Apa bapak mau menerima jamuan kami, sekedar untuk minum kopi, atau ngeteh!"
"Ya ampun pak, pasti saya mau. Tapi apa tidak merepotkan dan mengganggu kalian kalau saya di sini?" tanya Adam.
"Ya tidak merepotkan sama sekali dong Nak. Justru ibu senang kamu mau minum kopi di sini!" Jawab Bu Nur, Adam pun mengangguk
Akhirnya Adam mau menerima ajakan pak Syafi'i dan Bu Nur untuk menikmati kopi dan sajian makanan yang sudah di sediakan. Adnan pun juga ikut kumpul bareng.
Ratna nampak heran melihat bos barunya, yang terlihat mudah akrab dengan keluarganya. Bahkan terlihat begitu ramah, dan hangat.
Terlihat senyum-senyum di bibir Ratna menyaksikan pemandangan itu.
__ADS_1
Next balik ke Gunawan.
Saat ini Gunawan sangat sibuk, karena ada satu motor yang harus ditangani oleh nya, dan juga Raka.
Saat sedang mengotak atik motor, Gunawan melihat penjual rujak bebeg. Entah kenapa, rasanya ia kepingin sekali membelinya.
"Pak, mau dong pesan satu yang pedes ya!"
"Iya Mas," jawab sang penjual.
"Raka elo mau gak?" tanya Gunawan menawarkan temannya.
"Enggak aah, elo aja." Jawab Raka yang sedang menuang oli ke mesin.
"Satu aja Pak, teman saya gak mau," sang penjual pun mengangguk.
Gunawan memperhatikan bapak penjual rujak menumbuk cabai, dengan sedikit irisan gula merah. Entah kenapa ia sampai tersenyum saat melihatnya, seperti baru pertamakali ia lihat seperti itu.
Raka melihat temannya yang sejak tadi bersikap aneh, hanya menggelengkan kepalanya saja.
Gunawan masih memperhatikan bapak penjual rujak memasukkan buah, jambu, nanas, ubi, dan juga kedondong. Semuanya di masukkan menjadi satu di dalam alu, lalu di tumbuk sampai sedikit halus.
Gunawan masih menunggu di dekat penjualnya , seperti layaknya anak kecil. Dengan tak sabar, sampai rujak itupun akhirnya jadi, lalu di masukkan ke dalam tempat kecil ,dengan sendok yang terbuat dari daun kelapa.
Bapak penjual memberi rujaknya, lalu oleh Gun dibayar. Setelah itu, Gunawan membawanya ke dalam, dan menikmati rujak buah yang di tumbuk dengan nikmat.
"Sejak kapan dia suka rujak? Aneh banget dari tadi tuh anak?" Kata Raka seorang diri.
Setelah motor yang di service oleh Raka selesai, lalu ia menghampiri Gunawan yang sedang asyik makan rujak.
"Beeeuuh ... enak banget makan rujak aja, nikmat bener!" ledek Raka.
"Iya, rujaknya mantap bener Ka." Jawab Gunawan, mengelap keringat di keningnya.
"Elo lagi aneh iih sejak kemarin. Suka cari makanan yang aneh yang enggak elo suka,"
"Masa sih? Tapi kalau dipikir iya juga.Gue juga bingung, kenapa gue beberapa hari ini, ngerasa ada yang aneh ya?"
"Nah kan! Elo juga ngerasa aneh juga?" kata Raka.
"Biarkanlah, mending kan makanan apa aja sekarang gue makan. Selama ini, gue paling males sama namanya makanan. Kalau bukan karena lapar banget, mungkin gue gak bakalan makan,"
"Yee enggak gitu juga oncom! Makan juga harus, buat tenaga.Gue juga gak mau punya temen sakit-sakitan!" sindir Raka, membuat Gunawan terkekeh.
Gunawan pun melanjutkan makan rujaknya, sedangkan Raka yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Karena melihat sahabatnya begitu menikmati rujak bebeg, dengan minuman segelas Teh hangat.
Bersambung ...
__ADS_1