
Jujur saja setelah sah menjadi suami istri. Rasa be* cinta pun rasanya berbeda. Karena saat mereka melakukan hubungan itu pertama kalinya, dalam keadaan tidak baik. Ada rasa takut di benaknya, namun setelah menikah, ia begitu menikmati, apalagi dengan wanita yang sangat ia cintai.
Seminggu sudah berlalu, Gunawan sudah memboyong istrinya untuk tinggal di rumah baru yang sederhana.
Meliana sangat bahagia dengan tinggal berduaan dengan Gunawan. Meskipun menempati rumah sederhana, asal bersama pria yang ia cintai rasanya sudah sangat bahagia.
Namun di balik kebahagiaan Gunawan dan Meliana, ada sang ibu yang terlihat tak suka jika putrinya tinggal di rumah yang tak besar.
"Ya ampun Liana, ini rumah atau apa sih? Masa anak ibu, tinggal di tempat yang seperti ini sih!" Bu Fitriana nyinyir.
Gunawan merasa tersenggol hatinya, saat sang mertua berbicara seperti itu. Liana merasa tak enak hati, karena ucapan ibunya akan membuat Gunawan sedih.
"Maafkan saya Bu, belum bisa memberikan rumah yang besar untuk putri ibu," cakap Gunawan.
"Mangkanya kalau belum mapan jangan dekati Liana. Kamu itu ...."
Liana sudah memotong ucapan sang ibu.
"Cukup Bu! Aku tak masalah jika tinggal di rumah seperti ini. Aku nyaman kerena ada suamiku, yang menemaniku!" jawab Liana membela sang suami.
"Kamu kalau ibu bicara selalu di jawab!" Bu Fitriana tersenyum sinis.
"Kalau ibu bicara biasa aja, aku takkan menjawab. Tapi ibu bicara seperti itu, secara tak langsung ibu menghina suami ku dan rumah ini. Harusnya kita berterima kasih, karena di berikan hadiah tempat tinggal oleh Mama nya Gunawan!" Liana meluapkan rasa kesalnya, kepada sang ibu .
Gunawan merasa tak enak hati, karena Liana dan ibunya jadi berdebat.
"Bu, memang dulu hidup kita seperti apa sih saat aku kecil? Walaupun kita hidup sederhana tapi kita bahagia. Lalu kenapa ibu bisa sombong seperti itu, selalu saja merendahkan orang lain, yang hidupnya di bawah kita!"
"Semuanya karena uang Liana, hidup kamu kecukupan. Coba dulu, kita sering dihina oleh mereka yang kaya. Sekarang ibu ingin membuktikan kalau ibu sudah memiliki kekayaan seperti mereka yang pernah menghina keluarga kita!"
"Hidup ibu dengan mereka apa bedanya? Gak ada bedanya, ibu menjadi sombong dan kikir seperti mereka. Aku lebih baik seperti dulu, hidup sederhana tapi ibu baik dan penyayang. Tidak seperti sekarang jahat, dan tinggi hati!"
Perkataan Liana membuat Bu Fitriana terlihat sangat murka tak menyukai ucapan sang putri.
"Sayang. Sudah ya jangan melawan ibumu. Ingat kamu sedang hamil." Gunawan menyentuh tangan istrinya agar bisa tenang.
"Tapi Mas ..." jawab Liana, menatap sang suami.
__ADS_1
Gunawan memberikan isyarat untuk diam, dan tak menjawab. Akhirnya Liana menarik nafas dan tak menggubris perkataan sang ibu.
"Aku mau masuk kamar dan beristirahat. Maaf jika ibu aku tinggal, aku lelah jika harus berdebat dengan ibu terus menerus!"
Liana pun meninggalkan sang ibu, yang berdiri di ruang tamu. Sedangkan Gunawan masih berada di sana, di hadapan mertua.
"Maafkan atas sikap Liana Bu!" ucap Gunawan.
"Saya tidak tau, kenapa putri saya jadi kurang ajar seperti itu. Selama anak saya kenal dengan Ratna dan kamu!" Bu Fitriana menatap Gunawan dengan sinis.
"Lebih baik saya pulang, dari pada saya berlama-lama di sini. Apalagi berhadapan dengan kamu, rasanya kepala saya pusing melihat menantu seperti kamu." Setelah mengatakan itu, Bu Fitriana meninggalkan rumah Gunawan.
Gunawan menggelengkan kepalanya, melihat sikap ibu mertua. Yang selalu saja menghina, dan merendahkan dirinya setiap hari. Namun meskipun ada rada kesal, namu ia tak memasukan ke dalam hati.
Karena setiap yang di katakan sang mertua, ia jadikan itu untuk penyemangat untuknya sendiri. Agar dirinya harus lebih semangat lagi, untuk membuktikan kalau ia mampu membahagiakan istri dan anaknya nanti.
Gunawan menutup pintu rumah, lalu berjalan menuju kamarnya. Ia melihat sang istri sedang duduk termenung, dengan wajah yang basah karena menangis.
Gunawan berjalan menghampiri sang istri, lalu duduk di samping, sambil menggenggam tangannya.
"Maafkan ibu ku. Ia masih saja terus menghina kamu. Padahal kamu sekarang sudah menjadi suamiku." Liana dengan isak tangisnya.
"Tapi tetap aja, aku gak suka. Ibuku masih saja menilai seseorang dari materi saja. Padahal kamu sudah berusaha membuktikan, kalau kamu bisa membuka usaha hasil kamu sendiri. Sedangkan rumah ini juga pemberian mama kamu. Tapi masih saja kurang di matanya!" terlihat sekali Liana sangat marah dengan sikap Bu Fitriana.
Gunawan membawa Liana ke dalam pelukannya. "Sudah sayang, aku gak papa. Mungkin maksud ibumu, aku harus lebih semangat lagi untuk mencari uang dan membahagiakan kamu. Aku juga akan membuktikan kalau aku mampu untuk membuat kamu dan anakku bahagia, nantinya." Membelai rambut panjang istrinya dengan lembut.
"Kamu kenapa baik sekali sih Gun, berapa kali ibu menyakiti dan menghina kamu. Tapi kamu tak sedikitpun membenci ibuku?"
"Mana mungkin aku membenci ibu kamu, yang sekarang sudah menjadi ibuku juga. Kamu tau, selagi kamu berada di sisiku. Aku akan selalu merasakan bahagia, dan cobaan apapun yang kita hadapi insyaallah aku siap menerimanya dengan ikhlas."
Liana pun semakin mempererat pelukan suaminya. Entah kenapa dirinya merasa beruntung memiliki suami, seperti Gunawan. Yang mau berubah menjadi pria yang baik, dan bertanggung jawab.
Sedangkan di lain tempat, seorang pria sedang menunggu Ratna di parkiran.
Ratna yang baru saja selesai bekerja, seorang security menghampirinya.
"Mba Ratna, di parkiran ada seseorang yang mencari mbak,"
__ADS_1
"Siapa pak Supri?" tanya Ratna.
"Saya juga tidak tau, saya baru pertama melihatnya. Tapi bukan pria yang biasa mengantar jemput mba Ratna,"
Ratna nampak berpikir, siapa pria yang di maksud pak Supri. "Yasudah kalau begitu terimakasih ya Pak,"
"Iya mba Ratna, kalau begitu saya permisi!" pamit pak Supri.
"Iya Pak,"
Setelah kepergian pak Supri, Ratna pun keluar untuk menghampiri siapa yang mencari dirinya.
Mata Ratna terbelalak saat melihat yang menemui dirinya, ternyata Arga. Padahal ia berharap Adam yang akan datang menemuinya. Karena mereka sudah memiliki acara, berdua.
"Arga," ucap Ratna,dan pria yang ia panggil pun menoleh.
"Ratna. " Arga pun tersenyum lalu menghampirinya.
"Kok kamu tau aku kerja di sini?"tanya Ratna.
"Ya waktu itu aku pernah ngikutin kamu. Mangkanya aku coba ingat kembali, ternyata benar," jawabnya.
"Ratna aku kesini sebenarnya ingin mengajak kamu keluar. Ada yang ingin aku bicarakan ke kamu." Sambil menyentuh tangan.
"Bicara apa? Tapi maaf aku tidak bisa." Tolak Ratna dengan melepaskan tangannya dari Arga.
"Kenapa? Apa kamu sudah ada janji dengan orang lain? Sebenarnya aku hanya ada waktu hari ini untuk bicara sama kamu," Arga dengan wajah memelas.
Ratna bingung menjawab apa, tapi ia sudah berjanji dengan Adam. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata sejak tadi memperhatikan mereka berdua dari dalam mobil.
Tak lama handphone Ratna bergetar, tanda notifikasi pesan masuk.
Saat Ratna membuka pesan masuk, ia terkejut saat membaca isi chat dari orang yang ia harapkan. Lalu ia melihat sekitar seperti mencari seseorang, dan kembali menatap handphonenya.
"Aku tau kamu dan Arga pernah memiliki hubungan. Jika kalian ada yang ingin di selesaikan, kamu bisa bicarakan baik-baik dengannya. Untuk acara ngedate kita, bisa kita undur lain waktu,"
Ada kekecewaan yang di rasakan Ratna saat membaca isi chat. Lalu ia melihat ada mobil berwarna hitam, berjalan jauh. Ratna yakin kalau itu Adam, karena ia mengenal plat nomor kendaraannya.
__ADS_1
Bersambung ...