
Adam pun segera mengangkat Ratna ala bridal style, ke dalam mobilnya. Lalu mereka segera membawa Ratna ke rumah sakit.
Adam, pak Syafi'i dan juga Bu Nur. Mereka menunggu Ratna sadarkan diri.Kurang lebih satu jam pingsan, kini ia Membuka matanya secara perlahan.
"Kamu sudah sadar Nak? Syukurlah ayah dab ibu khawatir." Ucap Bu Nur membelai kepala sang putri.
Ratna menatap sekitar ruangan serba putih. "Ini di mana Bu?"
"Di rumah sakit Nak. Kamu tak sadarkan diri tadi.Untung saja Adam datang dan langsung membawa kamu ke sini," ucap Bu Nur.
"Aku mau pulang Bu." Ratna hendak bangun, namun ia merasakan sakit di pergelangan tangan.
"Aaaww..." ringisnya.
"Ratna kamu jangan banyak bergerak. Kamu sedang di infus, kondisi kamu sangat lemas dan wajah kamu sampai pucat." Ucap Bu Nur menyentuh tangan putrinya.
"Benar kamu sangat pucat, tekanan darah kamu sangat rendah. Kamu harus banyak istirahat!" ucap Adam.
Ratna pun pasrah dengan kondisinya sekarang. Sebenarnya ia tak mau, jika harus di infus seperti ini.
Bu Nur masih memperhatikan putrinya masih terdiam. Adam yang mengerti keadaannya saat ini, lantas ia keluar. Kini hanya ada Ratna dan ke dua orang tuanya.
"Nak, ada yang ingin ibu bicarakan ke kamu. Ibu tau kamu sekarang marah dengan kami, yang merahasiakan sesuatu dari kamu." Bu Nur kembali menyentuh tangan sang putri.
"Nak, yang di katakan Bu Ana itu benar. Kalau ibu kamu dan pak Pujianto pernah menikah dan memiliki seorang putri," terang pak Syafi'i.
Ratna menatap sang ibu, yang di mana terlihat raut wajah kesedihan. Bu Nur menceritakan kisah yang selama ini ia rahasiakan dari putrinya.
Bulir bening pun berhasil lolos dari pelupuk matanya. Sang ayah yang berada di sampingnya, hanya menggenggam tangan istrinya. Sedangkan Ratna tak tega melihat wajah ibunya yang terlihat sedih, mengingat sudah kehilangan putri pertamanya.
"Bu maafkan Ratna, yang sudah membuat ibu sedih. Ibu jadi mengingat kisah sedih ibu yang sudah kehilangan kak Luna." Seraya menggenggam tangan sang ibu.
Bu Nur segera menghapus air matanya, dan tersenyum menatap Ratna.
__ADS_1
"Tidak Nak. Ini bukan salah kamu sayang. Ibu merasa bersalah dengan kamu, sudah merahasiakan sesuatu kepada kamu. Ibu hanya tidak ingin, persahabatan kamu dengan Liana akan merenggang jika sampai kamu tau kisah ibunya," jelas Bu Nur.
"Kami juga tau Nak, kalau kamu dan Arga memiliki hubungan. Mangkanya ibumu sangat tak suka jika dia berdua dengan kamu" timpal sang Ayah, dan di angguki oleh Bu Nur.
"Ibu sangat marah jika Bu Nur selalu saja menghina kamu Nak. Sedangkan kamu terus saja memikirkan Arga. Mangkanya saat ibu mendengar Adam menyukai kamu, ibu bahagia. Akhirnya kamu membuka hati kamu untuk laki-laki lain,"
"Maafkan Ratna Bu, ayah. Aku sudah membuat kalian sedih dan marah selama ini." Ratna mencium tangan ibunya.
"Sudah Nak, sekarang yang terpenting kamu dan dia sudah tak memiliki hubungan. Satu lagi, jangan benci Liana ya sayang! Bagaimana pun dia tak bersalah,"
"Iya Bu, aku gak benci ko dengan Liana dia sahabatku." Bu Nur tersenyum mendengar apa yang putrinya katakan.
Next
Beberapa bulan kemudian. Usia kandungan Liana sudah memasuki lima bulan. Yang di mana, perutnya Liana terlihat membuncit.
Arga pun juga sudah menikah dengan Tiara, yang di mana Bu Fitriana merasa bahagia karena mendapatkan menantu impiannya.
Bagi Gunawan yang terpenting ia menjaga istri dan bayi yang berada di dalam kandungan dengan baik.
Setiap harinya ia mengambil alih pekerjaan sang istri, dari mencuci, setrika, dan tugas lainnya. Sampai Liana tak tega melihat sang suami yang berbaring di sofa karena kelelahan.
Meliana membiarkan sang suami beristirahat. Saat Liana berjalan di halaman belakang, ia melihat cuciannya belum di jemur. Dengan inisiatif membantu Gunawan, ia menjemur pakaian.
Namun saat itu juga Bu Fitriana datang menjenguk putrinya. Ia melihat Gunawan yang sedang tertidur di sofa, dengan begitu pulas.
"Dia tidur, lalu di mana Liana." Bu Ana berjalan mencari di mana putrinya.
Saat Bu Fitriana, melihat ke taman belakang. Ia melihat Liana sedang menjemur pakaian, Bu Ana pun terbelalak melihat pemandangan putrinya sedang melakukan pekerjaan tersebut.
"Liana!" panggil Bu Fitriana, membuat Liana terkejut yang mendengarnya.
"Ibu, kapan datang?"
__ADS_1
"Ibu baru datang, melihat Gunawan sedang enak-enakan tidur. Sedangkan kamu yang sedang hamil, malah menjemur pakaian. Ingat bulan lalu kamu itu, untuk bergerak saja sulit. Sampai harus di larikan kerumah sakit, sekarang kamu malah menjemur pakaian!" omel Bu Ana, lalu mengambil pakaian di tangan Liana, dan di lempar ke dalam ember.
"Ibu gak terima ya, kamu melakukan pekerjaan rumah. Sedangkan dia enak-enakan tidur!"
"Bu jangan berteriak. Aku hanya membantu suamiku, yang sejak tadi memegang pekerjaan rumah." Seraya menyentuh tangan sang ibu.
Bu Fitriana melepaskan tangannya dari Liana. "Sampai kapan kamu membela dia hah!"
Gunawan yang mendengar keributan, langsung terbangun. Ia mencari ke sumber suara yang di mana ada mertuanya sedang memarahi Liana.
"Ibu, Liana, ada apa?" tanya Gunawan.
"Ada apa? Masih bisa kamu bertanya! Kamu bagaimana sih, istri lagi hamil malah di biarkan jemur pakaian. Sedangkan kamu enak-enakan tidur di sofa! Di mana pikiran kamu Gun!" bentak Bu Ana.
Gunawan mendapat omelan ibu mertuanya, lantas menoleh menatap istrinya. Yang dimana Liana tak berani menatap sang suami.
"Maafkan Gun Bu! Tadi saya habis mencuci dan memegang pekerjaan lainnya. Hanya saja saya kelelahan dan tertidur di sofa. Saya tak tau kalau Liana menjemur pakaian, kalau tau sudah pasti saya larang,"
"Alesan saja kamu. Kamu ingin istri kamu seperti bulan lalu, yang tiba-tiba tidak bisa bergerak, dan harus di larikan ke rumah sakit!"
"Maaf Bu!" ucap Gunawan dengan mengalah.
"Mangkanya jangan pelit. Pakai jasa ART untuk membantu pekerjaan rumah. Apa kamu tidak mampu untuk membayar pekerja!" sindir Bu Fitriana.
Gunawan merasa terpojok mendengar apa yang di katakan ibu mertuanya. Sedangkan Liana merasa tak tega mendengar sang suami di salahkan oleh ibunya.
"Bu jangan bicara seperti itu ke Gunawan. Yang bersalah itu aku, yang memang ingin membantu tugasnya. Karena sejak tadi Gun, yang mengerjakan pekerjaan rumah." Seraya menyentuh tangan sang istri ibu.
"Baik Bu, nanti saya akan mencari ART yang akan membantu pekerjaan rumah. Tadinya saya pikir, saya yang akan membantu pekerjaan Liana. Terimakasih Bu atas sarannya, nanti saya akan mencari seseorang untuk bekerja di sini,"
Bu Fitriana tak menjawab, lalu pergi menuju ke sofa. Sedangkan Liana menatap sang suami, yang memejamkan mata menahan rasa kesalnya yang terus-menerus di salahkan oleh ibu mertuanya.
Bersambung....
__ADS_1