Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Menyambutnya dengan hangat


__ADS_3

Bu Fitriana tak menjawab, lalu pergi menuju ke sofa. Sedangkan Liana menatap sang suami, yang memejamkan mata menahan rasa kesalnya yang terus-menerus di salahkan oleh ibu mertuanya.


"Sayang," Liana mencoba mendekati sang suami.


"Kamu temani ibu saja, aku lanjutkan menjemur pakaian!" Gunawan berjalan ke halaman belakang, melanjutkan pekerjaannya.


Meliana nampak tak tega melihat suaminya, yang terus di salahkan oleh sang ibu. Liana lalu menghampiri ibunya ke ruang keluarga, yang di mana sudah menunggunya.


Setelah Bu Fitriana pulang, Liana masuk kamar, menghampiri sang suami. Yang di mana terlihat Gunawan sudah rapih.


"Gun, kamu mau kemana?"


"Bengkel," jawab Gunawan.


"Kamu gak capek, langsung ke bengkel? Lebih baik istirahat dulu aja ya!"


"Aku di rumah mau ngapain Liana? Pekerjaan aku sudah selesai, biar capek sekalian. Nanti kalau ibumu liat lagi, aku beristirahat, aku salah lagi!" jawab Gun dengan menyindir, tak sadar ucapan membuat istrinya sedih.


"Tapi aku lagi ingin sama kamu!" Liana dengan memelas.


Gun tak menghiraukan ucapan sang istri. Melihat penampilan sudah rapih, Gunawan mengambil tas kecilnya yang ia selalu bawa. "Kamu di rumah saja! Satu lagi, jangan pegang kerjaan apapun! Aku gak mau kamu kenapa-napa, apalagi sampai di salahkan oleh ibu lagi!"


Meliana tak menjawab dan hanya diam menundukkan kepala. Entah kenapa hatinya merasa sedih mendengar semua yang di katakan Gunawan.


Gunawan menghampiri sang istri, lalu mencium pipinya. Setelah itu ia keluar kamar, dan meninggalkan Liana yang masih terdiam.


Liana duduk di bibir tempat tidur, dengan menyentuh perut. Bulir bening pun berhasil lolos membasahi pipinya.


Gunawan yang hendak menyalakan motor, tiba-tiba ia memikirkan Liana yang berada di kamar. Gun mengepalkan tangannya, lalu di adu nya ke motor, karena sudah bersalah tidak mengontrol emosi di depan istrinya.


"Beg* kenapa sih elo gak bisa kontrol emosi loe Gun. Istri loe gak salah! Pasti sekarang Liana merasa sedih, atas sikap loe tadi." Dengan cepat Gunawan membuka helm, lalu masuk kembali.


Gunawan segera masuk kedalam kamar. Saat pintu terbuka ia melihat Liana sedang duduk di atas tempat tidur.


"Sayang." Gunawan menghampiri sang istri, yang di mana terlihat pipinya sudah basah karena menangis.


Ada rasa tak tega melihat Liana terlihat begitu sedih. Terlebih lagi dengan kondisi yabg sedang hamil, dan sangat sensitif sekali perasaannya.


Gunawan segera menghapus air mata, yang dimana Liana hanya bisa terdiam.

__ADS_1


"Maaf ya! Aku sudah membuat kamu sedih seperti ini." Gun mengecup tangan Liana.


"Hiks ... maafkan ibu, yang selalu menyalahkan kamu! Tapi aku mohon kamu jangan marah dengan aku! Apalagi kondisi ku yang seperti ini." ucap Liana dengan memohon.


"Kamu gak salah sayang, jadi gak perlu meminta maaf. Disini aku yang bersalah, aku gak bisa mengontrol emosi ku." Gunawan menghapus air matanya.


Gunawan segera membawa Liana ke dalam pelukannya, ia merasa bersalah atas sikapnya yang mendiami sang istri yang tak bersalah.


Karena merasa tak tega meninggalkan istrinya di rumah, dengan kondisi nya masih bersedih. Akhirnya Gunawan memutuskan untuk tetap di rumah menemani Liana.


🍀


🍀


🍀


🍀


Kembali ke Ratna.


Hari ini Adam datang menjemput Ratna, yang di mana kedua orang tuanya. sudah tak sabar ingin mengenal gadis yang membuat putranya jatuh hati.


Pak Alam dan Bu Damayanti,sejak tadi sudah tak sabar ingin melihat gadis yang di bawa putranya.


Adam mencoba menggenggam tangan Ratna, yang berkeringat dan terasa dingin.


"Sayang kamu kenapa, tangan kamu dingin banget loh."


"Mas, aku gugup banget. Kita balik aja ya, di tunda aja pertemuannya!" Adam menghentikan mobilnya, dan menatap Ratna dengan tajam.


"Kamu ingin membatalkan pertemuan antara kamu dan orang tuaku? Kamu tau gak? Mama sudah menyiapkan masakan, hanya untuk menyambut kamu ke sana! Masa kamu main batalin gitu aja!" terlihat Adam kesal dengan niat Ratna.


"Aku gugup, dan takut. Kalau orang tua kamu, nantinya tidak menyukai aku!" Ratna menunduk.


Adam tersenyum. "Kamu jangan khawatir, mama dan papaku gak jahat ko. Mereka baik, dan selalu menerima dengan gadis pilihan aku." Menggenggam tangan Ratna.


"Jadi aku minta kamu jangan gugup atau panik. Karena ada aku di samping kamu." Adam mengedipkan mata menggoda Ratna.


Ratna tertegun dan tersipu malu saat melihat Adam menggoda dirinya.

__ADS_1


"Iiihhh genit banget mata mau ya aku colok nih." Ratna sudah mengarahkan dua jari ke Adam, dan membuatnya terkekeh.


"Lagian kamu ngegemesin tau gak. Terus bagaimana mau lanjutin ke rumah aku gak? Soalnya orang tua aku sudah nungguin kamu datang?"


"Eeuuum ... iya deh, lanjutin. Tapi kamu janji harus di dekat aku ya!" Ratna dengan mengulurkan jari kelingkingnya.


Adam terkekeh, melihat sikap Ratna yang teramat manis seperti ini. Biasanya kekasihnya itu selalu percaya diri, tapi untuk saat ini berbeda.


Adam mengaitkan jari kelingkingnya, dan tersenyum. "Iya sayang ku, aku janji akan selalu di sampingmu. Agar kamu gak gugup,"


Ratna tersenyum manis, membuat Adam gemas dan mencubit pipinya.


"Iiihh kamu tuh bikin gemes tau gak. Sayangnya belum halal, kalau sudah eeemmm."


Ratna terkekeh mendengarnya.


"Enak aja, mau kamu aku kasih ini." Mengepalkan tangannya, dan mengarahkan ke Adam.


"Ya sudah kita lanjutkan perjalanan ke rumah ya?" Ratna mengangguk, dan Adam melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya..


Kurang lebih 30 menit perjalanan. Kini akhirnya mereka pun sampai di rumah orang tua Adam. Yang di mana pak Alam, dan Bu Damayanti sudah menanti kedatangan putranya membawa gadis pilihannya.


Rasa gugup Ratna kembali datang, membuat tangan berkeringat dingin. Adam yang memperlihatkan sikap gadis di sampingnya tersenyum lalu menggenggam tangannya.


"Jangan gugup ya! Ingat ada aku ya sayang!" Adam mengingatkan kembali, dan Ratna pun mengangguk.


Mereka pun keluar dari mobil, dan berjalan menghampiri dua orang yang menyambut kedatangannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Ratna.


"Waalaikumsallam. Akhirnya datang juga, yang di tunggu." Bu Damayanti menyambut dengan senyuman, lalu ia menghampiri lalu memeluk Ratna.


Ratna terkejut, akan sikap Bu Damayanti. Yang menyambut dirinya dengan begitu hangat. Begitupun juga dengan pak Alam, yang tersenyum hangat ke Ratna.


Adam tersenyum melihat kedua orang tuanya, benar menyambut Ratna dengan hangat. Berarti memang apa yang di katakan oleh mama dan papanya benar, kalau mereka akan menerima gadis yang dipilih olehnya.


"Iya Mah, maaf kami baru datang. Tadi di jalan macet," jawab Adam.


"Yasudah kalau begitu, kita masuk yuk! Mama sudah menyiapkan masakan untuk kalian." Kata Bu Damayanti, menggandeng tangan Ratna, dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Ratna pun mengangguk. Ia merasa bahagia, karena orang tua Adam menyambutnya dengan hangat.


Bersambung...


__ADS_2