
Sedangkan di kejauhan, seorang pria menatap Ratna dan Adam dengan kesedihan. Pria itu adalah Arga, yang dimana di sebelahnya ada sang istri. Namun tatapannya terus memperhatikan mempelai pengantin wanita.
Tiara yang tak lain istri Arga, menatap sang suami yang terus menatap pengantin perempuan.
"Mas." Panggil Tiara menyentuh tangan Arga.
Pandangan Arga teralih, dan menoleh ke arah istri di samping. "Kenapa?"
"Aku pusing, kita pulang yuk!"
Arga menatap sang istri, yang dimana ia tau kalau Tiara sedang kurang sehat. Ia pun mengangguk, lalu menggandeng tangan istrinya.
Mereka menghampiri sepasang pengantin,dan bersalaman. Namun entah kenapa Arga tak melepaskan tangannya saat bersalaman dengan Ratna.
"Mas." Tiara menyentuh lengannya, dan membuat Arga melepaskan tangan Ratna.
Arga segera meninggalkan pengantin dan istrinya begitu saja. Sedangkan Tiara menatap pengantin wanita dengan tersenyum.
"Selamat ya untuk kalian, semoga menjadi keluarga yang bahagia." Lalu Tiara dan Ratna saling bersalaman.
"Terimakasih ya, dan selamat juga untuk pernikahan kalian. Maaf gak datang saat itu ada acara juga," jawab Ratna dengan berbohong.
Tiara mengangguk, setelah itu ia pergi meninggalkan kedua pengantin, dan menyusul Arga.
Tiara melihat Arga sudah berjalan menuju parkiran. Ia pun menyusulnya.
"Mas tunggu!"
Arga menghentikan langkahnya, dan menoleh kebelakang, yang di mana sang istri berada di belakangnya.
"Kamu kenapa ninggalin aku? Sebenarnya dia itu siapa? Kenapa kamu seperti itu kepada pengantin perempuan?"
"Mending kamu gak usah tau! Ayo kita pulang!" ucap Arga, dan Tiara hanya memperhatikan sang suami, terlihat dingin.
Tiara mengikuti sang suami, masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan acara pernikahan Ratna dan Adam.
Lanjut ke acara di dalam, yang di mana Gunawan selalu menemani sang istri.
__ADS_1
Gun memperhatikan kalau Liana merasa gelisah.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Gunawan.
"Gun, kita pulang yuk! Aku rasanya lelah banget!" ajak Liana.
"Yasudah yuk kita pulang. Kamu sudah lelah banget kayanya." Gunawan mulai berdiri dan membantu sang istri untuk diri.
Liana dan Gunawan berpamitan kepada kedua pengantin. Tak lupa mereka berpamitan kepada para keluarga.
Kini saat sampai di rumah, Liana segera ke kamar dan beristirahat. Gunawan dengan telaten memijat kaki sang istri.
Gunawan merasa khawatir karena sejak tadi sang istri sangat tak tenang, selalu gelisah.
"Kamu kenapa sayang? kalau lelah istirahat, aku akan temani kamu gak kemana-mana!"
"Rasanya gak tau kenapa aku gelisah aja, gak nyaman. Pinggang ku juga panas banget rasa nya." Liana selalu mengubah posisi duduknya, dan menarik nafas.
"Kita ke rumah sakit ya! Aku khawatir banget sejak tadi perhatiin kamu, gak tenang."
Meliana mengangguk sambil memegangi perutnya dan mengatur nafas. Sambil menunggu taksi online, Gun menyiapi perlengkapan untuk di bawa. Ia khawatir, kalau sang bayi tak sabar ingin lahir ke dunia.
Saat berada di dalam mobil, Liana baru merasakan pergerakan di dalam perutnya.
"Aaaa ... Gun, perut aku sakit." Sambil berpegangan lengan sang suami dengan kencang.
"Sabar ya sayang, tahan sebentar." Gunawan menyentuh perut sang istri.
"Sabar gimana sih Gun! Ini sakit banget, coba rasain nih sakit!" Liana dengan nada kesal.
"Ya Allah sayang, kalau bisa di oper rasa sakit kamu. Aku siap, biar aku aja yang ngerasain. Tapi kan gak bisa. Mangkanya aku cuma bisa bilang sabar." Gunawan menenangkan sang istri, sambil mengusap perut istrinya.
"Sayangnya Papa, yang tenang ya! Jangan buat bunda kesakitan. Kasian tuh bundanya sampai nangis." Bisik Gunawan, menempelkan di perut Liana.
"Huuuffhh ... huuuffhh ..." Liana mengatur nafasnya sedikit tenang.
Sang driver sejak tadi memperhatikan Gunawan, yang bisa menenangkan sang istri.
__ADS_1
"Mas nya hebat, bisa menenangkan istrinya. Salut saya sama Mas," ucap sang driver.
"Cuma itu Mas, yang saya bisa. Mau menggantikan posisi istri saya ya gak bisa. Yasudah hanya menenangkan aja," jawab Gunawan.
Kini mereka sudah berada di rumah sakit, rasa mulas pun di rasakan kembali oleh Liana. Gunawan sangat khawatir, dan cemas dengan kondisi sang istri.
Gunawan tak ingin kehilangan momen, ia menemani Liana untuk proses kelahiran buah hati mereka.
Gunawan tak tega melihat sang istri yang saat ini, sedang berjuang hidup dan matinya. Untuk melahirkan buah cintanya. Dengan wajah yang sudah di penuhi peluh, Gun tak henti-hentinya, menguatkan Liana.
"Ayo bunda, dikit lagi yuk! Kepalanya sudah terlihat. Ayo ibu dorong ya, satu dua tiga. Ayo bunda!" ucap sang bidan.
"Eeemmmmm ...."
Liana berusaha mengejan, mengikuti apa yang di suruh Bu bidan.
"Ayo Bun, lebih kuat lagi. Sekali lagi Baby nya keluar!"
"Huuuffhh ... huuuffhh... eeemmm ...."
Liana mengejan, sekuat tenaga. Sampai- sampai tangan Gunawan pun di cengkram dengan kencang.
"Ooooeeekk ... ooooeeekk ... ooooeeekk,"
terdengar suara tangisan bayi, yang sangat kencang. Liana dan Gunawan menangis saat mendengar suara bayi mereka.
Gunawan merasakan hatinya berdebar sangat kencang, mendengar bayi perempuan yang cantik menangis.
Gunawan menggendong baby lalu mengumandangkan adzan di telinga putri kecilnya. Hatinya kembali bergetar, dan air mata pun ikut mengalir.
Untuk pertama kalinya ia mengumandangkan adzan, yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Apalagi mengingat dirinya yang seperti apa dulu sebelum mengenal Istrinya. Hidupnya liar karena kurangnya kasih sayang dari orang tua.
Liana yang memperlihatkan sang suami, adzan. Ia pun ikut terharu, melihatnya .
'Mungkin bunda dan papa bukan orang baik Nak. Tapi kami berusaha mendidik kamu menjadi anak baik. Semoga kamu bisa menjadi cahaya di keluarga kita, dan memberikan banyak warna untuk kami sebagai orang tua. Sehat-sehat putri kecilku yang cantik.' Gumam Liana dalam hatinya.
__ADS_1
...Tamat...