
Kini Gunawan sudah sampai di sebuah cafe xxx, yang di sebutkan Ratna. Ia melihat kalau temannya sudah menunggu di sana, dan Gun segera menghampirinya.
"Hai! Sorry udah nunggu lama ya?" tanya Gunawan yang ikutan duduk di dekat Ratna.
"Lumayan. Emang elo dari mana si Gun?" tanya balik Ratna.
"Bokap masuk rumah sakit. Dia telpon gue terus, katanya mau ketemu gue." Jawab Gunawan, sambil memesan minuman.
"Sakit apa bokap loe?"
Gunawan hanya menaikkan kedua bahunya. "Males gue bahas dia. Sekarang baru butuh gue, kemarin di saat gue butuh, dia kemana?"
"Enggak boleh begitu, bagaimanapun dia bokap kandung loe! Anggap aja kemarin dia khilaf." kata Ratna melihat raut wajah Gunawan yang kesal.
"Iiiissshhh ... rese loe! Eeh ngomong-ngomong bukannya elo sakit. Kok elo kesini, bukan istirahat?" tanya Gunawan.
Saat itu pesanan Gunawan pun datang, secangkir black coffee. Ratna nampak bingung ingin menjawab apa, sebenarnya ia berat ingin memberitahu suatu hal kepada Gun.
"Sebenarnya gue kesini, ada yang ingin gue beritahu ke elo,"
"Elo ingin beritahu apa? Harusnya elo suruh gue ke rumah loe aja, jadi elo bisa istirahat di rumah. Terus elo kesini naik motor, dalam keadaan kaki sakit?"
"Gue naik Ojol," jawab Ratna dan Gunawan mengangguk.
"Yasudah entar balik bareng gue ya!" Ratna mengangguk. "Terus sekarang elo mau beritahu gue apa?"
"Eemm ... elo tau kabar tentang Liana?" tanya Ratna ragu-ragu.
"Belum, Liana gak ada kabar. Jujur aja, gue juga kangen banget sama dia," Gunawan tersenyum menyebutkan nama gadis yang ia rindukan.
"Ada apaan sih emangnya? kok elo nanya tentang cewek gue?" tanya Gunawan dengan rasa penasaran.
"Tapi elo janji harus kuat denger kabar yang akan gue bilang ke elo!" Gunawan semakin penasaran dengan pembicaraan Ratna.
"Apaan sih Na? Jangan bikin gue penasaran apa?" tanya Gunawan, sambil menyeruput kopinya.
"Kata ibu gue, Minggu besok Liana akan tunangan." Jawab Ratna, membuat Gunawan menyemburkan minumannya.
Entah kenapa mendengar Ratna mengatakan itu, hatinya Gun merasa sangat sakit.
"Elo enggak bercanda kan Na? Kalau Liana akan tunangan minggu besok?" tanya Gunawan dengan tatapan merah padam.
__ADS_1
Ratna menggelengkan kepalanya, tangan Gunawan terkepal dengan sangat kuat. Entah kenapa hatinya merasakan sakit, mendengar kabar tersebut.
"Gue enggak bercanda Gun.Ibu bilang begitu, karena ada yang kasih tau kalau putri pak Puji akan bertunangan. Gue juga udah tanya ke kakaknya juga, dan ternyata kabar itu benar,"
Mata Gunawan merah, dan mengembun. Ratna nampak tak tega melihat sahabatnya seperti itu.
"Kandas udah Na hubungan gue dengan dia. Kisah gue dan dia cukup sampai disini. Gue gak tau harus bagaimana, bahagia atau sedih. Setidaknya dengan berakhirnya hubungan ini, dia tidak akan di hukum lagi dengan nyokap nya." Gunawan tersenyum kecut mengatakan itu.
"Gun... " Ratna menyentuh tangan Gunawan, untuk menguatkan sahabatnya.
Gunawan menoleh ke arah Ratna, dan tersenyum. "Gue baik-baik aja Na. Hanya saja, gue butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau dia bukan milik gue lagi,"
Gunawan menyeruput kopi itu kembali, lalu ia tersenyum kembali.
"Bahkan rasa kopi ini pun seketika berubah, gak seperti tadi rasanya nikmat. Sekarang kopinya jadi hambar Na." Gunawan meletakkan cangkir itu kembali.
Setelah Gunawan berdamai dengan kenyataannya. Gun mengantarkan Ratna pulang, dan ia pun juga kembali ke ruko. Yang di mana Raka juga sudah menunggu temannya yang sejak tadi belum pulang.
Saat pulang pun Gunawan langsung masuk kedalam kamar dan mengurung diri. Bahkan perubahan sikapnya, Gun membuat Raka bingung.
Keesokan paginya.
"Tuh bocah kenapa lagi si? Kenapa dia kurung diri kaya anak gadis aja?" Raka nampak heran dengan Gunawan.
"Gun ...elo kenapa? Ini bengkel mau di buka enggak?" teriak Raka menggedor pintu kamar.
Pintu kamar terbuka, Raka melihat Gunawan dan kamarnya sangat berantakan. Dengan mata yang masih terlihat sayup, Gun mengatakan.
"Bengkel jangan di buka dulu, gue lagi gak bersemangat untuk otak atik motor."
"Elo kenapa, ada masalah? Penampilan elo gak biasanya, udah jam 11 bang, masih lecek banget tuh muka!" goda Raka, namun Gunawan tak peduli dengan ledekan temannya itu.
"CK! Berisik loe, gue mau tidur lagi." Gunawan hendak menutup pintunya kembali, namun Raka menghalanginya.
"Eeiit udah jam 11, gak mau sarapan dulu. Noh, gue udah beliin nasi kuning kesukaan elo, di warung mpo Hindun,"
"Gue gak berselera makan Ka," jawab Gunawan.
Raka melihat mata Gunawan sembab.
"Ada masalah? Kalau iya jangan diam aja, bilang sama gue. Seenggaknya elo bisa lega, karena bisa menceritakan masalah elo itu!"
__ADS_1
Gunawan masuk kedalam kamarnya, dan di ikuti oleh Raka di belakangnya. Terlihat kamar temannya itu sangat berantakan.
"Ya ampun Gun, nih kamar kaya kapal pecah." Raka mengambil barang-barang yang berserakan di lantai.
"Hati gue sekarang berantakan seperti kamar ini. Berantakan gak karuan," jawab Gunawan.
"Kenapa emangnya, bokap loe lagi?" tanya Raka dan Gunawan menggelengkan kepalanya.
"Meliana?" tebak Raka, dan Gunawan mengangguk. "Kenapa?"
"Dia akan tunangan dalam waktu Minggu ini, dengan cowok pilihan nyokap nya." Jawab Gunawan, mengusap wajahnya sendiri.
Raka terkejut mendengarnya, kalau Meliana akan bertunangan. Pantas saja wajah Gunawan sangat tidak baik-baik saja.
"Elo serius? Kalau cewek elo akan tunangan dengan cowok lain?" tanya Raka memastikan kembali.
"Apa ada wajah bercanda, saat gue bilang tadi? Gue tau dari Ratna, dia juga nanya ke kakaknya Liana, dan jawaban nya benar kalau Meliana akan tunangan dengan pria lain." Jawab Gunawan dengan tangan yang terkepal.
"Ya Allah. Gun elo yang sabar ya." Raka menepuk pundak Gunawan.
"Terus selanjutnya bagaimana?"
"Gue dan Ratna akan datang ke acara itu!"
"Elo serius akan datang? Melihat langsung pertunangan mereka?" tanya Raka tak percaya.
Gunawan mengangguk, dan Raka pun hanya bisa terdiam melihat bahwa temannya sedang patah hati saat ini. Ada rasa tak tega sebenarnya, hanya saja ia tak dapat berbuat apa-apa. Selain memberikan support kepada Gun, agar tetap kuat.
Hingga beberapa hari kemudian, adalah hari yang di mana hatinya Gunawan akan hancur. Harus menyaksikan pertunangan Meliana dengan pria pilihan orang tuanya.
Sedangkan di dalam ruangan, seorang gadis sedang duduk termenung di depan cermin. Bulir bening selalu keluar, basahi wajah cantiknya.
'Percuma saja, aku membuat rencana dengan Adam. Nyatanya, ibu akan tetapi menikahi aku dengannya. Gunawan, aku rindu kamu, maafkan aku yang sudah membuat hatimu terluka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti apa yang ibu katakan.'
Meliana segera menghapus air matanya, karena ia mendengar suara langkah kaki seseorang. Benar saja, langkah kaki itu adalah ibunya. Dengan raut wajah bahagia, sang ibu menghampiri putrinya.
"Kamu cantik sekali Liana. Ayo kita keluar, para tamu dan calon kamu sudah datang dan menunggu di halaman." Kata Bu Fitriana, seraya merapihkan rambut indah putrinya.
Meliana mengangguk, lalu Bu Fitriana membawa putrinya keluar, yang di mana para tamu dan calon besan nya menunggu di taman yang sudah di hiasi bunga-bunga.
Bersambung ....
__ADS_1