
Mobil yang di belakang mereka, memberikan bunyi klakson. Dengan cepat Adam mengendarai mobilnya untuk mengikuti arah Liana berlari.
Meliana terus berlari, sampai ia menyebrang jalan. Mata Ratna terus mencari kemana arah Liana lari.
"Pak, eeh Mas Adam," meralat ucapannya, membuat yang mempunyai nama hanya tersenyum. "Itu Meliana, dia berlari ke sana." Sambil menunjuk ke arah Liana yang sedang berlari.
Adam mengikuti kemana Ratna menunjuk, dan benar saja ia melihat Liana berlari, menuju ke jembatan penyeberangan. Meliana menaiki anak tangga, sambil menangis.
Sedangkan di belakang Meliana ada, Arga, Pujianto dan Fitriana yang sedang mengejar.
"Liana..." teriak Bu Fitriana.
"Ya ampun Liana, dia mau kemana? Gue harus kejar dia." Ratna membuka pintu mobil dan keluar mengejar Meliana.
Adam terkejut dengan Ratna yang tiba-tiba keluar dari mobil.
"Ratna ..." teriak Adam memanggilnya.
Namun Ratna tak mendengarkan panggilan Adam, ia terus berlari mengejar kemana Liana berlari. Meskipun ia juga merasakan kakinya sedikit nyeri, ketika di ajak berlari, namun ia tak menghiraukannya.
Tanpa pikir panjang, Adam pun juga keluar dari mobil, dan ikut mengejar Ratna.
Pujianto, Fitriana, dan Arga berhenti di jalan. Saat melihat Meliana berdiri di atas besi jembatan penyeberangan. Begitupun juga dengan Ratna, yang terkejut kalau Liana sampai melakukan hal yang di luar nalarnya.
"Meliana turun Nak!" kata pak Pujianto. "Nanti kamu jatuh sayang. Kita masih bisa bicarakan baik-baik, Liana jangan seperti ini!"
"Mel, ibu bilang turun! Jangan seperti ini!" Kata Bu Fitriana.
Meliana menggelengkan kepala.
"Enggak, aku gak mau. Lebih baik aku mati, dari pada aku harus melakukan ab*rs*! Biar ibu juga tidak merasa terbebani dengan aku, yang selalu membuat kalian malu!"
"Liana turun, jangan kaya gitu dong. Semuanya masih bisa di bicarakan baik-baik," Ratna ikut membujuk.
Bu Fitriana terlihat kesal dengan adanya Ratna. "Ngapain kamu di sini hah!"
"Bu cukup, jangan berdebat di keadaan kurang tepat. Sekarang kita bujuk putri kita agar ia turun!" cakap pak Pujianto.
Bu Fitriana pun akhirnya terdiam. Saat itu juga, datang Adam menyusul Ratna, dengan nafas tersengal-sengal.
Adam melihat Adam begitu dekat dengan Ratna. Namun untuk saat ini ia tidak memikirkan hatinya, hanya adiknya yang saat ini ia pikirkan.
"Meliana, Kaka mohon turun ya! Kita bisa membicarakan tentang ini!" pinta Arga.
__ADS_1
"Tapi kak, pasti ibu akan terus menyuruh aku untuk menggugurkan janin yang tak bersalah ini. Lebih baik aku ikut pergi dengan nya dari pada harus menghilangkannya!" jawab Liana dengan berteriak.
"Liana, gak ada yang menyuruh elo untuk menghilangkan janin itu!" timpal Ratna.
"Wanita itu Na, memaksa aku untuk menghilangkannya. Mangkanya aku memutuskan lebih baik aku seperti ini. Biar dia puas!" teriak Liana, sambil menunjuk Bu Fitriana.
Ratna dan Adam menatap Bu Fitriana dengan tatapan tajam.
"Ibu tidak menyukai Gunawan, dan memintaku untuk menghilangkan makhluk yang tak bersalah ini." Sambil menyentuh perutnya.
Semua orang yang melihat kejadian itu mendengar apa yang di katakan Meliana. Lalu Bu Fitriana mendapatkan tatapan sinis dari orang-orang.
Mendengar Meliana menyebutkan nama Gunawan, lalu Ratna berniat untuk menghubungi seseorang.
Ratna lalu berjalan menjauh dari keramaian untuk menghubungi Gunawan. Dua kali panggilan telponnya tak di angkat, lalu yang ke tiga Gun mengangkatnya.
"Hallo,"
"Iya Na ada apa? Gue lagi di jalan, jadi gak kedengaran telpon loe,"
"Gunawan, sekarang elo di mana. Elo bisa dateng kesini gak? Liana Gun, dia berniat bu*uh diri. Dia mau loncat dari jembatan penyeberangan,"
Gunawan di sebrang sana juga terkejut mendengarnya.
"Nanti gue share lokasinya ke elo,"
"Oke, thanks Na,"
Setelah itu panggilan pun berakhir, dan Gunawan mendapatkan pesan tentang lokasinya saat ini.
"Syukurlah tempatnya gak jauh dari sini." Gunawan menyimpan kembali handphonenya, lalu mengendarai motornya ke alamat yang di beritahu Ratna.
Lanjut ke Liana.
"Liana. Sekarang kamu turun ya! Semuanya bisa di bicarakan baik-baik," Adam pun ikut menenangkan.
"Adam, aku hanya ingin Gunawan yang datang. Aku ingin Gun saat ini," jawab Liana
Sedangkan semua orang yang melihat kejadian itu, juga sudah membujuk Meliana untuk turun. Namun Liana tidak mau.
Bukan hanya itu, ada orang yang ingin menghampiri Meliana, namun mundur kembali karena Liana berniat akan loncat, kalau sampai ada yang mendekat.
Saat itu juga Gunawan melihat keramaian di tempat yang dituju. Lalu ia turun dari motornya, dan menerobos orang-orang. Saat pandangannya melihat ke arah atas, matanya terbelalak, karena Liana sedang berdiri di jembatan.
__ADS_1
"Ya Allah Liana." Gunawan berlari keramaian, dan menaiki anak tangga.
Ratna tersenyum saat melihat Gunawan berlari menghampiri Meliana.
"Meliana," panggil Gunawan.
Liana menoleh dan tersenyum saat melihat Gunawan kini berada di hadapannya. Dengan mata yang berkaca-kaca, rasanya tak percaya pria yang ia rindukan kini hadir.
"Gun,"
"Liana, jangan lakukan itu ya sayang. Turun yuk, kita bicarakan baik-baik!" pinta Gunawan dengan sangat lembut.
Meliana mengangguk, lalu tersenyum. Gunawan mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Liana.
Namun tiba-tiba kaki Liana terpeleset dan ...
"Aaaaa ..." Meliana berteriak, karena kakinya terpeleset.
"Liana ...." Gunawan berteriak saat Meliana terjatuh.
Bukan hanya Gun, Ratna dan yang lainnya juga terkejut melihat Meliana yang saat ini berpegangan pada besi.
"Aaaa.... Liana bertahan!" teriak Ratna.
Gunawan melihat yang Liana masih bertahan, berpegangan pada besi.
"Gun ... aku takut," ucap Liana.
"Sayang, bertahan ya! Sekarang ada aku di sini, jangan lihat kebawah ya!" Liana mengangguk.
"Gunawan, aku sudah lemas, aku sudah tak kuat. Kalau nanti aku terjatuh dan tak selamat. Ada yang ingin aku sampaikan, ke kamu. Gun, sebenarnya aku saat ini sedang mengandung anak kamu. Hasil buah cinta kita." Ucap Liana, dengan isak tangisnya.
Gunawan terkejut mendengar apa yang di katakan Liana. Ada rasa tak percaya, namun memang mereka pernah melakukan hubungan tersebut. Gun pun yakin, kalau apa yang Meliana bicarakan pasti benar.
"Liana, jika apa yang kamu katakan benar. Aku mohon, kamu harus bertahan dan kuat. Ayo pegang tangan aku, yakin kalau kamu akan selamat." Kata Gunawan, sambil mengulurkan tangannya ke Liana.
Mata Gunawan sudah mengembun, karena ia tak terima jika gadis yang ia cintai harus tiada.
"Dengarkan aku, kamu jangan panik, harus tenang. Setelah ini kita bicarakan baik-baik hubungan kita, aku siap untuk menikahi kamu. Yakin ya sayang, yuk pegang tangan aku! Dalam hitungan ke tiga, kamu pegang tangan aku ya!" Liana mengangguk, namun, Gunawan khawatir dengan kondisinya yang sudah lemah.
"Satu, dua, tiga.."ucap Gunawan menghitung.
Bersambung ....
__ADS_1