
Ratna pun mengangguk. Ia merasa bahagia, karena orang tua Adam menyambutnya dengan hangat.
Saat di dalam ruangan, setelah makan bersama. Ratna pun di ajak bicara begitu hangat dengan kedua orang tua Adam.
"Ratna Mama senang Adam mengenalkan kamu dengan kamu. Soalnya kata Papa kamu itu karyawan yang baik,saat restauran masih Papa yang urus. Ternyata bos kamu yang sekarang, justru jatuh hati dengan kamu!" goda Bu Damayanti.
Ratna tersenyum mendengar Bu Damayanti bicara, sedangkan Adam hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Terus bagaimana Mah, pah. Apa kalian merestui aku Ratna?" tanya Adam tak sabar.
Pak Alam tersenyum melihat putranya dengan tak sabar nya. Begitupun juga dengan Damayanti, sebagai seorang ibu, ia bahagia melihat putra semata wayangnya bahagia.
"Iya Papa dan Mama merestui hubungan kalian. Jadi kami minta segeralah kalian melangsungkan pernikahan, karena kami tak sabar ingin memiliki menantu dan seorang cucu yang lucu." ucap Bu Damayanti, membuat Ratna merasa bahagia mendengarnya.
Setelah saling mengobrol tentang hubungan mereka. Adam lalu mengajak Ratna ke suatu tempat.
Adam menutup mata Ratna, menggunakan penutup. Lalu membawa ketempat yang di mana ia sudah siapkan surprise untuk gadis yang ia cintai.
"Mas Adam kamu mau bawa kemana sih? Jujur aku gak nyaman pakai penutup mata seperti ini!"
"Sabar sayang, nanti juga kamu tau. Sekarang kamu duduk sini!" Adam membantu Ratna untuk duduk.
"Sekarang aku buka penutup matanya, tapi kamu masih belum boleh melihat!" perintah Adam, dan Ratna mengangguk.
Dengan perlahan Adam membuka pengikatnya. Ratna tersenyum akan sikap yang di berikan oleh Adam, hatinya saat ini berdebar sangat kencang. Padahal ia tak tau kejutan apa yang akan di berikan oleh pria yang pernah menjadi bos-nya.
"Sekarang kamu boleh buka mata!" Ratna pun membuka matanya, dan tersenyum saat melihat hiasan nan cantik di depan mata.
"Suka gak, dengan kejutan ini?" Ratna mengangguk, ia tak dapat berkata apa-apa.
"Kamu yang melakukan ini?" tanya Ratna.
"Iya, tapi gak semuanya. Ini aku yang minta di hias seperti ini, tapi berkat bantuan yang lain juga," jawab Adam dengan terkekeh.
__ADS_1
"Ada kejutan lagi yang aku belum berikan ke kamu." Adam mengeluarkan sesuatu, Ratna terkejut saat pria di hadapannya menunjukkan kotak berwarna biru.
Adam tersenyum, lalu membuka kotak biru. Rupanya itu berisikan cincin. Ratna tertegun melihatnya.
Adam berlutut tepat di hadapan Ratna, membuat Ratna, merasa tersentuh hatinya.
"Ratna Antika. Aku Adam, pria bucin yang jatuh hati dan mencintai kamu. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin menjadikan kamu sebagai istri ku. Mau kah kamu menerima ku, dan menikah dengan ku?"
Dengan mata mengembun, karena terharu. Ratna pun mengangguk. "Iya aku mau menikah dengan kamu Mas,"
Adam tersenyum, mendengar jawaban yang di berikan oleh Ratna. Ia pun segera memasangkan cincin indah di jari gadis yang sangat dia cintai.
Ratna tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh Adam. Apalagi sampai pria itu melamar dirinya. Ia tak pernah membayangkan, bahwa mantan bosnya benar-benar ingin memiliki hubungan serius dengannya.
Dalam hatinya, ia sangat takut jika jatuh hati dengan pria yang derajatnya lebih tinggi darinya. Tapi rasa ketakutannya, salah. Justru keluarga Adam meskipun orang berada, tetapi mereka semua tak pernah menilai seseorang dari harta saja.
Sedangkan di tempat lain, Meliana melihat alat gawai nya. Yang di mana ia melihat status sahabatnya, terpasang cincin yang melingkar di jarinya.
"Hemm ... kenapa sayang?" tanya balik Gunawan.
"Ini, liat deh setatus Ratna. Ternyata Adam melamarnya. Uuuhhh ... sweet banget gak sih."
Gunawan melihat status Ratna di handphone sang istri. Ia tersenyum saat melihat cincin melingkar di jari sahabatnya. Yang di mana dulu ia pernah jatuh hati kepadanya.
"Iya, akhirnya Ratna mendapatkan pria baik. Semoga Adam dan keluarganya benar-benar mencintai Ratna dengan tulus,"
Entah kenapa mendengar Gunawan bicara seperti itu, hatinya merasa sedih. Karena sikap ibunya ke Gun tak pernah baik. Sang suami selalu di nilai rendah di mata sang ibunya.
"Maaf ya sayang. Ibu ku tak pernah bersikap baik kepada kamu. Ibu selalu merendahkan kamu, dan menyakiti hati kamu. Maafkan ibu ya !"
Gunawan terdiam, apa yang di katakan oleh Liana benar adanya. Kalau ibu mertua selalu menghina dirinya. Namun ia tak mau mempermasalahkan itu, dan ia baru menyadari kalau sang istri sedang sensitif sekali perasaannya.
"Hei sayang. Aku gak kenapa- kenapa, kamu jangan sedih ya! Sekarang yabg terpenting kita berdoa aja, agar ibu di lembutkan hatinya. Semoga kebencian ibu bisa luntur seiring waktu berjalan." Gunawan seraya menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
"Amiinn ... sekarang sudah jangan sedih lagi. Aku gak kamu kepikiran dan sedih. Lalu nantinya baby kita ikut merasakan kesedihannya." Gun menghapus air matanya.
Dua bulan kemudian.
Usia kehamilan Meliana memasuki tujuh bulan. Perutnya audah terlihat membuncit, dan aura cantik Liana pun semakin terpancar.
Gunawan dan Meliana pun kini sudah ada ART yang membantu pekerjaan di rumah. Gun jadi tak terlalu memikirkan istrinya ketika di rumah.
Hari ini, Liana sedang bersiap-siap, datang ke acara pernikahan Ratna dan Adam. Meliana dan Gunawan akan datang di acara bahagia sahabatnya.
Pernikahan Adam dan Ratna di laksanakan di sebuah gedung yang besar, yang di hiasi dengan dekorasi dan bunga-bunga.
Kini di depan para saksi, Adam mengucapkan ikrar janji dengan hikmat. Senyuman dan tangisan kebahagiaan pu di rasakan oleh Ratna. Yang di mana kina ia sudah sah berstatus menjadi istri dari pria yang mencintai dirinya.
Pak Syafi'i dan Bu Nur, sangat bahagia. Karena putri semata wayangnya kini sudah di persunting dengan pria baik, dan keluarganya pun juga menerimanya.
Kini Ratna dan Adam duduk di kursi pelaminan dengan wajah kebahagiaan. Meliana dan Gunawan yang menyaksikan hari pernikahan mereka ikut bahagia, karena sahabatnya pun kini menemukan pria baik yang akan melindunginya.
"Selamat ya untuk kalian, aku ikut merasakan kebahagiaan melihat kalian kini sudah sah menjadi suami istri." Liana bersalaman kepada Adam, lalu memeluk Ratna, mengucapkan selamat.
"Terimakasih Liana, Gunawan." Mata Ratna sudah mulai mengembun.
"Stop jangan sedih. Gue gak mau liat sahabat gue bersedih lagi. Sekarang udah ada Adam yang akan melindungi elu lagi. Jadi gak usah sok kuat kalau elo lagi rapuh!" pesan Gunawan, dan di angguki oleh Ratna.
"Adam gue titip sahabat baik kita ke elo. Jangan elo buat nangis, apalagi sampai nyakitin hatinya. Meskipun dia paling pintar menyembunyikan kesedihan dan masalah."
"Siap, saya akan menjaga dan gak akan buat sahabat kalian sedih. Terimakasih buat kalian, karena sudah menjadi sahabat yang selalu ada untuk Ratna,"
Gunawan dan Liana mengangguk, sedang Adam merangkul pinggang Ratna dengan sangat romantis.
Sedangkan di kejauhan, seorang pria menatap Ratna dan Adam dengan kesedihan. Pria itu adalah Arga, yang dimana di sebelahnya ada sang istri. Namun tatapannya terus memperhatikan mempelai pengantin wanita.
Bersambung....
__ADS_1