
"Ada read out ledakan dari sebuah radiasi listrik bertegangan tinggi pak.."
ujar seorang pria berpakaian hazmat saat seorang pria berpakaian putih di dekat van yang terparkir tidak jauh dari situ mendekatinya.
"..aneh.." ujar pria tersebut sembari menatap indikator pembacaan tingkat radiasi.
"Tidak ada gardu listrik yang meledak dan tidak ada sebuah kabel listrikpun yang putus dan menjuntai ke tanah"
ujarnya sembari melihat sekeliling.
Pria dalam pakaian hazmat hanya mengangkat bahu nya dan kembali berjalan berkeliling.
"Beberapa tembok memang terlihat hangus pak.." ujar pria dalam pakaian hazmat tersebut.
"Namun hangus karena terbakar dan hangus karena sebuah radiasi tegangan tinggi sangat berbeda.." kembali pria dalam pakaian hazmat berkata.
"..ledakan petir.." gumam pria berpakaian putih disampingnya.
"Ambil beberapa sampel dari tempat yang terbakar dan tempat terkena radiasi.." pria dalam pakaian putih kembali berkata.
"Kita analisa setiba di lab"
kembali pria tersebut berkata sembari mengambil sebuah handphone di saku celana nya dan mulai menghubungi beberapa nomor.
Tak lama beberapa petugas dan penyidik yang berada di sekitar tempat kejadian mulai meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Daerah sekitar tempat kejadian kembali menjadi lengang hanya beberapa kendaraan kecil dan beberapa warga yang terlihat melewati area tersebut.
Reporter dari beberapa stasiun televisi dan media online mulai kembali memberitakan insiden amuk massa semalam namun beberapa pihak nampaknya sengaja menyembunyikan kejadian detailnya.
"..makhluk mutasi..ledakan petir.."
ujar pria dalam pakaian hazmat setelah selesai memeriksa daerah insiden tersebut kembali berkata.
"Memang semalam hujan deras.."
kembali salah satu pria dalam pakaian hazmat berkata.
"Iya tapi tidak ada laporan petir yang menyambar sampai ke tanah.."
"Dan makhluk mutasi semalam yang mengamuk.." kembali pria tersebut berkata.
"Sekarang berada dimana?"
tanya pria tersebut sembari membuka pakaian hazmatnya.
Sejenak keheningan menyelimuti suasana dalam van yang membawa mereka menuju sebuah fasilitas penelitian radiasi nasional.
Beberapa jam kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan sebuah lorong diantara dua bangunan yang terlihat hangus akibat terlalap api karena insiden semalam.
Seorang pria memakai jaket hitam nampak keluar dari mobil tersebut dan melangkah memasuki lorong gelap dihadapanya.
__ADS_1
"Jam sembilan lewat lima belas.."
ujar nya sembari menatap ke arah sebuah aplikasi jam digital di dalam desktop handphone dalam genggamanya.
"..seharusnya dia sudah ada disini.." kembali pria tersebut bergumam.
Tak lama pria tersebut merogoh kantung di jaket hitamnya dan mengeluarkan sebuah korek api sementara sebatang rokok dikeluarkan dari balik kantong baju kemeja putihnya.
Setelah menengok ke arah kanan dan kiri pria tersebut menempelkan rokok pada sela bibirnya.
Sebuah cahaya api dari korek gas dalam genggaman seorang pria di dalam sebuah lorong terlihat jelas.
Seketika cahaya api yang menyala dari sebuag korek gas terlihat agak membesar setelah menyentuh ujung dari sebuah rokok.
Sebuah hisapan dalam dalam ditarik oleh pria dalam lorong tersebut dan setelah sedikit terbatuk batuk gumpalan asap dari dalam mulutnya terlihat mengepul keluar.
Jantung pria dalam lorong gelap tempat kejadian semalam seketika hampir berhenti ketika asap yang dihembuskanya menyentuh sebuah topeng ballistic dihadapanya.
"Uhuk..uhukk..maaf.." ujar pria tersebut.
"Sejak kapan kau mulai merokok?" tanya Gundala dalam balutan ballistic armor yang berdiri dihadapanya.
"Kalau yang kunyalakan cuma korek orang bisa curiga.." ujarnya.
Gundala hanya terdiam dan kembali melihat sekitarnya.
__ADS_1