Gundala Sayap Malam : The Ballistics

Gundala Sayap Malam : The Ballistics
Son


__ADS_3

"Selamat Datang"


seru sebuah suara dari atas panggung di sebuah pelataran luas sebuah bangunan pinggir pantai.


Seorang pria tinggi bertato tampak melangkah diatas panggung sembari sesekali menatap ke arah para pemuda dihadapanya.


Seketika DJ yang tengah memainkan musik mendadak terhenti dan pria tersebut kembali melanjutkan pembicaraanya.


"Saudara saudaraku selamat datang di istanaku.."


pria diatas panggung kembali berkata.


Serentak para musisi yang berada dibelakang pria tersebut mulai melangkah menuruni sebuah tangga kecil di belakang mereka dan berjalan menjauhi panggung.


"..kali ini kita kembali berkumpul ditempat ini untuk sebuah tujuan.."


ujar pria diatas panggung kembali berkata.


"Beberapa hari yang lalu.."


ujar pria tersebut sembari memberikan sebuah isyarat untuk menyalakan projector yang tergantung diatas sebuah besi di seberang panggung.


Sebuah rekaman video mulai dimainkan di layar besar dibelakang panggung sesaat setelah pria bertato memberi sebuah isyarat.


"Kawan kawan kita telah melakukan sebuah aksi bersejarah.."


ujarnya sembari menatap ke arah layar besar yang memainkan sebuah rekaman video tentang amuk massa beberapa hari yang lalu.


Sementara para pengunjung tempat tersebut mulai memperhatikan pria yang sedang berbicara diatas panggung tersebut.


"..ah maaf.." ujar seorang wanita yang tidak sengaja menyenggol pria bertudung di sebuah pojokan.

__ADS_1


Pria tersebut hanya mengangguk sembari menundukkan kepalanya dan berlalu dari hadapan wanita tersebut.


"..pak will.."


ujar Anto dari balik jalur komunikasi.


"…iya to.."


ujar pria bertudung tersebut sembari melangkahkan kakinya menuju sebuah pojokan di seberang lantai dansa.


"Orang yang diatas panggung sepertinya.." ujar Anto berkata.


"..namanya jerry.."


ujar Gundala yang kembali berdiri di sebuah pojokan gelap sembari terus menatap ke arah panggung tempat pria bertato tersebut berbicara.


****


ujar seorang pria dihadapan Seorang penyidik wanita didalam sebuah ruang kerja metro department.


"..sangat kacau.." ujar pria tersebut.


Sembari meneruskan pekerjaanya pria tersebut kembali menceritakan sebuah kisah kepahlawanan seorang pembasmi kejahatan.


"…namanya adalah Gundala Putra petir.." ujar pria dihadapan penyidik tersebut.


Beberapa meja tempat kerja penyidik metro sudah dibersihkan dan lantai ruangan tersebut kembali berkilat setelah mendapat sapuan dari sebuah mop basah di tanganya.


"Banyak sekali kriminal dan orang yang melakukan kejahatan di kota ini ditangkap olehnya.." ujar pria dihadapan Sarah.


"Apakah orang itu…" tanya Sarah yang dijawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Dia bukan petugas keamanan dan bukan salah satu anggota dari kesatuan.."


ujar pria tersebut.


"Bisa dibilang dia hanyalah salah satu warga yang sangat peduli terhadap keamanan.." ujar pria dihadapan sarah


"Lalu kenapa berkas berkas tentang Gundala tidak ada?" tanya Sarah.


"Apakah setiap kejadian harus mempunyai berkas?" kembali pria dihadapan sarah bertanya


Sesaat sarah hanya terdiam dan kembali menyimak perkataan pria dihadapanya.


Pria dihadapanya tersenyum dan kembali berkata.


"Zaman dulu tidak seperti sekarang mbak.." jawabnya kembali sembari tersenyum.


"Berita tentang Putra petir hanya dipasang di sebuah pojokan koran pagi dan orang mulai melupakan berita tersebut pada sore hari nya.."


ujarnya kembali berkata.


"..kalau saja kejadianya pada masa sekarang pasti sudah jadi viral.."


ujar sarah dalam hati.


"Bahkan tentang keberadaan putra petir hanya sebagian kecil orang yang mengetahuinya.." kembali pria tersebut berkata.


"..dan berkas tentangnya.."


pria dihadapan sarah berkata sembari memasukkan alat pembersih ditanganya kembali ke ruang janitor.


"Dipegang oleh Sebuah badan khusus fenomena luar biasa.."

__ADS_1


sahut pria tersebut sembari berlalu dari hadapan sarah.


__ADS_2