
Sebuah bangunan besar yang berdiri megah tepat di tengah sebuah lahan seluas tiga hektar menjadi tujuan akhir sebuah mobil mewah yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah pusat kota.
Pintu gerbang yang terbuat dari besi setinggi dua meter bergerak perlahan saat sebuah tombol dari balik stir mobil tersebut disentuh.
Kendaraan berwarna hitam mulai menurunkan kecepatanya saat melewati kedua gerbang tersebut dan berhenti tepat di depan sebuah lobby bangunan tersebut.
Sebuah tulisan besar yang berbunyi WISMA SANCAKA tertera di dinding lobby pintu masuk bangunan besar bergaya kolonial nampak sangat jelas terlihat dari seberang pintu gerbang di halaman depan.
Seorang pemuda tampak keluar dari kendaraan tersebut dan melangkah masuk ke dalam bangunan dihadapanya.
Dua buah pintu jati berukiran relic tradisional terbuka dan mengeluarkan sebuah suara berderit mulai terdengar saat pemuda tersebut mendorong panel pintu dihadapanya.
Beberapa foto lama dengan bingkai besar terlihat menempel di dinding ruang tamu bangunan tersebut.
Beberapa patung bertema tradisional dan sebuah patung ksatria nampak berdiri tegap di pinggiran ruang tamu yang dilewatinya.
Setelah melewati sebuah lorong panjang dibelakang ruang tamu langkah pemuda tersebut terhenti disebuah pintu besar berwarna kecoklatan.
Pemuda tersebut kembali mendorong pintu penutup ruangan tersebut dan mulai melangkah masuk ke dalam setelah pintu dihadapanya mulai bergerak ke samping dan sedikit membuka sebuah celah untuk dilewati.
Tepat dibawah jendela besar yang menghadap ke arah taman di samping bangunan besar tersebut terlihat sebuah meja besar dengan beberapa tumpukan buku buku lama diatasnya.
__ADS_1
Di sepanjang ruangan tersebut terlihat tiga tingkat rak buku yang berisikan ribuan buku tebal yang tersimpan rapi di dalamnya.
Kembali sebuah lukisan dengan bingkai besar tergantung di sebuah sudut ruangan besar dalam bangunan tersebut.
"..Eyang.."
sahut pemuda tersebut sembari tersenyum saat melihat sebuah tulisan yang terukir di bingkai lukisan tersebut.
'Insinyur Sancaka' sebuah nama yang terukir tepat di bawah lukisan seorang pria berjas hitam yang sedang duduk di sebuah meja.
Kembali pemuda tersebut melangkah menuju ke meja besar di ujung ruangan baca tersebut dan duduk di sebuah kursi besar di belakangnya.
Beberapa foto tampak terlihat di sebelah tumpukan buku yang tertata rapi diatas meja tersebut.
kembali sebuah nama tertulis diatas sebuah buku besar yang menyimpan beberapa catatan catatan penelitian dan kajian ilmiah.
Pemuda tersebut menyandarkan kepala nya di kursi besar belakang meja dan kembali melihat sekelilingnya.
Beberapa kenangan tentangnya dan tentang keluarga nya mulai teringat saat pemuda tersebut melayangkan pandanganya ke seluruh tempat tersebut.
Sebuah foto yang memperlihatkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di raihnya.
__ADS_1
Terlihat seorang pemuda berkaos biru berdiri gagah disamping seorang pria berkemeja dengan latar belakang fasilitas pembangkit tenaga nuklir yang baru dibangun.
"..pak wahyu.."
gumamnya sembari tersenyum saat melihat foto pak wahyu yang sedang berdiri disamping ayahnya.
Tak lama pemuda tersebut kembali bangkit dari kursi besar yang menjadi tempat mengingat semua memori masa lalu nya dan kembali melangkah menuju sebuah pojokan dalam ruang perpustakaan tersebut.
Matanya tertuju pada sebuah buku besar yang tersusun rapi di dalam rak di sebelah kiri tempatnya berdiri.
Sebuah buku tebal berwarna kebiruan dengan sebuah judul dengan tulisan tebal menghiasi sampul buku tersebut.
"Efek Radiasi listrik dan distorsi massa" terlihat judul buku tersebut ketika pemuda dihadapan rak besar menarik keluar sebuah buku berwarna biru.
Tak lama setelah buku tersebut tertarik keluar sebuah panel di sudut ruangan yang gelap terbuka.
Sebuah ruangan kecil di balik rak buku mulai terbuka dan sebuah lampu kecil menyinari isi didalamnya.
Sebuah kostum berwarna hitam tergantung di dalam ruangan tersebut setelah sebuah panel terbuka.
Sebuah kostum dan sebuah topeng dengan lambang sepasang sayap di kedua sisinya tampak jelas terlihat dihadapanya.
__ADS_1
"Gundala Putra Petir.." gumam pemuda tersebut sembari menyentuh kostum berwarna hitam berbahan velcro dihadapanya.