
"Mereka membangun labolatorium untuk memproduksi Blue Angels di dalam lambung kapal!"
seru pak wahyu.
"..pantas saja.."
ujar gundala yang melihat sebuah titik di power glovesnya tiba tiba menghilang setelah melewati mesin besar di dalam ruangan mesin.
"..saya di dalam saluran lift pak.."
ujar gundala pelan saat membuka sebuah pembatas ventilasi dihadapanya.
Sebuah lorong berbentuk vertikal terlihat dihadapanya.
Dari balik saluran ventilasi Terlihat sebuah lift sedang tertarik oleh sebuah kawat besi menuju ke atas.
Dan tak lama sebuah lift terlihat tengah turun ke bawah.
"Kau harus merapatkan tubuhmu ke arah dinding will jika tidak ingin terhimpit oleh salah satu lift yang lalu lalang dihadapanmu.." ujar pak wahyu.
Gundala kembali meraih sebuah benda di waist band miliknya dan mengambil dua buah pengait.
Dua buah pengait type rascal dalam genggamanya di tanam ke dinding saluran ventilasi.
Dua buah power rope yang terpasang dipinggangnya mulai terbentang saat gundala melompat ke luar dari lorong ventilasi tersebut.
__ADS_1
Sepasang power gloves seperti menghisap dinding di belakangnya saat Gundala mulai merayap di ketinggian lorong tersebut.
Perlahan lahan gundala merayap menyusuri lorong lift menuju lubang ventilasi di bawahnya namun tak lama sebuah cahaya terlihat turun dari atas.
Sebuah lift pengangkut penumpang terlihat turun dari dua lantai di atasnya.
Dengan cepat gundala merapatkan tubuhnya ke dinding di pinggiran lubang elevator tersebut untuk menghindari hantaman dari benda besar yang sedang turun ke arahnya.
"..hampir saja.."
ujar Gundala saat sebuah lift yang hanya berjarak beberapa senti melewatinya.
"Telat sedetik saja kau bisa terseret lift ke bawah will.."
"Pak will tepat dibawah anda ada sebuah penutup ventilasi yang mengarah ke ruang mesin.." ujar anto.
Gundala menengok ke arah bawah sembari mencoba meraih penutup ventilasi tersebut dengan lenganya.
Sebuah cengkeraman dari power gloves membuka ventilasi dan sesaat setelah penutup terbuka sebuah lorong panjang menuju ruangan mesin terlihat dari baliknya.
Gundala kembali merayap melalui lorong ventilasi udara menuju sebuah ruangan mesin tepat di ujung saluran udara.
"Atlantic queen mulai memasuki perairan internasional.."
ujar juru mudi kapal besar tersebut sembari menatap ke arah anjungan dihadapanya.
__ADS_1
Beberapa crew kapal tersebut tampak lalu lalang di sekitar ruang kemudi utama.
"Pak ada laporan badai besar tepat di jalur pelayaran.."
ujar seorang crew saat menatap sebuah monitor dihadapanya.
Dari sebuah citra satelit terlihat sekumpulan awal mulai membentuk formasi cumulus nimbus di angkasa pertanda badai beserta hujan akan segera menghampiri mereka.
Sang kapten kapal tersebut hanya tertawa sesaat setelah mendengar seorang crew kapal yang baru saja lulus dari pendidikanya berkata.
"Badai seperti itu tidak usah terlalu di khawatirkan.."
ujar sang kapten sembari menatap ke arah kumpulan awan yang mulai menghitam dihadapanya.
Udara dingin lembab yang membawa sedikit air mulai dirasakan oleh para crew kapal saat kapal tersebut melaju ke arah kumpulan awan hitam dihadapanya.
Ombak yang meninggi mulai terasa saat sebuah gelombang menghantam sisi kapal dari sebelah kiri.
Anjungan di hadapan mulai terangkat saat sebuah ombak besar datang menghampiri dari arah depan.
"Suara apa itu?"
ujar seorang pria di ruang mesin saat mendengar suara berdebum dari dalam saluran ventilasi udara yang berada di atasnya.
Gundala yang sedang merayap di dalam saluran ventilasi sedikit terhempas dan menghantam sisi dinding ventilasi sebelah kanan saat kapal tersebut dihantam ombak.
__ADS_1