
Sebuah penutup ventilasi tampak terbuka dari balik lorong saluran udara tersebut.
Penutup ventilasi berbahan baja yang tergantung di atap sebuah ruangan perlahan terbuka dan terlihat masuk ke dalam saluran diatasnya.
Sesosok makhluk hitam tampak turun perlahan dari balik lubang tersebut menggunakan dua buah power rope yang menempel di pinggangnya.
Dari balik thundervisor makhluk tersebut terlihat beberapa hasil analisa radiasi yang terdapat dalam ruangan yang dimasukinya.
"..saya di dalam pak.."
ujar gundala sembari berjongkok di ruangan tersebut setelah melepas power rope yang menempel di pinggangnya.
Pak wahyu dan anto melihat pergerakanya melalui sebuah monitor besar dalam thunderlair kembali menghela nafas panjang.
"Dari situ anda harus menuju ke arah kanan pak will.."
ujar anto sembari melihat desain hologram 3d dihadapanya.
Sebuah lorong yang menghubungkan ruangan tersebut dengan sebuah ruangan lain tampak dihadapan gundala yang mulai bergerak pelan sembari merapatkan tubuhnya ke sisi ruangan yang tidak disinari cahaya.
"Will power gloves yang kau gunakan tidak mempunyai kekuatan seperti power gloves yang menyatu di ballistic armor.." ujar pak wahyu.
Gundala menatap sarung tangan yang dikenakanya dan menyentuh ujung benda tersebut dengan jari telunjuknya.
"..mini vibranium.." ujarnya pelan sembari melangkah menuju sebuah pintu dihadapanya.
__ADS_1
"Untuk tugas ringan seperti yang sedang kau kerjakan sepertinya mini vibranium cukup.." kembali pak wahyu berkata.
"..pak will pintu didepan sepertinya diamankan oleh sebuah sistem keamanan.."
ujar anto saat melihat sebuah box kecil yang terpasang di salah satu bagian pintu tersebut.
"Retina scan..fingerprint..panas tubuh..semuanya di data dan di sesuaikan melalui sebuah jalur fiber optik ke sebuah server database.."
ujar anto sesaat setelah melihat sebuah kunci pengaman yang terpasang di pintu tersebut.
"Hanya jaringan lokal.." ujar pak wahyu.
"Yap..si pemasang alat ini sepertinya punya penyakit paranoid pak.." kembali anto berkata.
"Servernya tidak terhubung ke jalur internet.." ujar anto kembali.
Sesaat setelah berhadapan dengan box pengaman di sebuah sudut pintu penghubung antara ruangan gundala menempelkan power glovesnya ke sebuah papan elektronik.
Bagian belakang power gloves yang dikenakan gundala mulai menyala saat sebuah bulatan di telapak tanganya men decrypt beberapa password untuk membypass sistem keamanan.
"..password diterima.." ujar gundala saat melihat pintu dihadapanya terbuka.
Dengan cepat gundala melangkah menuju sebuah pintu yang terbuat dari bahan kaca tebal anti peluru dihadapanya.
"…lab didepan.." ujarnya sembari melangkah perlahan menuju pintu tersebut.
__ADS_1
"..ada yang aneh pak.." ujar anto pada pak wahyu.
"Aneh kenapa to?" tanya pak wahyu saat melihat gundala membuka pintu labolatorium dihadapanya.
"..terlalu sepi.." ujar anto kembali sambil memutar pandangan kamera melalui sebuah joystick.
"..iya yah..saya juga merasa seperti itu.." tanya pak wahyu.
Sesaat kemudian sebuah lengan berbalut power gloves mendorong pintu kaca tersebut dan terlihat sebuah ruangan luas di dalamnya.
"Kosong.." ujar Gundala.
"..sial.." pak wahyu kembali berkata.
"..mereka memindahkan labolatoriumnya.." ujar anto saat melihat sebuah ruangan kosong melalui kamera thundervisor.
Beberapa bekas cairan kimia dan beberapa peralatan labolatorium masih tersimpan rapi sementara sisa botol penyimpanan cairan tetranol masih tergeletak di atas sebuah meja dihadapan sebuah kontainer berbahan besi tersebut.
Tak lama beberapa langkah kaki terdengar mendekati tempat tersebut dari arah belakang.
Dua pria berpakaian putih melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut sembari membawa kotak kosong untuk menyimpan barang yang masih tertinggal di atas meja.
"..pak bos minta semua kegiatan dipindahkan.." ujar seorang pria sembari tersenyum.
"..iya labolatorium yang baru lebih besar dari yang ini.." ujarnya kembali sembari melihat ke sekeliling ruangan tersebut.
__ADS_1
Dengan cepat pria tersebut menaruh kotak kosong yang dibawanya dan mengambil beberapa sisa botol dan cairan kimia yang masih tergeletak diatas meja.
"Beres yah.." ujar pria disampingnya sembari melangkah ke luar meninggalkan ruangan bekas labolatorium tersebut.