
"Pak mau tanya.." ujar Anto singkat.
"Tanya ke siapa?" tanya pak wahyu.
Anto hanya mengacuhkan ucapan pak wahyu dan kembali berkata.
"..bagaimana sayap pulsar yang mempunyai ukuran sebesar itu bisa.." tanya Anto saat menatap Gundala yang sedang melangkah melewati kerumunan.
"Tak terlihat?" jawab pak wahyu sembari tersenyum.
Di hadapan monitornya terlihat sesosok pria memakai long coat dan memakai sebuah tudung untuk menutupi wajahnya berjalan cepat ke arah belakang panggung.
"..gini to.." ujar pak wahyu pada Anto yang sedang keheranan.
"Konsep Ballistic armor adalah sekumpulan lempengan logam vibranium yang direkatkan satu dengan yang lain.."
ujar pak wahyu kembalk berkata.
"Jadi maksudnya sayap pulsarnya terlipat pak?" tanya anto kembali.
Pak wahyu mengambil selembar kertas dari balik sebuah map berwarna merah di atas sebuah meja di samping sofa.
"Kalau beberapa keping vibranium bersatu bentuknya seperti ini" ujar pak wahyu sembari memperlihatkan sebuah lembaran kertas berwarna putih di atas meja.
"Dan jika lempengan Vibranium itu terlipat akan seperti ini.." ujar pak wahyu sembari melipat sebuah kertas dihadapanya.
Setelah melipat kertas ditanyanya beberapa kali terlihatlah sebuah bentuk kecil dari kertas tersebut.
"Jadi vibranium itu fleksibel ya pak.." ujar anto kembali.
Pak wahyu hanya mengangguk dan kembali memperhatikan layar besar dihadapanya.
Disebuah pojokan gelap tampak sepasang lelaki dan perempuan sedang beradu argumen setelah beberapa saat keduanya saling berteriak beberapa pria berpakaian hitam menghampiri dan melerai mereka.
__ADS_1
Tampak sang wanita melangkah menuju sebuah pojokan di sisi kanan dan terduduk sendirian.
"..terimakasih.."
ujarnya saat menerima sebuah sapu tangan untuk menyusut matanya yang basah.
"..lelaki brengsek.." ujarnya sembari menangis.
Lelaki disampingnya hanya terdiam dan kembali menatap ke arah panggung tempat pria bertato sedang berbicara.
..satu tahun kami bersama dan lihat…"
ujar sang wanita sembari melayangkan pandanganya ke arah sekumpulan anak muda yang sedang berkumpul di tengah pelataran besar dihadapanya.
"Cowok sialan itu selingkuh.."
ujarnya sembari menatap seorang pemuda yang sedang merangkul dua wanita.
kembali wanita tersebut berkata di sela isaknya.
Pria disampingnya hanya terdiam dan terus memperhatikan gerak gerik pria bertato di atas panggung.
"Aku tinggalin keluarga dan kehidupan lamaku cuma untuk dia.."
kembali wanita tersebut berkata sembari menangis.
Pemuda ditengah ruangan tersebut hanya tersenyum sinis ke arah wanita tersebut dan melangkah menuju sebuah pojokan di sisi kiri panggung.
"..sekarang aku sudah tidak punya apa apa.." ujar wanita tersebut kembali berkata sembari menangis.
"..aku tidak tahu harus kemana lagi…"
ujarnya ditengah isak tangisnya yang makin deras.
__ADS_1
Pria disamping wanita tersebut masih terdiam hanya menatapnya dari balik tudung yang menutupi wajahnya.
"..dan sekarang kawan kawanku…" ujar pria bertato diatas panggung.
"Sekarang saatnya kalian semua menjadi sesuatu yang baru.."
ujar pria bertato sembari melangkah ke arah sebuah tangga yang menuju ke tengah pelataran luas di hadapan panggung.
"Sesuatu yang luar biasa.."
ujar pria bertato tersebut sembari merangkul seorang pria berjaket coklat di hadapanya.
"..sesuatu yang akan mengubah dunia…" ujar pria bertato tersebut sembari membuka kedua tanganya.
"Maka malam ini…."
lanjut pria bertato kembali berkata.
"..aku akan membagikan sebuah anugrah untuk kalian semua…"
ujarnya sembari berlari kembali ke atas panggung.
"Anugrah yang kemarin kawan kalian rasakan.."
ujar pria tersebut sembari menuju ke sebuah panel di ujung panggung.
Tak lama beberapa butir partikel berwarna biru berjatuhan di seluruh tempat tersebut dan mulai memenuhi seluruh pelataran di depan panggung.
"Malam ini…Hiruplah…"
kembali pria bertato tersebut berkata sembari melangkah ke tengah panggung.
"…Blue Angels.."
__ADS_1