
"Mbak Sarah kau boleh menangkapku sekarang.."
ujar Gundala yang sedang duduk di tangga sebuah van kendaraan anti huru hara.
Beberapa mobil anti huru hara mulai kembali berdatangan dan beberapa mobil ambulans mulai terlihat disekitar lokasi kejadian.
Beberapa perawat yang menggunakan baju putih mulai memindahkah korban mutasi ke dalam ambulans dan membawanya pergi.
"Nanti saja..sekarang aku masih sibuk.."
ujar sarah yang duduk disamping sosok hitam tersebut.
"Sepertinya kasusnya akan jadi panjang.."
ujar pak burhan yang berdiri dihadapan mereka.
"Maksudnya bagaimana pak?" tanya sarah cepat.
"Pria bertato yang menyebarkan Blue angels masih buron.."
ujar Gundala sembari menatap ke arah bangunan besar di pinggir pantai tersebut.
"Kami masih mencari informasi tersangka nya pak.." ujar salah satu penyidik yang baru tiba di lokasi tersebut.
"Beberapa footage rekaman dari drone kukirimkan pak.." ujar Gundala.
"Terimakasih.." ujar pak burhan sembari melangkah menuju ke bangunan di pinggir pantai tersebut.
"Dan mengenai gudang chemicalyte yang terbakar.."
ujar gundala sembari menatap ke arah penyidik wanita yang sedang duduk disampingnya.
"Sebuah peluru mengenai bahuku.."
kembali sosok hitam tersebut berkata sembari menyentuh bahunya.
__ADS_1
"Dan peluru tersebut terpental mengenai sebuah tangki berisi kerosene.."
ujarnya kembali.
Sarah yang duduk disampingnya hanya bisa menghela nafas panjang sembari berkata.
"Kemarin pak burhan berkata sesuatu padaku.."
ujarnya sembari menatap layar handphone dalam genggamanya.
"..dia bilang setelah satu tahun disini mungkin aku bisa belajar beberapa hal dari mu.."
kembali sarah berkata sembari menatap ke arah sayap malam.
Dari balik ballistic headgear gundala hanya tersenyum dan kembali melayangkan pandanganya ke arah pantai yang mulai ramai oleh beberapa petugas keamanan dan beberapa mobil ambulans.
"Maaf mengganggu.." sebuah suara dari balik mobil van kendaraan anti huru hara terdengar.
Sesosok gadis berpakaian gothik tampak keluar melalui pintu belakang kendaraan tersebut dan melangkah menuju sayap malam yang berada di hadapanya.
"..terimakasih ya.." ujarnya sembari menundukkan kepala nya.
"Aku hanya mau mengembalikan ini.." ujar gadis tersebut sembari mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna coklat dari saku jaket hitamnya.
Sebuah sapu tangan yang beberapa saat lalu membekam mulut dan hidungnya agar gadis tersebut selamat dari proses sebuah mutasi dari beberapa bahan kimia yang dilepaskan secara besar besaran dari dalam bangunan tersebut.
"..ambil saja.."
ujar sayap malam saat melihat sebuah sapu tangan dihadapanya.
"..dan jadikan pengalaman ini sebuah pelajaran berharga untukmu.."
kembali gundala berkata sembari menatap gadis dihadapanya.
Tak lama gadis dihadapanya kembali terisak dan kembali berkata.
__ADS_1
"..ini semua karena kebodohanku.." ujarnya.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan.." ujar gundala kembali.
"..dan sebuah kesalahan untukmu jika hari ini kamu tidak segera pulang ke rumah.."
ujar gundala sembari menatap ke arah gadis dihadapanya.
"..apakah keluargaku akan menerimaku?" tanya gadis dihadapanya.
"Berapa besarpun kesalahan yang kamu buat.."
kembali gundala berkata.
"..keluarga mu akan selalu menerima kamu.."
jawab gundala sembari tersenyum.
"..terimakasih.."
ujar gadis dihadapanya sembari terisak.
"Ayo..ku antar kamu pulang.."
ujar Sarah sembari bangkit dari tempatnya.
"..sudah malam dan sudah saatnya kita semua beristirahat.."
ujar sarah sambil menatap gadis berpakaian gothic dihadapanya.
"..dan kau juga harus beristirahat pak…"
kata kata yang keluar dari mulut sarah sejenak terhenti setelah melihat ke arah tangga van kendaraan anti huru hara yang telah kosong.
Sosok hitam yang beberapa saat yang lalu duduk disampingnya sudah menghilang dari pandanganya.
__ADS_1
Sarah kembali menghela nafas dan kembali tersenyum sembari berkata.
"...Gundala..sayap malam.."