
Setelah sepuluh hari setelah Adit dirawat dirumah sakit akhirnya Adit diperbolehkan pulang kerumah orangtua Adit sudah pulang sebelum kepulangangan Adit kerumah, karena papa Adit harus kembali bekerja. Bagaimana pun pak Herman adalah seorang abdi negara yang sudah mempunyai aturan bekerja dan Orang tua Adit juga telah menyerahkan semua masalah Adit kepada pak Sanjaya dan Arini. Sepasang suami istri itu pun tidak keberatan dengan tugas yang di bebankan kepada mereka karena bagaimana pun adit adalah atasannya.
Sebelum pak Sanjaya dan Arini datang, Adit dan Wita ngobrol dan disela-sela obrolannya Adit mencium pucuk kepala Wita "terima kasih untuk semua yang kau berikan pada ku Wita" katanya sambil berkaca-kaca.
" Emang aku kasih kamu apa kenapa harus berterimakasih ke aku? " kata Wita yang merasa tak merasa memberikan apa-apa.
" Kamu telah memberikan waktu, tenaga dan perhatian untuk menjaga ku. Coba kamu dan orang tua kamu tidak ada apa jadinya aku" katanya lagi sambil memegang tangan Wita dan mencium kedua punggung tangan Wita secara bergantian.
Suasana ruangan itu seketika menjadi romantis tapi telepon Wita berdering dan Wita mengatakannya dan membesarkan suara panggilan itu agar Adit mendengar apa yang dia bicarakan dengan Kevin.
" Hay sayang , apa kabar? Maaf aku baru bisa ngabarin kamu karena aku baru saja dari Natuna untuk mengamankan perbatasan Indonesia" kata Kevin dengan semangat.
" Ohh...tidak apa-apa aku ngeri kok" dengan nada datar tak ada nada kegembiraan seperti biasanya.
" Kamu kenapa biasanya senang kalau aku telepon dan ini kenapa kamu nadanya biasa saja" kata Kevin curiga.
" Ahh biasa saja kok, mungkin karena aku lagi sakit tenggorokan " katanya berbohong.
" Ohh begitu, ooh ya sayang bulan depan aku pulang aku ambil cuti karena mama dan papa aku mau membicarakan sesuatu katanya dan aku harus pulang" kata Kevin mencoba menjelaskan.
" Ohh iya, aku tunggu kamu disini ya, ooh ya udah dulu ya aku mau buat soal ujian akhir semester " katanya berbohong.
" tumben kamu duluan yang minta mengakhiri, apa kamu tidak kangen sama aku? " kata Kevin yang merasa heran dengan Wita yang tidak seperti biasanya.
" Tidak aku hanya memang lagi sibuk saja sekarang " kata Wita mencoba menyakinkan.
__ADS_1
" Ok baiklah kamu istirahat ya jangan tidur terlalu malam ya, ummm.....ahh...... I love you " kata Kevin dari seberang sana.
Namun Wita tidak membalas ciuman Kevin dan kata cinta yang diucapkan Kevin kepadanya dan dia mematikan panggilan telepon itu.
Tut...tut...tut...
" Kenapa kamu jawab pertanyaan si kodok hijau itu begitu tidak bersemangat seperti waktu lalu. Semangat ceria tapi setelah sambungan terputus namgis" kata Adit menyindir.
" Aku.. Aku... Cuma menjaga perasaan kamu saja " jawab Wita berbohong karena semakin lama memang rasa cintanya kepada Kevin semakin terkikis dengan seringnya dia bersama Aditia.
" Takut aku tersinggung atau...." Adit menghentikan kalimatnya karena pak Sanjaya dan Arini datang dan tak lama mereka pulang kerumah dinas Adit.
Aditia dan Wita duduk dikursi belakang sedangkan ibu dan pak Sanjaya didepan karena saat ini yang mengemudikan mobil yang sedang membawa mereka ke rumah adit.
" Ooh... Yang mana ya? " kata Adit pura-pura lupa.
Wita mencubit pinggang Adit dan cubitan itu membiat Adit meringis kesakitan
" Aww.. Sakit Wita" sambil memegangi bagian pinggang yang merasa sakit.
" Makanya jangan becanda" kata Wita dengan memajukan bibirnya dan menunjukkan dia ngambek dan membuang pandangannya keluar jendela.
" Adit kamu kenapa meringis begitu dan kami Wita kenapa seperti merujak, ehh maksud mama merajuk" kata Arini yang bingung melihat sikap kedua anak muda itu.
" tidak apa-apa ma" kata Wita.
__ADS_1
" Iya tante da apa-apa kok" kata Adit sambil menunjukkan giginya yang rapih.
" Ohh iya deh kalau begitu " kata Arini sambil kembali mengahadapkan pandangannya ke depan.
" jangan ngambek dong, aku bakal kasih tahu kamu lanjutan kalimat aku tadi tapi kamu ngadap aku dong" kata Adit dengan nada membujuk anak kecil yang lagi marah karena tidak dapat mainan.
Wita membalik posisinya dan sekarang mata mereka bertemu dan seyum merekah tergambar dibibir tipis nya itu dan berharap Adit memberikan jawaban kepada nya dengan cepat. "Apa cepat dong" kata Wita dan tidak sabaran.
" Sabar dong, maksa amat sih" dan Wita tambah merajuk. Tapi Adit langsung cepat bertindak sebelum ibu guru galak itu semakin marah fikirannya.
" Kamu benar melakukan itu karena menjaga perasaan aku atau kamu sekarang sudah cinta dengan aku dan rasa cinta kamu sudah hilang untuk si kodok hijau itu" kata Adit sambil tersenyum.
Wita hanya tersenyum dan mengangkat bahunya dan menarik bibirnya, mencoba mengatakan bahwa itu mungkin juga.
Adit terseyum dengan sikap senang karena gerakan tubuh yang ditunjukkan Wita itu cukup menjawab apa yang dikatakan Adit itu benar adanya. Adit sangat senang dengan itu semua dan sepertinya kesabaran nya sebagi yang kedua akan menjadi yang pertama. " Lega rasanya " kata Adit dalan hatinya.
Tak terasa mereka sampai juga dirumah dinas Adit dan mereka meninggal kan Adit dengan Mateo yang sedari tadi sudah menunggu mereka datang untuk menjaga Adit dan di rumah Adit juga ada teman-teman satu profesi dengan mereka yaitu polwan - polwan cantik .
" Nak adit kami balik dulu ya" kata pak Sanjaya.
" Iya pak terimakasih atas semua bantuan bapak sekeluarga dan biar Mateo yang antar bapak sekeluarga kedepan" kata Adit karena Adit tidak bisa mengantarkan mereka kedepan.
Wita mendekat ke Adit dan berbisik "Awas kalau kamu ganjen sama donat-donat cewek ini" kata Wita sambil membulatkan matanya.
Aditia hanya terseyum dan menganggukkan kepalanya tanda dia akan melakukan semua perintah Wita. "Siap bu guru" dengun seyum yang sangat manis, semanis gulali dan akhirnya Wita mengikuti langkah oramg tuanya untuk pulang.
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya ikuti terus ya jangan lupa votenya 😍