
Tepat jam dua belas siang Adit meluncur Ke cafe yang sudah disepakati Adit berpakaian preman istilah polisi mengatakan pakaian bebas. Dengan kaos lengan panjang berwarna coklat muda dan membuat Adit seperti pria metroseksual tidak seperti polisi.
Adit langsung melih tempat duduk dipojok agar bisa lebih santai agar tidak banyak orang yang berlalu lalang.
Setelah duduk dimeja itu pelayan datang dan menghampiri Adit yang sedang sibuk memegangi telepon genggam nya.
" Selamat siang pak, anda mau pesan apa?" kata pelayan itu dengan sangat ramah.
Adit terkejut karena sedari tadi dia hanya sibuk dengan telepon genggamnya. " ooh iya mba saya pesan minum aja dulu ya karena saya lagi nungguin seseorang ".
" Minuman apa tuan? " kata pelayan itu lagi.
" Kopi pahit " katanya lagi.
" Baik pak, tunggu sebentar ya pak" kata pelayan sambil berlalu menuju dapur cafe.
Tak menunggu lama berapa seorang pelayan mengantarkan pesanan Aditia dan meletakkannya di atas meja sambil mempersilahkannya " silahkan pak" dengan seyum yang tak lepas dari sudut bibirnya.
" makasih mba" kata Aditia lagi.
Hampir lima belas menit Adit menunggu Wita namun gadis itu tidak juga datang dan akhirnya dia berfikiran mungkin memang Wita tidak akan datang akhirnya dia memesan makanan jika Wita datang toh dia bisa pesan lagi fikirnya.
Namun belum semua makanan datang ada seorang gadis duduk dikursinya dan berkata "maaf ya aku terlambat soalnya tadi aku lagi ngadain Ulangan Harian untuk anak didik ku" katanya beralasan.
" Ahh tidak apa-apa santai aja lagi aku juga baru datang dan makanannya juga belum semua datang. Maaf ya aku tidak tahu makanan kesukaan kamu jadi aku pesan aja makanan ini" sambil mengarahkan tangan ke meja didepan mereka.
" Mudah-mudahan kamu suka ya, ooh ya minuman kamu mau apa? " kata Adit lagi.
" Ohh aku mau MARTABE" kata Wita cepat.
__ADS_1
" Minuman apa itu? " tanya Adit bingung karena tidak pernah mendengar nama minuman itu sebelumnya.
" Ooh maksudnya markisa terong belanda" sambil tersenyum menjelaskan.
" Ohh kirain apa? " kata Adit yang sebenarnya juga belum tahu minuman apa itu dia hanya pura-pura tahu.
" Ini makanannya dianggurin saj tidak dimakan?" kata Wita yang memang sudah lapar sejak diperjalanan menuju cafe tadi.
"Ohh iya hampir lupa mari dimakan" sambil mempersilahkannya.
Minuman Wita yang dipesan tadi pun datang dan langsung dikatakan disamping kanan Wita.
" Ini nih yang namanya martabe" mengangkat gelas dan menunjukkan minumannya.
Adit hanya menganggukkan kepala mensakan kalau dia sekarang sudah tahu kalau minuman yang dimaksud oleh Wita adalah itu, soal rasa tentu saja dia tak tahu karena memang belum pernah dia minum.
Adit terus memandang ke arah Wita yang sedang lahap menyantap makanan yang sekarang berada didepan mereka, Adit jadi tidak merasa lapar lagi karena dia merasa senang karena dia bisa sedekat ini dengan Wita.
" Kamu kenapa tidak makan pak polisi? " kata Wita dengan tetap menyuapi makanan kedalam mulutnya.
" Aku makan kok ini buktinya" kata Adit cepat karena takut ketahuan kalau sedari tadi dia hanya melihat wajah Wita.
Makanan Wita pun habis dan makanan Adit masih tertinggal setengah lagi dipiringnya " kok tidak habis? " kata Wita sambil meunjuk kearah piring Adit yang memang masih berisi setengah makanannya.
" Tadi waktu aku nungguin kamu aku minum kopi" katanya.
" Setelah ini kita mau kemana? " kata Adit cepat.
__ADS_1
"ya pulang lah kerumah masing-masing, emang mau kemana lagi? " kata Wita merasa heran karena janji tadi hanya makan siang.
" Kamu tidak mau kalau kita jalan dulu? " kata Adit hati-hati takut Wita marah dan menganggap dia lancang karena keluar dari perjanjian.
" Aku mau pulang karena aku ada ngajar les tambahan dirumah, maklum aku kan cuma guru honorer dengan gaji kecil dan dibayar nunggu dana BOSS keluar. Jadi untuk nyambung hidup harus banting tulang pagi sore" kata Wita beralasan padahan karena hari ini selasa dia tidak ada ngajar les dia hanya ngajar les tambahan setiap senin, rabu dan jum'at.
" Ok kita ketemu lagi tapi ya diwaktu yang akan datang, tapi boleh tidak aku minta nomor telepon kamu? " kata Adit berharap Wita mau memberinya.
"Ok kamu catat ya, 082392265xxx" kata Wita.
" Ya udah aku pulang takut orang rumah nyariin " Wita berdiri dan berjalan kemeja kasir.
" Eh... Biar... Biar aku yang bayar masa cowok dibayarin cewek malu dong.
" Ya ga apa sekali-kali, tidak masalah kok" kata Wita lagi.
" Tetap aja aku tidak mau" sambil mengeluarkan uang dan membayar semua tagihan.
" Bolehkan kapan-aku main kerumah" kata Adit sebelum Wita benar-benar meninggalkan meja kasir.
Wita menoleh kebelakang dan berkata "Boleh tidak ada larangan selagi niatnya baik"
Kata Wita dan melambaikan tangannya seperti memberikan tanda perpisahan.
Adit kembali kekantor tanpa menggantikan seragamnya, dengan seyum sumringah dia melajukan mobilnya.
Sampai kantor semua heran melihat komandan yang memakai baju preman itu dan melihat Adit seyum-seyum sendiri.
" Kesambet dimana bos? " kata anak buah nya yang sedang asyik ngbrol diruang pengaduan masyarakat.
Adit tidak memperdulikannya, dia malah bersiul sambil masuk keruangannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat dia tinggalkan karena pergi makan siang bersama sampai jam pulang kantor pun tiba.
__ADS_1
● setelah makan siang itu apakah mereka akan terus bertemu atau tidak terjadi apa - apa kalau mau tahu lanjutannya jangan lupa vote ya, terimakasih