
Ketika jam sepuluh pagi saat Adit lagi sibuk-sibuknya tiba-tiba saja kepala Adit terasa sakit dan dia memutuskan untuk mendatangi sebuah klinik untuk memeriksakan kepalanya itu. Sampai dikelinik Adit langsung masuk keruangan dokter itu karena memang tidak ada antrian disana.
Setelah berada sekitar setengah jam dia berada di ruangan dokter itu ternyata Adit hanya didiaknosa sakit kepala biasa diakibatkan kurang tidur, karena memang semalaman dia tidak bisa tertidur karena memikirkan Wita.
Tok...tok...tok...
Suara pintu diketuk "masuk" kata dokter itu.
Orang berada dibalik pintu itu pun membuka pintu dan langsung masuk serta berkata " Maaf dok, ada pasien yang terluka dan harus segera ditolong" kata perawat yang panik.
" Oh...sudah bawa masuk pasien itu" kata dokter itu cepat.
Pasien itu pun dibawa keruangan dokter dan Adit tetap duduk dikursinya dan melihat apa yang terjadi diruangan dokter itu, bagaimana dokter itu sangat cekatan menangani pasien yang berseragam putih abu-abu.
"Anak SMA ternyata aku kira siapa, paling juga berkelahi dengan temannya" katanya dalam hati.
"Sebenarnya anak ini kenapa bu guru? " kata dokter kenapa sampai anak itu terluka.
" Ini salah saya dokter, karena saya tadi menyuruh Andi untuk memotocopikan sebuah kertas dan mungkin dia tidak hati-hati" kata guru cantik itu.
Adit terkejut mendengar suara dari balik punggung dokter itu, dia hapal sekali dengan suara itu " Wita " katanya pelan dan hanya dia yang mendengar.
Dia berdiri dan memastikan benarkah suara yang dia dengar adalah suara Wita, dan dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya "Wita" katanya tak percaya dan si empunya nama tak mempedulikan nya dan hanya fokus dengan dokter yang tadi menjadi lawan bicaranya.
"Jadi bagaimana dokter apakah dia parah? Apakah dia perlu dioperasi? " kata Wita betubi-tubi.
" Tenang dong bu guru, anak murid bu guru tidak apa-apa cuma luka ringan dan karena keplanya terluka makanya darahnya banyak. Udah bisa pulang kok tidak peru kwatir" kata dokter itu sambil tersenyum.
__ADS_1
" Ohh...syukurlah " sambil mengelus dadanya karena merasa lega.
" Andi, kamu tidak apa-apa cuma luka ringan saja kata dokter. Setelah ini saya akan mengantarkan kamu pulang kerumah kamu ya" kata guru cantik itu dengan kelembutan.
" Ibu.. .ternyata...." salah seorang murid yang sedang ikut membantu Wita membawa Andi kerumah sakit berkata.
"Ternyata apa Rizal? " kata Wita penasaran.
" Ternyata ibu sangat baik dan lembut beda seperti disekolah galak" katanya sambil terdunduk malu.
"Kamu ini, tentu saya berbeda karena saya harus bisa menempatkan diri, seperti yang saya pernah jelaskan tentang Lima W tambah satu H? "katanya sambil tersenyum.
" Iya ya bu siapa, dimana, kapan, bagaimana, apa itu ya bu" timpal muridnya itu.
"Wita" kata Adit lagi mencoba untuk menegur. Namun pura-pura tidak mendengar dan memilih sikap cuek.
"Ibu dipanggil itu sama pak polisi, mungkin mau nanyakan SIM bu" kata sang murid ketakutan.
" Ya apa? " kata Wita.
" Bu guru jangan galak bu, nanti kita ditangkap dan dimasukan kedalam penjara" sambil berbisik kata murid yang menyadari bahwa temannya Anton tidak mempunyai SIM.
Si ibu guru pun tahu kalau anak murid nya itu tidak memiliki SIM dan Adit menyadari apa yang sedang mereka takutkan dan dia punya ide.
" Apakah murid kamu ini punya SIM? Kalau tidak punya saya harus memprosesnya" kata Adit dengan wajah dan nada yang serius, padahal dia hanya ingin si ibu guru itu tidak ciek lagi kepadanya.
__ADS_1
" Maaf....maaf...Adit, mereka tidak punya SIM jadi saya mohon kamu jangan bawa mereka kekantor polosi ya" katanya dengan wajah memelas.
Wajah Wita yang memelas itu membuat Wita terlihat semakin mengemaskan dan membuat Adit semakin gereget saja.
" Saya tidak akan memperpanjang masalah ini asal..." kata Adit menghentikan kalaimatnya.
" Asal apa? " kata Wita yang mengerutkan keningnya dan merasa ada modus yang sedang dia rencanakan.
" Asal kamu mau menemani aku makan siang" kata Adit dengan cepat.
Wita berfikir sejenak ya, tak apalah asal muridnya tak sampai dibawa kekantor polisi dan kali ini dia mengalah. "baiklah aku mau makan siang dengan mu, tapi aku tidak mau semobil dengan mu" kata wita dengan nada juteknya.
" Ok, aku tunggu kamu dicafe Narafa jam dua belas siang ya" sambil tersenyum senang.
Aditia pun meninggalkan klinik itu setelah medapar resep obat yang harus ditepbusnya disebuah apotek dan kembali kekantor. Meninggalkan Wita yang masih sibuk mengusi anak murid nya itu.
" Makasih ya bu" kata muridnya
" Iya, ayok saya antar kamu pulang, biar nanti saya yang minta izin ke guru piket kalian tidak bisa masuk karena masih sakit" kata Wita.
" terus saya bu? Kata murid yang lain karena dia tidak sakit.
" Kamu saya antar kesekolah kan saya kesekolah " kata Wita.
" Makasih bu" kata murid itu.
__ADS_1
Mereka pun pergi meninggalkan klinik itu setelah menyelesaikan semua administrasi.
Bagaimana kisah selanjudnya jangan lupa votenya ya biar saya lebih semangat nulisnya, sebelumnya saya ucapkan terimakasih.