
Jam menujukkan pukul 01: 00 malam. Namun, Salsa masih betah duduk di sofa ruang tamu dengan televisi yang menyala. Mata bulat wanita itu menatap layar ponsel miliknya, sudah lebih satu bulan lebih Ia berada di Jakarta tapi belum mengirimkan gaji pertamanya pada Tuti, ibunya.
"Huff..." Salsa menghembuskan napas panjang. Ia meletakkan ponsel miliknya di atas meja dekat sofa. Pandangan matanya beralih menatap siaran televisi. Tangan kurusnya menggapai cemilan yang ada di atas meja.
Satu suapan ciki masuk ke dalam mulutnya. Baru saja dirinya merasa tenang setelah perasaan sedih melanda benaknya karna rindu kampung halaman, kini Ia terperanjat kaget ketika mendengar suara pintu apartemen yang Ia tempati terbuka. Wanita itu segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pelan ke arah pintu keluar yang memiliki sekat dengan ruang tamu. Saat ini perasaannya was-was, bisa saja, kan, ada orang jahat memaksa masuk ke dalam sini.
"Eh..."
Tubuh Salsa mematung seperkian detik, mendapati sosok Rafka yang sudah berada di dalam apartemen. Pria itu menutup pelan pintu tersebut dan berbalik badan.
"Kau belum tidur?" tanya Rafka yang tampak kaget dengan keberadaan Salsa yang kini berdiri dihadapannya.
"Saya belum mengantuk, Pak," balas Salsa, mendongak menatap sang suami yang lebih tinggi darinya.
"Kenapa memakai pakaian seperti itu?" Rafka menatap Salsa dari atas sampai bawah.
Wanita itu mengenakan kaos putih berlengan pendek dan celana pop yang memperlihatkan bagian pahanya yang terekspos.
"Maaf Pak, saya kira Bapak tidak akan ke sini." Salsa merapatkan kedua pahanya dan menutupi dengan kedua tangannya meski itu sia-sia.
"Lain kali hati-hati berpakaian seperti itu apalagi bila saya tidak ada di apartemen ini," peringatnya di sertai senyuman tipis.
Rafka melangkahkan kakinya menuju ke dapur diikuti oleh Salsa yang tak lepas menatap sosok tersebut. Aroma maskulin menyapu indra penciumannya. Aroma harum yang memanjakan indra penciumannya dan memberikan ketenangan. Ada rasa senang yang membuncah di benak Salsa karna kedatangan Rafka.
"Bapak bawa apa?" tanya Salsa melihat Rafka yang mengeluarkan sesuatu dalam papper bag coklat yang Ia bawa.
"Saya membelikan kau makanan dan susu khusus untuk ibu hamil. Kemarin saya lupa membelikan susu ini untuk mu." Rafka memperlihatkan susu kotak berukuran besar rasa vanilla." Ini bagus untuk perempuan hamil yang membutuhkan kalsium."
Salsa menatap susu tersebut dan beralih menatap Rafka, lebih tepatnya memandangi wajah tampan pria itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak."
"Bagaimana keadaan mu hari ini?"
"Baik, Pak."
"Baguslah kalau begitu."
"Apa boleh saya bekerja lagi, Pak? Jujur, saya bosan bila terus berada di apartemen ini." Ucapan yang Salsa lontarkan membuat Rafka menatap penuh pada sang istri.
"Kau bosan?" tanya Rafka mengulang ucapan Salsa sebelumnya.
Wanita itu mengangguk cepat. Rafka menatap lekat-lekat sang istri yang langsung menundukkan kepalanya.
"Baiklah."
Senyuman Salsa melebar mendengar persetujuan Rafka. Setidaknya Ia bisa mengumpulkan uang untuk mengirim pada ibu dan bapak.
Salsa melongo dan membelalakan matanya.
"Bu-buka itu maksud saya," sanggah Salsa.
"Lalu kau mau apa? Bekerja menjadi cleaning servis lagi? Saya tidak akan mengijinkan!" tegasnya yang langsung meninggalkan Salsa di dapur.
Wanita itu langsung menyusul Rafka yang melangkah menuju kamar. Salsa tampak berlari kecil menyusul sang suami hingga kakinya tak sengaja tersendung meja dan hampir jatuh ke lantai bila Rafka tidak melihat dan tak sigap menangkap tubuh mungil itu yang bisa saja akan berbahaya pada kandungannya.
"Kau sangat ceroboh!" sarkasnya yang langsung menggendong Salsa menuju ke kamar.
"Turun aku, turunkan," pinta Salsa menggeliat dalam gendongan Rafka. Wanita itu tampak berusaha turun dari gendongan suaminya, tapi Rafka semakin erat mendekap tubuh mungil yang menguar aroma harum sakura.
__ADS_1
Rafka langsung menjatuhkan pelan tubuh Salsa ke atas kasur yang empuk. Kini, posisi keduanya tampak sangat intim. Pria itu mengukung sang istri di bawahnya. Entah apa yang dipikiran Rafka hingga mengukung wanita tersebut. Namun, sorot mata Rafka menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan.
Sementara Salsa mengatur napasnya, apalagi posisi mereka berdua seperti ini. Bayangan malam panas yang mereka lalu dahulu tiba-tiba sekelebat lewat dalam pikirannya. Mendadak wajah Salsa memanas.
"Eh..." Salsa membulatkan matanya kala pria tersebut mendekatkan wajahnya. Refleks Ia memejamkan matanya dengan jantung berdegup menggila. Sapuan hangat napas Rafka yang beraroma mint menerpa permukaan wajahnya.
"Sepertinya kau harus keramas," celetuk Rafka membuat Salsa langsung membuka matanya lebar." Rambut mu bau apek."
Pria itu langsung menjauh dari atas tubuh Salsa. Sementara Salsa langsung dirundung rasa malu teramat dengan pikiran kotornya, seolah berpikir Rafka akan menciumnya.
•
•
Seorang wanita meraba-raba kasur di sampingnya. Perlahan Azkiya membuka matanya. Dengan mata yang masih sayu dan belum terbuka sempurna Azkiya melihat pada kasur di sampingnya yang kosong.
"Di mana Mas Rafka?" gumam Azkiya. Ia bangun dari tempat tidurnya dengan rasa kantuk yang terasa berat.
Wanita itu melangkah keluar dari kamar. Ia membuka pintu pada ruangan yang bersebelahan dengan kamarnya. Gelap, ruang kerja pribadi milik Rafka kosong. Biasanya suaminya ada di sini saat tidak ada di tempat tidur.
Azkiya kembali menutup pintu tersebut. Tatapan matanya bergulir dengan sebuah pertanyaan yang muncul di benaknya.
"Ke mana mas Rafka?" Azkiya kembali masuk ke dalam kamar, mengambil ponselnya.
_______________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)