Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 10


__ADS_3

...Ketika kau sudah menjatuhkan hati mu pada pria pilihan. Maka kau harus siap merasakan sakit dan perihnya mencintai. Tidak ada cinta yang selalu memberikan rasa manis. Apalagi cinta sepihak...


Dengan ragu-ragu Salsa memakan satu suapan batagor meski perutnya sudah sangat kenyang. Baru saja Ia membeli makanan ini dan pria itu datang dengan membawa makanan yang sama. Mata bulatnya melirik ke arah balkon, di mana pria itu berada. Tampak Rafka berdiri di balkon dan menatap lurus ke depan sambil menyesap rokok yang terkapit di jari telunjuk dan tengahnya.


Sorot tajam pria itu menatap pemandangan di bawah apartemen. Menikmati hembusan angin malam yang terasa dingin. Rafka semakin kuat menyesap rokok bersamaan dengan beban pikiran yang menganggunya beberapa hari ini. Ia berbalik badan dan mendapati Salsa  menatap ke arahnya. Wanita itu terlihat terkejut dan membuang muka ke arah lain. Kedua sudut bibir Rafka melengkung.


Pria itu membuang putung rokok miliknya ke bak sampah yang tersedia di balkon tersebut. Ia melangkah masuk ke dalam apartemen, menghampiri Salsa yang mengunyah makanan yang Ia beli tadi.


Rafka mendudukkan dirinya di single sofa. Pandangan matanya menatap Salsa yang tampak risih dan kikuk dengan tatapan yang pria itu berikan padanya. Ia menutup hidungnya, bau rokok menyeruak ketika Rafka masuk ke dalam. Ia baru mengetahui bila pria itu pecandu rokok.


"Kenapa?" tanya Rafka melihat gelagat Salsa yang tampak aneh.


Wanita itu menggeleng cepat tanpa mengalihkan pandangan matanya dari makanan yang Ia makan sekarang. Sangat kurang ajar bila Ia mengatakan secara terang-terangan tidak menyukai Rafka berada di dekatnya saat aroma bau rokok masih menempel di tubuhnya.


Hening.


"Lain kali bila kau butuh sesuatu, atau ingin membeli sesuatu telpon saya atau Arjo. Bahaya bila malam-malam keluar apalagi kau sedang hamil," Rafka kembali buka suara setelah beberapa menit hening.


Salsa beralih menatap Rafka." Saya hanya tidak ingin merepotkan Bapak. Selama saya mampu, saya tidak akan meminta bantuan orang lain," balas Salsa, setelahnya Ia menghela napas pelan." Bapak tahu, kan,  saya sedang hamil dan terkadang mengidam sesuatu."


"Kau mengidam?" Rafka menyela ucapan Salsa dengan kening berkerut.


Wanita itu mengangguk.


"Seharusnya kau telpon saya. Apa kau sering mengidam?" tanya Rafka dengan wajah berbinar. Pandangan mata pria itu beralih pada perut Salsa yang tertutup pakaian.


"Saya tidak tahu, Pak. Tapi setahu saya itu tergantung hormon setiap perempuan hamil."


"Kau tahu dari mana bila tergantung hormon?"


"Dari internet."


Rafka terdiam sejenak.

__ADS_1


"Kemarilah." Rafka  menatap Salsa dan melirik sofa di sampingnya.


"Untuk apa?" Wanita itu menatap sang suami dengan pandangan bertanya.


"Saya ingin memegang perut mu."


Mata Salsa melotot terkejut. Mendadak jantungnya berdegup kencang. Dan wajah yang memucat.


"Ayo kemari." Lagi-lagi Rafka memanggil Salsa untuk mendekat padanya. Bukan tanpa alasan Ia ingin menyentuh perut wanita itu.


Dengan ragu-ragu dan tangan yang gemetar Ia bangkit dari tempat dan beralih duduk di samping sofa yang berdekatan dengan Rafka.


"Bapak mau apa?" Salsa menahan bajunya ketika Rafka hendak menyingkapnya. Tatapan mata wanita itu bergulir membalas tatapan sang suami.


"Memberikan usapan di perut mu, saya ingin menyapa anak saya. Apa kau keberatan?"


Salsa meneguk salivanya kasar dan menggeleng lemah. Rafka dengan cepat menyingkirkan tangan Salsa dan menyingkap baju wanita itu. Tanpa ragu Ia mengusap perut Salsa, senyuman terbit di bibir tipisnya dan itu tak luput dari pandangan mata Salsa.


"Semoga saja anak kita laki-laki, dia akan menjadi pewaris," ucap Rafka.


"Memangnya Bapak yakin anak yang ku kandung adalah laki-laki?" Salsa melontarkan pertanyaannya.


"Mungkin saja," balas Rafka.


Pria itu menjauh dari Salsa setelah puas mengusap perut Salsa. Semoga saja Ia bisa terus berada di samping wanita itu dan melihat pertubuhan janin tersebut hingga Salsa melahirkan. Namun, yang jadi pertanyaan besar di benaknya apakah pernikahan siri ini akan bertahan lama? Cepat atau lambat  Azkiya atau keluarga besarnya akan mengetahuinya hal ini.


Rafka menghela napas berat dan tidak lama suara dering ponsel berbunyi. Perhatian Rafka teralihkan termasuk Salsa yang kini menatap layar ponsel yang menyala dan menampilkan nama pemanggil, Azkiya.


"Azkiya..." gumam Salsa.


Pria itu dengan cepat mengambil ponselnya di atas meja. Pupil matanya membesar melihat nama sang penelepon.


"Saya harus pulang dulu, jaga dirimu baik-baik." Sekilas Rafka mencium kening Salsa setelahnya Ia buru-buru pergi dari apartemen tersebut.

__ADS_1


Lain halnya dengan Salsa yang tertegun. Ia menyentuh keningnya dengan perasaan yang bergejolak.




"Hallo Sayang, ada apa menelpon ku?" tanya Rafka ketika sudah keluar dari unit apartemen Salsa.


"Kamu di mana, Mas. Ini pukul dua malam dan Mas sudah tidak ada di rumah."


"Maaf Sayang, aku ada urusan,"


"Urusan? Tengah malam seperti ini?" Suara Azkiya terdengar meninggi di sebrang sana.


Rafka memejamkan matanya, memijit pangkal hidungnya.


"Kamu tunggu di rumah, aku akan segera pulang," ucap Rafka hendak mengakhiri sambungan telpon.


"Kamu tidak selingkuh, kan?"


"Kenapa menuduh ku seperti itu? Aku tidak mungkin selingkuh, Azkiya. Aku benar-benar ada urusan mendadak dan tidak mungkin aku membohongi mu." Lagi-lagi Rafka menyangkal tuduhan sang istri.


Terdengar helaan panjang Azkiya. Wanita itu langsung mematikan sambungan telpon sepihak.


"Hallo Azkiya, Azkiya." Rafka menatap layar ponselnya.


_______________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.


See you di part selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2