
Perlahan pemilik netra coklat itu membuka matanya. Salsa tampak meringis memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kedua mata bulatnya mengedar, menatap ruangan yang tampak asing untuknya dan sekarang Ia tengah berbaring di kasur. Seingatnya, Ia dikunci satu ruangan dengan Rafka. Dan tiba-tiba saja hilang kesadaran.
Salsa tertegun ketika menatap tangan kekar melingkar diperutnya. Dengan perasaan gugup, Ia menoleh ke samping. Dan mendapati Rafka tidur di sampingnya, memeluk tubuhnya erat. Sorot matanya menelisik wajah tampan pria itu yang terlihat damai dengan mata tertutup rapat. Guratan wajah yang tampak lelah tercetak jelas di wajah Rafka. Apalagi lingkaran hitam di mata pria itu, apakah Rafka jarang tidur tepat waktu atau sering begadang, bathin Salsa.
Entah dorongan dari mana, tangan kanan Salsa terulur menyentuh rahang tegas suaminya dan menjalar pada bibir tipis itu. Andai saja pria itu tidak mengincar janin yang ada dalam kandungannya dan tidak menjalin hubungan dengan wanita lain, tentu saja Ia akan jatuh sejatuh-jatuhnya mencintai pria yang ada dihadapannya sekarang.
Baru saja menjauhkan tangannya, Rafka sudah membuka matanya. Salsa tampak gelagapan bercampur malu.
"Ternyata kau sudah sadar," ucap Rafka dengan suara yang terdengar serak dan berat. Pria itu langsung menjauhkan tangannya dari bagian tubuh Salsa.
Pria itu tersenyum tipis menatap Salsa yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Untuk apa Bapak datang ke sini dan membawa aku ke tempat ini?" tanya Salsa yang hanya melirik Rafka sebatas ekor mata. Entahlah, Ia tidak sanggup harus saling beradu pandang dengan suaminya.
"Tentu saja ingin menjemput istri saya," balas Rafka yang kembali melingkarkan tangannya di perut sang istri. Menghirup dalam aroma tubuh wanita itu begitu dalam.
Salsa berusaha menjauhkan wajahnya yang hampir bersentuhan bibir pria itu.
"Lepaskan aku!" sentak Salsa yang berusaha melepaskan rengkuhan tangan Rafka di tubuhnya. Ia tidak nyaman dengan posisi seintim ini.
"Biarkanlah seperti ini. Kita sudah lama tidak bertemu..." lirih Rafka dan Salsa menoleh menatap suaminya yang menampilkan wajah penuh permohonan.
Kening Salsa mengernyit melihat ekpresi wajah Rafka. Baru kali ini Ia melihat pria itu memohon padanya dengan ekpresi wajah yang membuat rasa marahnya perlahan meluruh.
"Maafkan saya...jangan pergi lagi apapun yang terjadi." Rafka menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Salsa. Sementara tubuh wanita itu semakin menegang.
__ADS_1
"Sebaiknya Bapak kembali ke Jakarta. Ucapan semanis apapun yang Bapak ucapkan tidak akan membuat aku luluh. Dan untuk masalah anak yang ku kandung, aku akan menjaganya dengan baik."
"Tidak! Aku tidak akan kembali ke sana kecuali bersama mu. Mari kita besarkan anak kita berdua, dan hidup bahagia."
Salsa tersenyum getir. Entahlah, apakah Ia harus bahagia atau bersedih dengan perubahan Rafka. Atau ini merupakan bagian dari rencana pria itu.
"Kalau begitu apakah Bapak berani memperkenalkan ku kepada keluarga besar Bapak bila aku istri kedua Bapak? Termasuk dengan istri pertama Bapak. Aku juga ingin diakui!" ucap Salsa penuh penekanan.
Rafka langsung mengantupkan bibirnya rapat-rapat. Pria itu mendadak membisu setelah mendengar permintaan Salsa. Ia tidak mungkin memperkenalkan Salsa pada kedua orangtuanya. Apalagi pada Azkiya yang jelas-jelas sudah mengetahui hubungannya dengan Salsa. Itu sama saja membuat pernikahannya dengan Azkiya hancur. Tapi di lain sisi Ia tidak ingin melepaskan Salsa. Egois memang, tapi Ia benar-benar tidak bisa melepaskan salah satu dari keduanya. Ia ingin Azkiya dan Salsa tetap menjadi miliknya.
"Pasti tidak bisa, kan?" ucap Salsa, yang melihat raut wajah kebingungan Rafka.
"Beri saya waktu."
"Tolong beri saya waktu, Salsa. Saya tidak ingin melepaskan mu. Kau milik saya." Rafka semakin mengeratkan rengkuhannya pada Salsa dengan posesif. Setengah bulan di tinggalkan oleh Salsa membuat sesuatu dalam hatinya terasa hampa.
Jujur, Ia benar-benar tidak rela bila harus melepaskan wanita muda yang kini dalam rengkuhannya. Entah karna Salsa tengah mengandung anaknya atau karna Ia mulai mencintai wanita tersebut.
"Tolong jangan serakah, Pak. Jangan egois!" sentak Salsa.
"Tidak, kau hanya milik saya." Rafka begitu erat memeluk Salsa yang semakin tidak nyaman dengan posisi mereka sekarang.
*
*
__ADS_1
Salsa mendengus kesal ketika tidak bisa membuka pintu kamar tersebut. Ia menoleh ke arah Rafka yang kembali tertidur dengan nyamannya. Wanita itu mulai memeriksa setiap lemari dan laci dalam kamar tersebut. Bisa saja Rafka menyembunyikannya di sini.
"Di mana dia menyimpannya," gerutu Salsa seraya menyibak selimut yang menutup tubuh suaminya.
Sorot mata wanita itu langsung mengarah pada celana yang Rafka kenakan. Ia belum memeriksa di bagian itu.
"Pasti di situ." Salsa merangkak naik ke atas ranjang. Ia langsung memasukkan tangannya ke dalam kantung celana Rafka.
Sementara pria itu tampak menggeram tertahan ketika tangan mungil Salsa menyentuh bagian sensitifnya.
"Apa yang kau lakukan?" ucap Rafka serak. Ia langsung menarik tangan Salsa dari kantung celananya.
"Aku mencari kunci," balas Salsa dengan wajah polosnya.
Rafka mendesah ketika adik kecilnya sudah menegang. Memang sialan! Baru di sentuh sudah er*ksi. Pria itu segera bangkit dari kasur dan berjalan masuk ke kamar mandi.
Sementara Salsa menatap polos sosok Rafka yang hilang dari balik pintu kamar mandi.
__________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
See you di part selanjutnya🤧
__ADS_1