Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 38


__ADS_3

Salsa duduk bersandar di brankar dengan sorot mata yang hampa. Wanita itu lebih banyak diam, dan sangat menyukai kesuyian. Sudah tiga hari Salsa menjalani rawat inap. Dan selama itu Rafka selalu membersamai istrinya serta merawat putra mereka berdua.


Meski begitu, Adan tetap mengawasi Rafka. Walaupun Ia mengizinkan pria itu menjaga dan merawat Salsa bukan berarti Ia langsung percaya sepenuhnya. Karna bisa saja ini bagian dari rencana pria itu agar bisa merebut keponakannya tersebut.


"Sekarang makan dulu. Saya sudah membelikan makanan favorit mu," ucap Rafka seraya mengeluarkan makanan favorit Salsa dari kantong kresek.


Salsa hanya melirik sekilas pada makanan tersebut dan kembali menatap lurus dengan tatapan yang sama. Rafka menghela napas panjang melihatnya.


Dokter Arya mengatakan bila Salsa mengalami baby blues. baby blues syndrom adalah suatu bentuk kesedihan atau kemurungan yang dialami ibu setelah melahirkan. Baby blues syndrom biasanya muncul sementara waktu yaitu sekitar dua hari sampai tiga minggu sejak kelahiran bayi.


Dan mungkin baby blues yang dialami Salsa akan sedikit parah, mengingat Ia baru saja kehilangan salah satu anaknya.


"Ayo makan dulu, buka mulutnya," titah Rafka dengan senyuman hangat.


Salsa menundukkan kepalanya. Kedua tangannya sibuk memilin ujung bajunya. Rafka menoleh ke arah Adan yang menggedikan bahunya, tak ingin ikut campur apalagi membantu.


"Usahakan dia harus habis makannya. Dia juga seperti ini karna mu," seloroh Adan yang tersenyum puas melihat wajah Rafka.


Rafka menghela napas berat."Dan aku akan perbaiki semuanya."


"Salsa, makanlah sedikit saja. Bagaimana bisa kau memberikan ASI pada anak kita, sedangkan tidak ada sedikit pun asupan makanan masuk dalam mulut mu," ucap Rafka yang berusaha membujuk.


Sekarang penampilan Salsa terlihat sangat kurus. Dan itu membuat Rafka pedih melihatnya.


Dengan hati terpaksa wanita itu membuka mulutnya dan menerima suapan yang Rafka berikan. Di garis bawahi, Ia menerima suapan dari pria itu karna anaknya.


"Besok, kau bisa pulang dari rumah sakit. Saya meminta dokter Arya agar mengizinkan mu menjalani perawatan di rumah," ucap Rafka seraya mengusap sudut bibir Salsa.


"Pulang ke kampung?" tanya Salsa dengan tatapan polosnya.


Rafka menggeleng cepat." Tidak, kita akan pulang ke rumah utama. Saya sudah berjanji akan memperkenalkan mu dengan kedua orangtua saya. Dan juga memberikan kejutan kelahiran anak kita."


Salsa mengerutkan keningnya dengan tatapan bergulir.


"Bagaimana dengan mbak Azkiya? Aku takut dia akan marah dan cemburu__"

__ADS_1


"Kau tidak usah takut ataupun khawatir. Saya sudah menentukan pilihan salah satu di antara kalian berdua yang pantas mendampingi saya."


"Siapa?" Raut wajah Salsa terlihat sangat penasaran.


Kalaupun Rafka menceraikan dirinya takkan jadi masalah. Asalkan hak asuh anak jatuh padanya.


Rafka mengulum senyumnya.


"Tapi aku tidak setuju!" sahut Adan yang kini bangkit dari tempat duduknya yang sedari tadi memperhatikan.


Keduanya kompak menoleh ke arah Adan.


"Kau ingin Salsa mendapat masalah lebih besar lagi? Bagaimana dengan istri pertama mu itu, hah? Bisa saja dia akan melakukan hal yang mencelakai Salsa. Kau kira perempuan akan dengan mudah menerima ketika dirinya harus diduakan!" geram Adan penuh penolakan.


"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan urusan rumah tangga ku. Aku tidak mungkin mengambil keputusan ini jika membuat Salsa dalam masalah. Lebih baik kau ikuti saja alurnya, atau perlu kau ikut dengan ku pulang ke rumah utama, agar kau tahu!" balas Rafka yang seolah menantang.


Ia sangat benci ketika Adan selalu meragukan ucapan ataupun tindakannya. Pria itu terlalu terpaku atas kesalahan yang Ia lakukan di masa lalu dibanding perbaikan yang sekarang Ia lakukan.




Jaka, nama yang kampungan bagi Rafka.


Bayi mungil itu tampak nyaman dengan posisinya sekarang. Separuh kepalanya tertutup kain karna mengingat dalam mobil ini bukan hanya ada Rafka tapi ada Arjo juga.


"Kenapa?" tanya Rafka melihat wajah tegang Salsa.


"Aku takut keluarga Bapak akan menolak kedatangan ku," balas Salsa murung.


"Jangan berpikiran seperti itu. Mereka akan sangat senang dengan kedatanganmu." Rafka tersenyum hangat seraya mengenggam tangan Salsa.


Pria itu memajukan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka berdua. Salsa dengan cepat memalingkan wajahnya hingga Rafka hanya bisa mencium pipinya.


Rafka langsung menjauhkan dirinya dari Salsa, dan berdecak pelan. Ia kira akan mudah mencicipi bibir merah merona itu yang sudah menjadi candunya. Sedangkan Arjo yang mengendarai mobil terlihat terkikik geli melihat wajah Rafka yang mengenaskan melalui kaca mobil.

__ADS_1


"Fokuslah menyetir!" ketus Rafka pada Arjo yang langsung menghentikan tawanya.


Kini, mobil itu hitam itu memasuki area pekarangan rumah. Elsa yang mendengar suara deru mesin mobil segera keluar dari rumah.


Rafka lebih dulu keluar dari mobil, setelah itu membukakan pintu untuk Salsa yang tampak ragu keluar dari mobil.


Mata Salsa langsung dimanjakan oleh bangunan megah yang ada dihadapannya sekarang. Ini kali pertama Rafka membawa istri sirinya ke rumah utama miliknya.


Pandangan mata Salsa tidak sengaja bertemu dengan sorot tajam Azkiya yang kini tengah berdiri di ambang pintu. Wanita itu bersedekap dada dengan wajah angkuhnya menatap Salsa yang membalas dengan tatapan sendu.


"Rafka, apakah ini Salsa?" tebak Elsa yang sudah berdiri di samping putranya.


Rafka mengangguk.


Senyuman Elsa semakin lebar kala menatap bayi mungil yang tertidur lelap dengan mulut yang sedikit terbuka, dan itu membuat Andrew terlihat sangat menggemaskan.


"Boleh Tante gendong?"


"I-iya..." Salsa menyerahkan putranya pada Elsa yang menatap binar pada makhluk kecil itu.


"Cucu, Oma..." Elsa mencium pipi chubby kemerah-merahan itu dengan penuh haru.


Azkiya yang menyaksikan itu memalingkan wajahnya dengan perasaan yang bergejolak tak karuan.


Rafka merengkuh pinggang Salsa dan mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu." Nanti kita buat lagi cucu untuk Bunda."


Salsa yang mendengar bisikkan itu langsung mendorong suaminya. Rafka tertawa ringan melihat wajah galak Salsa. Azkiya yang melihat pemandangan itu semakin geram. Entahlah, Ia merasa cemburu. Mungkin karna Ia masih mencintai Rafka.


____________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


See you di part selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2