
Orang yang tulus mencintaimu tidak datang dua kali. Tapi orang yang selalu menyakiti hati mu, selalu datang berkali-kali.
Azkiya menatap ke sekeliling kamar yang Ia tempati selama tiga tahun. Entah mengapa Ia menjadi sangat berat untuk meninggalkan tempat ini. Azkiya mengigit bibir bawahnya kelu dengan perasaan tak karuan.
Setelah puas menelisik kamar yang selalu menjadi tempat ternyaman untuknya, Ia melangkah menuju ke pintu seraya menarik kopernya yang cukup besar.
Saat menuruni anak tangga, Azkiya sudah mendapati semua orang tengah berkumpul di ruang tamu.Terutama Rafka yang langsung mengalihkan pandangan matanya saat bersitatap dengannya.
"Azkiya..." Elsa langsung berhambur memeluk Azkiya, yang sebentar lagi akan pergi meninggalkan rumah ini.
Meski perceraian mereka berdua belum diresmikan oleh pengadilan. Azkiya memilih untuk pergi meninggalkan rumah tersebut lebih awal.
"Bunda harap kamu maupun Rafka bahagia dengan pilihan kalian masing-masing," ucap Elsa setelah menguraikan pelukannya.
Air mata tak sanggup wanita paruh baya itu bendung. Ia menyayangi dan menganggap Azkiya seperti putri kandungnya. Meski harus menelan kekecewa mendalam pada menantunya tersebut.
"Bunda harap setelah perpisahan ini, kamu tetap bahagia," ucap Elsa kembali memeluk Azkiya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi.
Revin hanya diam mengamati.
Azkiya berusaha menahan air mata yang sudah membanjir di pelupuk matanya. Ia tidak boleh menangis, karna ini memang keinginannya bebas dari keluarga Adelard.
"Rafka, sini Nak." Elsa menatap putranya agar mendekat.
Dengan langkah berat dan hati terpaksa Ia mendekat dan kini berdiri berhadapan dengan Azkiya. Keduanya saling bertatapan dengan pandangan yang berbeda-beda.
"Kamu tidak ingin memeluk istri mu terakhir kalinya, Nak?"
Satu alis Rafka terangkat."Aku sudah tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, Bun. Kami berdua sudah jadi orang asing yang pernah mengukir kisah."
Azkiya menundukkan kepalanya. Ia tak sanggup terus bertatapan dengan Rafka yang terlihat jelas sorot kemarahan dan kebencian yang ditujukan padanya. Kata-kata yang pria itu lontarkan selalu mengandung sindiran.
"Sudah, Bunda. Aku ingin segera pergi dari sini. Semoga Bunda dan Ayah selalu bahagia juga." Azkiya langsung beranjak dari hadapan keduanya. Ia tidak ingin berlama-lama di sini.
Elsa menatap sendu pada Azkiya.
"Apa kamu tidak ingin menahannya, Raf? Bahaya bila malam-malam seperti ini dia pergi, taksi jarang lewat," ucap Elsa khawatir.
"Biarkan saja dia. Tidak perlu menahannya, itu sudah keinginannya meninggalkan rumah ini."
Rafka beranjak dari hadapan Elsa menuju kamar. Ia tidak ingin terus berbicara dengan sang Bunda yang terus membicarakan Azkiya. Menurutnya tidak perlu terlalu baik dengan Azkiya yang sudah berkhianat, meski Ia tidak jauh beda. Tapi alasannya menikahi Salsa lebih mendasar dan fyur karna kecelakaan tak disengaja.
__ADS_1
Salsa yang masih memejamkan matanya tampak menggeliat tak nyaman kala seseorang ikut berbaring di sampingnya dan memeluk dirinya dari belakang.
"Eugh..."
Salsa melenguh tak nyaman. Wanita itu membalikkan tubuhnya, perlahan mata Salsa terbuka lebar. Ia bergeming ketika sudah berhadapan dengan Rafka yang berbaring di sampingnya.
"Tidurlah," ucap Rafka mengusap-ngusap punggung belakang Salsa lembut.
"Kenapa Bapak tidur di sini?" tanya Salsa serak.
"Kenapa? Bukannya wajar suami tidur satu ranjang dengan istri sendiri?"
Salsa diam. Ia sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari Rafka hingga bersentuhan dengan tubuh mungil Andrew yang tidur di sampingnya.
"Kau tidak suka bila saya tidur bersama mu?" Rafka menampilkan raut wajahnya sedih ketika bertanya seperti itu.
Salsa menggeleng." Bukan, aku tidak biasa tidur satu ranjang dengan Bapak. Hampir sembilan bulan kita berpisah dan itu membuat aku canggung. Walaupun tidak ada bedanya saat awal-awal kita menikah."
"Maaf..."
"Mungkin kau tidak nyaman dengan sikap saya seperti ini. Saya hanya ingin membangun kedekatan dengan mu, Sal," ucap Rafka menatap penuh ketulusan tanpa dibuat-buat.
"Tapi sikap Bapak yang seperti ini membuat aku tidak nyaman. Bersikaplah seperti awal kita bertemu."
Pria itu menarik pinggang ramping Salsa, hingga tubuh keduanya merapat. Rafka mencium kening istri sirinya tersebut cukup lama.
"Bolehkah saya mencium bagian ini," ucap Rafka mengusap bibir Salsa.
Pria itu menatap bibir ranum itu dengan penuh minat. Mengingat pria sudah berpuasa hampir satu bulan, semenjak hubungannya dengan Azkiya tidak baik-baik saja. Ia butuh pelepasan pada hasratnya yang terpendam satu bulan ini.
Wanita itu membelalakan matanya, terkejut dengan apa yang Ia dengar.
•
•
"Sejak kapan kau di apartemen ku?" tanya Fano yang terlihat terkejut dengan keberadaan Azkiya yang sudah berada dalam apartemennya.
Wanita yang duduk santai di sofa sambil menonton siaran televisi itu, menoleh ke arah Fano.
Azkiya tersenyum tipis dan bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah mendekat pada Fano.
__ADS_1
"Seharusnya kau tidak ke apartemen ku."
Langkah kaki Azkiya terhenti mendengar itu. Ia menatap Fano dengan kening berkerut." Memang kenapa?"
"Rafka bisa saja marah bila kau___"
"Aku sudah bercerai dengannya," sela Azkiya cepat.
Fano membelalakan matanya terkejut dengan apa yang Azkiya ucapkan.
"Dia menggugat ku. Lagi pula aku tidak mencintainya. Kita bisa hidup bahagia." Senyuman penuh binar tercipta di wajah Azkiya.
Lain halnya dengan Fano yang menampilkan ekpresi yang berbeda.
"Seharusnya kau tidak bercerai dengannya."
Senyuman Azkiya langsung luntur, tergantikan dengan raut wajah penuh tanya atas ucapan yang Fano lontarkan.
"Hubungan kita tidak seserius itu, Az. Perselingkuhan yang kita lakukan hanya untuk bersenang-senang saja. Minggu depan aku akan bertunangan dengan Rossa."
Azkiya langsung menjatuhkan rahangnya. Shock.
"Kau pasti bohong. Aku sudah melepaskan Rafka dan lebih memilih mu!" sentak Azkiya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak pernah meminta mu memilih aku ataupun Rafka!" sarkas Fano.
Azkiya memundurkan tubuhnya dari Fano dan hampir limbung bila tidak berpegangan pada sisi meja.
"Kau sendiri yang menawarkan dirimu padaku. Sebagai lelaki yang butuh pelampiasan hasrat tentu aku tidak akan menolak." Fano tersenyum miring.
"Kau harus tanggung jawab! Aku sudah rela menyerahkan tubuhku padamu dan__"
"Dan apa?" sela Fano memotong ucapan Azkiya." Apa yang ingin di pertanggung jawabkan, sedangkan kau mandul!"
Air mata langsung meluncur bebas mendengar ucapan Fano yang penuh penghinaan atas kekurangannya. Rongga dadanya sangat sesak dan sakit luar biasa.
______________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
__ADS_1
See you di part berikutnya:)