Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 21


__ADS_3

...Aku tidak pernah menyesal mengenal mu. Meski kau adalah satu-satunya orang yang menciptakan luka paling dalam di hati ku....


"Ku tinggal meeting sebentar ya," ucap Rafka seraya mengecup kening Azkiya singkat.


Sementara Arjo menundukkan kepalanya melihat pemandangan tersebut. Perlakuan atasannya sangat jauh berbeda bila bersama Salsa. Tentu, Ia mengetahui bagaimana hubungan antara Rafka dan Salsa yang tidak baik-baik saja.


"Iya, Mas. Tidak apa-apa. Aku juga akan pergi karna ada urusan," balas Azkiya melingkarkan tangannya di pinggang Rafka.


Sedangkan Rafka mengkerutkan keningnya." Urusan apa?"


Azkiya tersenyum tipis." Hanya ada urusan dengan teman-teman ku. Mereka mengajak ku untuk bertemu."


"Ooh, aku kira ada urusan apa." Rafka terkekeh pelan dan kembali mengecup kening Azkiya.


"Kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku." Azkiya menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergian Rafka dan asisten Arjo dari ruangan tersebut, raut wajah Azkiya langsung berubah datar. Wanita itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi seseorang.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Azkiya seraya menatap kuku-kuku di jarinya.


"Kami sudah menemukannya. Alamat tempat tinggalnya sudah saya kirim lewat pesan," balas seorang pria di sebrang sana.


Azkiya langsung mematikan panggilan telpon dari anak buahnya dan mencek alamat yang di kirim. Senyuman tersungging di bibir merah merona itu.


"Akhirnya aku menemukan hama itu..." gumam Azkiya.




Salsa kembali memasukkan pakaiannya ke dalam lemari. Kemarahan Rafka begitu mengerikan baginya dan bagaimana bisa pria itu mengetahui niatnya. Namun, suara ketukan pintu yang cukup keras membuat gerakkan tangan wanita itu terhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara.


"Apakah itu Bapak Rafka? Kenapa dia tidak langsung masuk?" gumam Salsa seraya membereskan pakaiannya dan bergegas melangkah ke arah pintu keluar.


Salsa segera membuat pintu tersebut dan...


Plak!

__ADS_1


Sebuah tamparan yang sangat kasar wanita itu dapatkan setelah pintu itu terbuka. Salsa memegangi pipinya yang kini semakin bertambah sakit dan ngilu. Azkiya menatap tajam wanita yang menjadi simpanan suaminya. Sangat mudah baginya mencari keberadaan sosok wanita yang berhasil membuat perhatian suaminya terbagi pada wanita lain.


"Berapa suami ku membayar mu? Atau berapa kau menjual tubuh mu?!" bentak Azkiya yang semakin meradang menatap wajah Salsa.


"Ma-maksudnya apa? Aku tidak paham maksud anda?" tanya Salsa seraya menatap dua pria bertubuh kekar yang menatap dirinya dengan tatapan yang menakutkan.


Azkiya berdecih sinis." Tidak usah pura-pura tidak tahu!" Azkiya mendorong kasar tubuh Salsa yang hampir terjengkang ke belakang.


"Rafka itu suami ku! Tidak mungkin kau tidak tahu, b*tch!"


Salsa meneguk ludahnya kasar dan badan yang menegang setelah mendengar pernyataan dari wanita yang merupakan istri sah suaminya. Mata Salsa mendadak memanas bersamaan dengan rasa sesak yang Ia rasakan di rongga dadanya.


"Gara-gara kau!" Azkiya menunjuk Salsa tepat di wajahnya." Mas Rafka berubah! Perempuan seperti mu tidak pantas untuk siapa pun! Dan jika kau melakukan ini karna uang kenapa tidak jajakan saja diri di club malam!" ucap Azkiya dengan napas menggebu-gebu. Orang-orang yang berada di lorong apartemen menatap ke arah keduanya. Suara keras Azkiya terdengar jelas dan mengundang perhatian orang-orang.


Salsa menundukkan kepalanya. Air mata bercucuran menetes ke lantai. Kedua tangannya terkepal kuat. Marah pun tidak ada gunanya, percuma Ia mencari pembenaran karna orang-orang akan tetap menyalahkan dirinya.


"Pergi dari sini! Menjauh dari suami ku!" Azkiya menarik kasar pergelangan tangan Salsa keluar dari apartemen milik suaminya.


Azkiya tidak akan pernah membiarkan siapa pun menghancurkan rumah tangganya dengan Rafka. Apapun akan Ia lakukan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya.


"Kalian berdua, bawa keluar semua barang-barang perempuan ini!" perintah Azkiya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Salsa.


Plak!


Lagi, Azkiya melayangkan tamparan pada Salsa yang semakin meringis kesakitan.


"Diam! Tidak usah mencari pembelaan! Kau tetap saja pelakor! Sekarang pergi dari sini. Kalau bisa pergi sejauh mungkin. Awas saja kau berani muncul di hadapan ku ataupun suami ku. Sangat mudah bagi ku menghancurkan kedua orangtua mu!"


Pupil mata Salsa membesar mendengar ancaman Azkiya. Ia menggelengkan kepalanya, Ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan kedua orangtuanya.


Bugh


Kedua anak buat Azkiya melempar kasar tas ransel dan semua barang-barang pada tubuh Salsa hingga wanita itu merintih kesakitan. Salsa memegang perutnya yang menjadi sasaran hantaman tas ransel yang di lempar kasar ke arahnya.


"Pergi dari sini." desis Azkiya.


Sementara kedua pria berpakaian hitam tersebut menatap rendah pada Salsa sebagai wanita murahan. Tentu saja, setiap orang akan berpikiran seperti itu di tambah statusnya sebagai istri siri di rahasiakan.

__ADS_1




"Hentikan mobilnya," perintah Rafka. Arjo langsung menghentikan mobilnya tepat di depan apotek.


"Tolong kau belikan rujak yang ada di sana," titah Rafka seraya menatap ke arah penjual rujak yang tidak jauh dari mobil mereka berhenti sekarang." Dan juga belikan obat salep di apotek."


"Baik, Tuan." Arjo turun dari mobil membelinya barang dan makanan yang di minta oleh atasannya. Tapi lebih dulu Ia ke apotek untuk membeli salep. Entah apa yang ingin di lakukan oleh sang atasan.


Sementara Rafka menghela napas panjang. Tatapan matanya lurus ke depan menerawang pada kejadian tadi pagi. Ada rasa bersalah yang menyusup benaknya. Seharusnya Ia tidak sekasar itu dengan Salsa. Apalagi wanita itu tengah mengandung anaknya.


"Apa yang sudah ku lakukan," monolog Rafka seraya mengusap kasar wajahnya.


Ia akan mampir ke apartemen untuk melihat keadaan Salsa, setelah itu baru pulang ke rumah menemui Azkiya.




Di lain tempat, Salsa duduk di bawah pohon yang tidak jauh dari jalan raya. Wanita itu memeluk erat tas ranselnya dengan tatapan kosong. Ia bingung harus pergi ke mana, tidak mungkin Ia pulang ke rumah orangtuanya dengan posisi tengah hamil. Ia tidak ingin menjadi aib buruk untuk ayah dan ibu. Walaupun sebelumnya tujuan Ia Ingin ke sana.


"Kenapa nasib ku sangat menyedihkan sekali," gumamnya mendongakkan kepalanya menatap langit yang mulai menghitam dan sepertinya akan turun hujan.


Wanita itu menatap tangan-nya yang menggenggam kartu ATM milik Rafka yang sebelumnya pria itu berikan padanya.


"Apakah keberadaan ku akan di ketahui bapak Rafka bila menggunakan kartu ATM ini." ucap Salsa bertanya pada dirinya sendiri. Karna posisinya sekarang tidak memegang uang sepeser pun dan saat ini Ia lapar.


Bukan apa-apa, Ia pernah membaca novel tentang seorang istri yang kabur dari rumah dan keberadaannya di ketahui sang suami karna menggunakan karna ATM yang seperti Ia pegang sekarang.


_____________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


Dan aku update setiap malam ya girl.

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2