
Bayi lelaki itu tampak nyaman berada dalam dekapan hangat sang ayah. Rafka masih tidak menyangka darah dagingnya sudah terlahir ke dunia dan sekarang dalam gendongannya. Pandangan matanya terus terfokus pada bayi mungil tersebut dan menelisik wajah putranya.
"Maafkan Papa yang tidak bersamaimu saat dalam kandungan. Entah sebanyak apa kesulitan yang harus Mama mu hadapi saat sedang mengandung mu," ucap Rafka seraya mengecup pipi kemerah-merahan itu.
Bayi itu menggeliat kecil merasakan kecupan basah yang Rafka berikan.
Tatapan mata Rafka beralih pada Salsa yang terbaring dibrankar dan masih belum sadarkan diri setelah di suntik obat penenang satu jam yang lalu. Netra coklatnya menelisik bagian tubuh Salsa dan memandang lama wajah sang istri seolah mengobati kerinduan yang diam-diam menyiksa ketika beberapa bulan tidak bertemu.
Di dalam ruangan tersebut terlihat salah satu suster tengah mengganti cairan infus milik Salsa. Dan Rafka masih setia dan betah duduk di samping brankar sambil menggendong putranya.
Sungguh, di balik kebahagiaan ada kesedihan mendalam dibenak Rafka atas kematian salah satu anak kembarnya. Dan Ia semakin merasa bersalah ketika tidak ada di samping Salsa, saat wanita itu tengah mengandung putranya terutama saat melahirkan.
"Siapa kau?!" Suara keras seseorang membuat Rafka menoleh.
Adan berdiri tegap diambang pintu. Pria yang menentang papper bag hitam itu melangkah lebar mendekat pada Rafka diikuti dari belakang oleh Ayu. Mereka berdua baru saja dari toko pakaian, membeli pakaian untuk anak Salsa dan keperluan khusus bayi.
"Seharusnya saya yang bertanya, siapa kalian berdua?" Rafka balik melontarkan pertanyaan.
Satu alis Adan tertarik ke atas dan Ayu mengernyitkan keningnya, bingung.
"Aku kerabat Salsa," jawab Adan seraya menelisik penampilan Rafka.
Raut wajah Rafka langsung berubah. Sebuah senyuman tipis muncul dibibirnya.
"Berarti selama ini Salsa tinggal bersamamu?" Lagi, Rafka kembali bertanya.
Adan semakin dibuat bingung dengan sosok pria yang ada dihadapannya. Karna pria itu tidak pernah tahu dan melihat rupa dari suami adik sepupunya tersebut.
"Perkenalkan aku Rafka, suami Salsa," ucap Rafka memperkenalkan diri ketika melihat wajah kebingungan Adan dan Ayu.
"Ooh, jadi kau Rafka, laki-laki bajingan yang sudah membuat Salsa seperti ini," ucap Adan dengan nada sinis.
__ADS_1
"Maksudmu apa?" Rafka tampak tak paham dengan maksud perkataan pria yang ada dihadapannya sekarang.
"Karna kau Salsa seperti ini! Apa kau tidak tahu apa yang Salsa rasakan saat mengandung anak mu, dia harus menanggung beban yang sangat berat!"
Rafka bergeming mendengarnya.
"Sekarang lihat dia!" Adan menunjuk ke arah Salsa.
Rafka meneguk ludahnya kasar dan menatap kondisi Salsa sekarang. Badan yang sangat kurus dan pipi yang terlihat tirus.
"Aku yakin kau tidak akan paham dan mengerti bagaimana Salsa berusaha mempertahankan anak dalam kandungannya. Apa kau tahu, tepat usia kandungan Salsa memasuki usia delapan bulan, dia mengalami pendarahan dan hampir keguguran. Sedangkan daerah yang ditinggali Salsa sangat jauh dari perkotaan. Dan jika kau datang kemari hanya ingin mengambil anak itu, aku tidak akan membiarkannya setelah usaha dan pengorbanan yang Salsa lakukan!" sarkas Adan dengan napas menggebu-gebu dan amarah yang bergejolak.
Sementara Rafka diam membisu dengan segala penyesalan dan rasa bersalah yang semakin besar. Ia tidak bisa membayangkan dengan hal yang dikatakan pria itu.
"Saya ke sini bukan untuk merebut bayi ini. Tapi saya ke sini ingin memperbaiki semuanya. Saya akui, saya sangat bersalah. Dan saya akan menebus semua kesalahan yang saya perbuat dengan menjadikan Salsa istri sah saya," balas Rafka tulus.
Adan berdecih.
"Saya akan membuktikan bila saya benar-benar tulus dengan Salsa. Kau boleh tidak percaya dan mengatakan apapun tentang saya, tapi kau harus tahu bila Salsa masih istri saya. Dan sepenuhnya dia milik saya."
Emosi Adan yang tertahan semakin tersulut. Aura dalam ruangan itu terasa berbeda.
"Maaf sebelumnya, sebaiknya kalian berdua menyelesaikan masalah di luar saja. Karna akan menganggu pasien," tegur suster yang sedari tadi menyaksikan perdebatan keduanya.
Adan mendengus dan menatap benci pada Rafka. Sementara Rafka menghela napas pelan.
•
•
"Azkiya, kamu mau pergi ke mana?" tanya Elsa menatap penampilan menantunya tersebut.
__ADS_1
"Aku ingin keluar, ada urusan," balas Azkiya.
"Ini sudah malam, sebaiknya tidak usah pergi. Dan Bunda lihat pakaian mu sangat terbuka tidak seperti biasanya?"
Azkiya memutar bola matanya malas.
"Ini sudah biasa, Bun. Jadi tidak usah heran!" balasnya dengan sarkas.
Kening Elsa mengkerut dengan sikap Azkiya yang berbeda.
"Kamu kenapa?" tanya Elsa.
"Aku kenapa?" Azkiya menunjuk dirinya."Sebaiknya Bunda tanya langsung dengan Rafka. Yang sibuk dengan istri simpanannya!"
"Hah? Bukannya Rafka sedang istirahat di kamar?"
Azkiya hanya mengedikkan bahunya acuh. Ia beranjak dari hadapan mertuanya, karna terlalu memuakkan bila terus menjawab pertanyaan Elsa.
"Azkiya!" Panggilan Elsa tidak dihiraukan oleh wanita itu yang terus melenggang.
"Ada apa?" tanya Revin yang baru saja keluar dari kamar.
Elsa menoleh menatap suaminya."Azkiya pergi, Yah. Padahal sudah malam. Aku lihat Azkiya terlihat berbeda, bukan hanya dari sikap tapi penampilannya."
"Mungkin dia sedang bertengkar dengan Rafka. Bisa saja karna perempuan yang kamu ceritakan tadi."
Elsa manggut-manggut, setuju dengan ucapan suaminya.
"Aku akan bicara serius dengan Rafka. Bagaimana pun keputusannya menikah lagi tanpa memberitahu kita sudah sangat salah," ucap Revin.
"Tapi, Yah, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Rafka. Karna ini kecelakaan yang tidak di sengaja. Yang terpenting Rafka bisa adil pada kedua istrinya, meski itu sangat sulit," sela Elsa.
__ADS_1