
...Bukan tentang memaafkan, tapi luka yang di torehkan sudah sangat dalam, Tuan. ...
"Tahan ya, Salsa. Sebentar lagi mereka akan lahir," ucap Adan mengusap air mata yang membasahi pelipis wanita itu.
Salsa mengangguk dengan bibir yang bergetar menahan sakit, ngilu dan nyeri dibagian perut serta pinggangnya. Rasanya seperti dua puluh tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Mata wanita itu membengkak dan sembab.
Beberapa suster tengah menyiapkan ruangan yang akan menjadi tempat tindak operasi Caesar.
"Mas..." panggil Salsa suara yang terdengar serak dan lemas. Adan menatap adik sepupunya tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jika dokter memberikan pilihan antara menyelamatkan aku atau anak ku. Tolong pilih anak ku, dia sangat penting untuk ku."
Adan menggeleng cepat.
"Jangan bicara seperti itu, kau dan anak mu akan selamat. Aku mohon jangan bicara seperti ini..." Adan semakin erat mengenggam tangan Salsa yang semakin terasa dingin.
Salsa memejamkan matanya merasakan sakit diperutnya yang semakin menjadi-jadi. Ia meremas sisi brankar dan membuang napas secara beraturan.
"Permisi Pak, kami akan membawa pasien ke ruang operasi," ucap seorang suster. Adan langsung menjauh dari sisi brankar.
Pria itu melangkahkan kakinya mengikuti para suster mendorong brankar menuju ke ruang operasi.
"Maaf Pak, anda tidak boleh masuk ke dalam ruangan ini kecuali dokter sudah mengizinkannya." ucap salah satu suster menahan Adan yang hendak ikut masuk ke dalam.
"Suster, tolong katakan pada dokter Arya untuk menyelamatkan ketiganya. Saya mohon." Adan menyatukan kedua tangannya dengan wajah memelas.
"Iya, Pak. Dokter Arya akan melakukan yang terbaik," balasnya setelah itu pintu tertutup rapat.
Adan mengusap kasar wajahnya. Ia menyandarkan tubuhnya di tembok dengan perasaan takut, cemas dan khawatir yang kini campur aduk dalam benaknya. Nasib Salsa sangat malang, jika wanita lain akan di dampingi suaminya saat melahirkan, tapi Salsa harus berjuang seorang diri.
"Lancarkanlah dan selamatkan ketiganya, Ya Tuhan." Adan berdoa dengan penuh harapan besar.
"Adan!" panggil Ayu yang kini berjalan menghampiri pria yang menyandarkan tubuhnya di tembok.
"Ada apa?"
"Salsa sudah ada di dalam?"
Adan mengangguk lemah.
__ADS_1
"Bukannya aku ingin menambah beban pikiran mu saat ini, tapi bagaimana cara kita membayar biaya operasi dan rawat inap Salsa nantinya?"
Adan tertegun. Dan tidak lama pria itu menghela napas berat.
"Biar itu menjadi urusan ku yang terpenting Salsa dan bayi-bayinya selamat."
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Tapi bagaimana dengan ayah biologis dari anak Salsa, apa kita harus memberitahunya tentang hal ini?" tanya Ayu menatap Adan yang lagi-lagi menghela napas.
"Tidak perlu. Untuk apa memberitahu dia, laki-laki bajingan seperti dia tidak akan peduli karna yang dia incar adalah anak yang saat ini Salsa perjuangkan hidup dan matinya. Kau tidak usah membahas tentang laki-laki pengecut itu!" sarkas Adan yang benar-benar tidak suka dan emosinya langsung tersulut bila membahas tentang Rafka.
Ayu langsung diam dan tak berniat membalas ucapan Adan. Apalagi pria itu tengah diliputi kesedihan dan kekhawatiran yang mendalam pada Salsa. Ayu menatap pintu ruang operasi yang beberapa menit lalu tertutup rapat. Entah bagaimana keadaan Salsa di dalam sana. Yang harusnya di dampingi oleh suaminya.
Satu jam berlalu dan tidak lama lampu hijau di pintu ruang operasi menyala, menandakan operasi sudah selesai. Adan dan Ayu sudah berdiri di depan pintu menunggu dokter Arya keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Dokter, bagaimana dengan bayinya? Lalu kondisi Salsa juga bagaimana?" Adan langsung menghadiahi pertanyaan ketika dokter Arya keluar dari ruangan itu.
Dokter Arya menundukkan kepalanya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Adan.
"Saya dan beberapa dokter yang lain memohon maaf sebesar-besarnya, kami sudah melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berhendak lain, kami tidak bisa menyelamatkan salah satu bayi kembar yang meninggal dunia dengan jenis kelamin perempuan. Kami turut berduka cita," papar dokter Arya memejamkan matanya rapat-rapat dengan semburat kesedihan di wajahnya.
Ia merasa gagal karna tidak bisa menyelamatkan nyawa kecil yang bahkan belum sempat membuka matanya saat lahir di dunia ini.
Kedua kaki Adan langsung lemas dan tak sanggup menopang berat tubuhnya setelah mendengar pernyataan dari dokter tersebut. Sedangkan Ayu membekap mulutnya, meredam isak tangisnya.
"Bagaimana aku mengatakannya pada Salsa, Yu?" ucap Adan dengan suara tercekat di tenggorokan.
Sedangkan Ayu tidak bisa berkata-kata lagi. Ia masih shock dan tak menyangka ini akan terjadi.
•
•
Sinar cahaya matahari pagi menembus ke sela-sela gorden yang menutupi jendela kaca yang cukup besar dan menerpa tepat di wajah Rafka yang perlahan membuka matanya. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa, menyesuaikan cahaya yang masuk ke rentena matanya.
"Sstt..." Rafka mendesis nyeri mencengkram bagian perutnya yang masih saja terasa sakit di tambah tidurnya tak karuan.
Ia menoleh ke samping kasur dan tidak mendapati Azkiya.
Drrtt...
__ADS_1
Suara dering ponsel membuat atensi dan perhatian Rafka teralihkan. Ia meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja di samping kasur.
"Ada apa?" tanya Rafka tanpa melihat nama sang penelpon.
"Tuan, apa ada bisa ke hotel Almaron's sekarang, saya menemukan nona Salsa," ucap Arjo di sebrang sana.
Kedua mata Rafka yang awalnya tampak sayu langsung terbuka lebar.
"Benarkah? Kau jangan membohongi ku, waktu lalu kau mengatakan melihat Salsa dan ternyata bukan!" tuding Rafka yang langsung bangun dari tempat tidurnya, tidak memperdulikan pusing dan sakit di kepalanya.
"Saya tidak berbohong, sekarang nona Salsa ada di hotel itu. Sekarang Tuan cepat datang ke sini sebelum nona Salsa kembali kabur."
"Baiklah. Tetap awasi dia, aku akan segera ke sana." Rafka melempar ponselnya ke atas kasur dan mengambil jaket hitam miliknya yang tergantung di belakang pintu.
Ia tidak peduli dengan penampilan sekarang, yang terpenting Salsa bisa Ia dapatkan kembali.
"Edi siapkan mobil!" teriak Rafka menggelegar di ujung anak tangga. Pria itu berjalan tergesa-gesa dan hampir menabrak meja.
Jantung Rafka berdetak menggila, Ia tidak sabar menemui Salsa dengan kerinduan yang menggunung.
•
•
Salsa masih belum sadarkan diri dengan selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya dan saat ini wanita tersebut sudah di pindahkan ke ruang pemulihan pasca operasi. Adan setia duduk di sisi brankar dengan sorot mata yang terlihat jelas kesedihan di dalamnya. Bagaimana pun Salsa tanggungjawabnya.
Tidak jauh di brankar tempat Salsa terbaring sekarang, bayi kecil berjenis kelamin laki-laki tampak nyaman berada dalam kotak inkubator. Bayi laki-laki yang memiliki wajah berduplikat sang ayah dengan mata bulat serta pipi chubby dan kulit putih bersih. Siapapun yang melihat bayi laki-laki itu akan sangat gemas dibuatnya.
• Ilustrasi
"Cepatlah sadar, Sal. Agar kau bisa melihat bayi yang berhasil kau lahirkan. Dia sangat tampan sekali..." ucap Adan lirih.
Sementara kembaran dari bayi laki-laki itu akan segera di makamkan. Mungkin ini akan menjadi mimpi buruk bagi Salsa setelah sadar dari alam bawah sadarnya.
_________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
See you di part selanjutnya:)