
...Ujian pernikahan lebih berat dibanding tidak nikah-nikah sama sekali. Ibadah seumur hidup yang macam-macam ujiannya....
Semenjak kejadian kemarin malam, Azkiya lebih banyak diam. Tampaknya wanita itu benar-benar marah pada Rafka. Memilih tetap diam membisu tanpa menghiraukan sang suami yang terus membujuknya. Mood wanita itu semakin memburuk dengan kedatangan mertuanya. Bukan, Ia tidak membenci mertuanya, hanya saja kurang suka dengan Elsa yang terus membahas tentang anak dan menanyakan tentang kondisinya sudah mengandung atau tidak.
Dan di sini Azkiya berada, di meja makan. Menikmati makan siang bersama dengan suami dan mertuanya.
"Bunda selalu berharap, saat Bunda ke sini ada kabar bahagia," ucap Elsa membuka suara dan melirik Azkiya yang semakin menunduk.
Sedangkan Azkiya merasa ucapan yang Elsa lontarkan sebuah sindiran. Sesak, itu yang Ia rasakan. Ia benar-benar tidak betah berada di sini. Bahkan selera makannya langsung hilang dalam sekejap. Azkiya memejamkan matanya rapat-rapat dan rasa panas menjalir pada matanya yang hampir berair.
"Sudah, Bun, jangan membahas hal ini di meja makan," tegur Rafka melirik sekilas Azkiya di sampingnya dan beralih menatap Elsa.
"Benar kata Rafka. Kita nikmati makan siang ini tanpa membahas apapun," timpal Revin, ayah Rafka.
Elsa menghela napas berat. Wanita paruh baya itu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Suasana yang awalnya sedikit ada keributan, kini kembali hening dan hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu. Di bawah meja, tangan Rafka terulur menggenggam tangan Azkiya, memberikan usapan lembut. Wanita tersebut melirik suaminya yang tersenyum tipis dan mengangguk pelan, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
"Azkiya..." Panggil Elsa membuat sang menantu menatap ke arahnya." Besok kamu ikut dengan Bunda ke rumah sakit, kita periksa kondisi kamu."
Rafka tampak terperangah mendengarnya." Untuk apa memeriksa kondisi Azkiya, Bun? Sudah berapa kali aku katakan, Azkiya baik-baik saja. Hanya belum waktunya saja dia hamil!"
"Kamu yakin? Bila Azkiya baik-baik saja kenapa sampai sekarang dia belum hamil?" tanya Elsa.
"Aku permisi ke belakang dulu." Azkiya bangkit dari tempat duduknya. Wanita itu melangkah cepat menuju ke arah dapur. Membengkap mulutnya menahan isak tangis bersamaan dengan rasa sakit di benaknya.
"Bunda keterlaluan!" sentak Rafka menatap kecewa pada Elsa. Pria itu bangkit segera bangkit dari tempat duduknya, menyusul sang istri.
Revin menghela napas kasar. Ia menoleh ke arah Elsa yang menatap kepergian menantu dan putranya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tidak membahas ini. Kita juga tidak bisa memaksakan Azkiya untuk segera hamil," ucap Revin.
"Kamu lupa Mas kalau Rafka anak kita satu-satunya, dan wajar kalau aku sangat mengharapkan cucu dari mereka berdua terutama pada Azkiya. Kurang sabar apa aku, sudah tiga tahun aku bersabar. Menikah itu bukan hanya tentang cinta tapi juga keturunan!" balas Elsa sedikit meninggikan suaranya."Dan aku ingin mendengar sendiri dari dokter tentang kondisi Azkiya yang tiga tahun tidak kunjung hamil!"
"Kalau pun Azkiya tidak bisa hamil atau mandul kamu ingin apa? Menikahkan putra kita dengan perempuan lain, iya?"
Elsa membuang muka mendengar ucapan suaminya. Wajah wanita paruh baya itu tampak memberengut.
*
*
Air mata semakin bercucuran membasahi wajah Azkiya. Tangisan wanita itu terdengar sangat memilukan dan sesegukan. Pandangan matanya yang sembab mengarah pada kumpulan kebun bunga yang begitu indah saat bermekaran. Iya, Azkiya berada di taman belakang rumah. Hembusan angin menerpa permukaan kulit wajahnya yang basah.
Azkiya tampak tersentak ketika sepasang tangan melingkar di perut ratanya. Rafka memeluk erat istrinya dari belakang dan mencium ringan kepala Azkiya. Kini, air mata kesedihan semakin deras mengucur seolah menggambarkan perasaannya saat ini pada Rafka.
"Sudah, Sayang. Jangan dengarkan ucapan bunda. Aku tidak pernah menuntut mu agar memberikan anak untuk ku," balas Rafka semakin erat memeluk istrinya.
Azkiya langsung berbalik badan, menatap suaminya dengan pelupuk mata yang berair.
"Kamu bohong! Aku yakin cepat atau lambat kamu akan berpaling dari ku karna kekurangan ku ini!" teriak Azkiya melangkah mundur dari suaminya.
"Hei, jangan bicara seperti itu Sayang. Sampai kapanpun kita akan tetap bersama," balas Rafka berjalan mendekat pada Azkiya.
Wanita itu menggeleng lirih. Rafka kembali memeluk Azkiya yang menangis sejadi-jadinya dalam dekapan suaminya. Tangisan wanita tersebut sudah cukup menggambarkan betapa terlukanya Ia. Wanita manapun tidak pernah menginginkan kondisi seperti ini, tidak mampu memberikan keturunan pada suaminya.
•
__ADS_1
•
Satu minggu berlalu, dan selama itu juga Rafka tidak pernah mengunjungi Salsa ataupun menghubungi lewat ponsel. Seolah pria itu menghilang dari kehidupan istri sirinya tersebut. Mata bulat itu menatap sendu pada para suami yang menjemput istrinya dari kelas ibu hamil yang baru saja selesai. Iya, Rafka sudah mendaftarkan istri kecilnya tersebut ke kelas khusus untuk wanita hamil melalui Arjo.
Tubuh Salsa semakin kurus dan kantung mata yang menghitam. Setiap pagi Ia harus tersiksa dengan rasa mual dan pusing yang menyergap di tambah dengan menghilangnya Rafka tanpa ada kabar, menjadi beban pikiran bagi wanita muda itu.
"Nona Salsa..." Suara bariton Arjo membuyarkan lamunan wanita muda itu. Ia mendongak menatap Arjo yang kini berdiri di hadapannya."Mari saya antar pulang."
Tanpa mengucapkan apapun Salsa bangkit dari tempat duduknya. Arjo membuka, kan, pintu mobil untuk istri atasannya tersebut.
"Ke mana pak Rafka? Kenapa dia tidak pernah datang?" Pertanyaan Salsa membuat pergerakan tangan Arjo yang hendak memasang sabuk pengaman terhenti. Ia melirik Salsa dari kaca mobil.
"Seperti yang saya katakan, tuan Rafka sedang sibuk mengurus perusahaannya."
Salsa menatap ke arah luar jendela kaca mobil dan mendesah kecewa. Arjo mulai menjalankan mobilnya.
"Sepertinya sulit untuk tidak menghadirkan cinta dalam pernikahan yang tidak ada kejelasan kedepannya," gumam Salsa dan itu masih bisa di dengar oleh Arjo.
"Apa anda ingin membeli sesuatu?" tanya Arjo ketika mobil hampir sampai di apartemen.
"Tidak, aku ingin istirahat," balas Salsa menatap lesu pada asisten pribadi suaminya.
____________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)