Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 7


__ADS_3

"Ini kopinya, Pak." Salsa meletakkan secangkir kopi panas dan roti bakar di meja, tepat dihadapan Rafka sekarang.


"Terima kasih," ucapnya. Salsa tersenyum manis dan melangkah menjauh.


"Kau mau ke mana?"


Langkah kaki Salsa terhenti, Ia berbalik badan menghadap ke arah Rafka yang kini menatap dirinya.


"Sa-saya ingin ke dapur," balasnya gugup. Di tambah dengan tatapan yang pria itu berikan padanya.


"Kemarilah." Rafka menggerakkan tangan kanannya agar wanita itu mendekat padanya.


Dengan langkah ragu-ragu Salsa mendekat pada Rafka.


"Duduk." Pria itu menepuk-nepuk kursi di sampingnya. Dengan patuh Salsa duduk di samping Rafka yang menyisakan sedikit jarak.


"Ini, makan rotinya," titah Rafka.


Salsa menatap Rafka dengan kening berkerut, bingung." Roti bakar ini untuk Bapak, bukan buat saya."


"Saya tahu, tapi kau sedang hamil jadi butuh asupan makanan. Dan saya kurang suka dengan roti bakar," ucap Rafka mendorong piring berisi roti bakar itu ke dekat Salsa.


"Kalau begitu, saya akan buatkan makanan yang lain untuk Bapak. Maaf, bila saya kurang tahu makanan ke sukaan Bapak." Salsa hendak bangkit dari tempat duduknya, namun Rafka mencekal pergelangan tangan wanita itu


"Tidak usah. Sebentar lagi saya akan pergi."


Salsa mematung sejenak dan kembali duduk di kursi.


"Masih mual?" Pertanyaan Rafka membuat Salsa menoleh ke arah pria itu.


"Biasanya setiap pagi selalu mual, tapi untuk sekarang tidak."


Pria itu manggut-manggut." Berarti kau tidak akan mual saat berada di dekat saya?"


Salsa terhenyak mendengarnya. Ia baru sadar, pantas saja Ia tidak merasakan mual sama sekali saat di pagi hari.


"Mungkin bawaan bayi," jawab Salsa sekenanya dengan kepala tertunduk. Bagaimana pun Rafka tetap Ia anggap sebagai atasannya dibanding suami.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu," ucap Rafka santai seraya menghirup pelan kopi panas yang baru saja dibuatkan Salsa." Saya ingin bertanya, apa keluarga mu tinggal di kota ini juga?"


Salsa menggeleng pelan." Semua keluarga besar saya tinggal di Bogor, saya merantau ke Jakarta mencari pekerjaan untuk meringankan perekonomian keluarga saya." Salsa menghela napas berat sebelum melanjutkan ucapannya." Tapi, baru satu bulan lebih saya tinggal di sini sudah___" Salsa menggantung ucapannya, Ia melirik Rafka.


"Maaf, maafkan saya," ucap Rafka penuh sesal. Ia paham betul ucapan Salsa mengarah ke mana, dan Ia menyesal karna sudah merusak wanita yang lebih cocok untuk menjadi adiknya. Walaupun tidak sepenuhnya itu salah Ia.


Salsa menundukkan kepalanya sejenak, tersenyum hambar." Tidak usah di bahas lagi, Pak. Semuanya sudah terjadi, penyesalan tidak akan mengembalikan semuanya. Setidaknya Bapak masih mau bertanggungjawab dengan menikahi saya. Walaupun aku tidak yakin pernikahan ini akan bertahan sampai mana," sambung Salsa dalam hati.


"Apa saya boleh bertanya?" Salsa kembali melontarkan ucapannya.


Satu alias Rafka terangkat." Tentu boleh. Kau ingin bertanya apa?"


"Apa Bapak memiliki kekasih atau istri?"


Bibir Rafka langsung terkantup rapat mendengar pertanyaan Salsa. Netra hitam pekatnya menatap dalam mata bulat milik Salsa yang menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa  kau menanyakan itu?"


"Saya hanya takut Bapak sudah memiliki kekasih ataupun istri," ucap Salsa meneguk salivanya kasar," Karna akan menjadi permasalahan besar di kemudian hari bila Bapak memang sudah memiliki kekasih ataupun istri."


"Kau terlalu jauh memikirkan hal seperti itu," balas Rafka terkekeh pelan. Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan Salsa mendongak menatap suaminya. "Jaga diri mu baik-baik, saya harus pergi." Rafka melangkah menjauh menuju ke pintu keluar.




Azkiya tersentak kaget ketika dua tangan kekar melingkar di perutnya. Ia langsung menghentikan aktifitasnya dan berbalik badan. Raut wajah Azkiya berubah jengkel menatap sosok yang tersenyum manis padanya.


"Kenapa, Sayang? Kenapa wajah mu merengut seperti itu, hmm?" tanya Rafka serak. Ia melayangkan kecupan basah di wajah sang istri.


Azkiya mendorong dada kokoh Rafka hingga pria itu menjauh darinya." Kenapa baru pulang?" ketusnya seraya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 09: 00 pagi.


"Maaf, Sayang. Ada masalah di perusahaan dan aku harus menyelesaikannya sampai tertidur di sana," balas Rafka menyakinkan. Meski ada rasa bersalah mengganjal di benaknya karna telah membohongi sang istri.


Azkiya menghirup dalam-dalam oksigen hingga memenuhi dadanya." Tapi aku mohon sama Mas untuk lain kali jangan seperti ini. Aku sudah menghubungi puluhan kali tapi ponsel Mas tidak aktif..." ucap Azkiya lirih dan serak.


Rafka menarik lembut tangan Azkiya dan membawa ke dalam pelukannya. Sementara wanita itu memejamkan matanya dengan dagu menancap di bahu Rafka, menikmati usapan hangat di punggungnya.

__ADS_1


Hening.


Keduanya sama-sama larut dalam pelukan hangat yang mencurahkan semuanya. Meski ada kebohongan dari salah satu mereka berdua. Rafka menguraikan pelukannya dan mengusap pipi Azkiya lembut.


"Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kita makan malam romantis di restoran favorit kamu?"


Azkiya mengangguk semangat di sertai senyuman manis yang menghiasi wajahnya. Rafka kembali mengecup mesra kening sang istri. Azkiya kembali memeluk tubuh besar Rafka, namun raut wajah yang semula berbinar bahagia kini mendadak berubah. Aroma vanilla khas wanita yang melekat di pakaian suaminya tercium jelas di indra penciumannya.


*


*


Tak terasa malam pun tiba, sesuai dengan janji yang Rafka ucapkan. Kini, kedua pasangan suami istri itu tampak sudah siap akan berangkat menuju restoran yang sudah Rafka reservasi tempatnya.


"Silahkan masuk, Sayang." Rafka membuka, kan, pintu mobil untuk Azkiya di sertai senyuman hangat.


"Terima kasih, Mas," balas Azkiya setelahnya masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam tersebut.


Malam ini Azkiya terlihat sangat cantik mempesona dan Ia juga mengenakan gaun berwarna merah menyala tanpa lengan dan manik-manik yang menghiasi permukaan gaun tersebut. Warna gaun merah itu tampak kontras dengan kulit putih bersih Azkiya.


Rafka sudah duduk di jok kemudi. Ia mulai menjalankan mobilnya keluar dari area pekarangan rumah mewah mereka. Azkiya menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya, tangan kanannya saling bertautan dengan tangan Rafka yang memberikan usapan lembut di tangannya. Sudah lama Ia dan Rafka tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini. Restoran yang mereka tuju tidak terlalu jauh.


Udara di luar malam ini sangat dingin dan sedikit rintik-rintik hujan yang membasahi mobil yang mereka tumpangi. Rafka menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala.


"Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat, setelah kita menikmati makan malam romantis di restoran," ucap Rafka.


"Ke mana?" tanya Azkiya penasaran.


"Rahasia." Rafka mengecup sekilas bibir ranum Azkiya, membuat wanita itu mengulum senyumnya.


Kini, Rafka menatap lurus ke depan, menunggu lampu hijau. Namun, pandangan mata Rafka langsung menangkap sosok Salsa yang melintas di depan mobilnya. Wanita yang mengenakan cardigan ungu itu tampak berjalan cepat dengan membawa kantong kresek hitam. Hujan yang awalnya hanya rintik-rintik kini mendadak hujan deras. Sementara Azkiya tampak nyaman bergelayut di lengan suaminya. Tanpa sadar bila suaminya tak lepas menatap seorang wanita yang berteduh di sebuah halte yang tidak jauh dari lampu merah.


___________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.

__ADS_1


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2