Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 36


__ADS_3

Salsa memegangi bagian dadanya yang terasa sangat sesak. Air mata meluncur bebas. Kenyataan yang membuat Ia sangat terpukul.


"Anak ku....hiks...." Salsa menangis histeris.


Suster yang ada di dalam ruangan itu segera membawa bayi laki-laki yang berbaring di samping Salsa dalam gendongannya. Sedangkan Salsa seolah tidak bisa mengendalikan perasaannya sekarang. Ia meremas rambutnya hingga kusut.


"Tenangkan diri mu..." ucap dokter Arya memegangi kedua tangan Salsa yang tidak henti-hentinya memukul bagian dadanya.


"Anak ku meninggal! Tolong kembalikan dia Dokter...hiks..."


"Tenanglah. Ikhlas dia. Saya yakin__"


"Tidak! Seharusnya kau menyelamatkan dia, biarkan aku saja yang mati!" teriak Salsa histeris.


Tidak lama pintu di ruang rawat itu terbuka lebar, menampilkan sosok Rafka yang kini mematung sesaat menatap wanita yang Ia cari beberapa bulan terakhir, dan kini ada dihadapannya.


"Ada apa?" tanya Rafka berjalan mendekat pada dokter Arya yang tampak kewalahan memegangi kedua tangan Salsa yang terus memberontak.


"Begini, Raf, salah satu anak kembarnya meninggal. Aku kira keluarganya sudah memberitahu perihal ini, ternyata tidak," balas dokter Arya.


Rafka terdiam sejenak.

__ADS_1


"Kau bisa keluar, biar aku yang menenangkannya," ucap Rafka yang membuat kening dokter Arya mengernyit.


"Dia keluarga mu?"


Rafka menggeleng lemah." Dia istri ku."


Mata dokter Arya langsung melebar. Setahunya istri Rafka hanya Azkiya.


"Tapi sebaiknya dia di suntik obat penenang terlebih dahulu__"


"Tidak perlu," sela Rafka yang beralih menatap Salsa.


"Baiklah kalau begitu. Bila kau perlu apa-apa pencet saja tombol di samping brankar," ucap dokter Arya sebelum beranjak pergi.


Rafka tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas ucapan Salsa. Hanya pelukan hangat dan erat yang Ia berikan pada istrinya. Dengan gelora kerinduan yang teramat besar.


"Maafkan aku." Rafka mengecup kening Salsa berkali-kali dengan perasaan bersalah dan penyesalan.


Sedangkan wanita itu menangis dalam dekapan Rafka tanpa Ia sadari. Menumpahkan segala kesedihan dan sakitnya kehilangan.


Salsa menghentikan tangisnya ketika pelukan di tubuhnya semakin erat dan aroma parfum yang familiar. Ia mendongak. Iris coklatnya langsung bertemu dengan netra hitam pekat Rafka yang menatap dirinya sendu.

__ADS_1


"Bapak?"


"Saya sangat merindukan mu." Rafka menguraikan pelukannya dan menangkup wajah Salsa.


Mata berair wanita itu menelisik wajah tampan suaminya. Tangan kurusnya menyentuh permukaan wajah pria itu. Sedangkan Rafka tidak bisa menahan rasa haru nya, Ia memejamkan matanya merasakan sentuhan yang Salsa berikan.


Plak!


Sebuah tamparan tiba-tiba saja langsung Salsa layangkan di pipi Rafka yang terperanjat kaget dan meringis kesakitan. Sorot mata Salsa yang awalnya penuh kesedihan kini berganti dengan kemarahan yang membara.


"Ini semua gara-gara mu! Karna kau aku harus kehilangan anak ku! Hidup ku hancur karna mu!" Napas Salsa tersengal-sengal, menatap tajam Rafka.


"Iya, saya akui. Saya memang bersalah atas semua penderitaan yang kau alami. Tapi tolong maafkan saya."


Salsa menepis kasar tangan Rafka yang hendak menyentuh bagian tubuhnya.


"Tidak! Aku tidak akan memaafkan mu. Pergi dari sini, pergi!" teriak Salsa dengan tubuh bergetar.


Rafka menundukkan kepalanya. Ia mengepalkan kedua tangannya.


"Rafka, beri dia waktu untuk menyendiri. Dia sangat terpukul dan sangat sulit mengendalikan emosinya," ucap dokter Arya yang kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Rafka hanya diam, namun sorot matanya tak lepas dari Salsa. Hatinya sangat perih melihat keadaan wanita itu.


Dua suster masuk ke dalam ruangan dan segera menyuntikkan obat penenang pada Salsa yang hilang kesadaran.


__ADS_2