Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 16


__ADS_3

...Tidak selamanya cinta selalu memberikan rasa manis dan kebahagiaan. Karna nyatanya cinta bisa menjadi penyebab luka paling dalam hingga trauma. ...


Hening.


Rafka dan Salsa sama-sama diam membisu dalam ruangan yang menyisakan mereka berdua setelah keributan yang sempat terjadi. Wanita yang mengenakan piyama berwarna biru itu tampak menikmati memakan potongan buah apel yang Rafka belikan tadi. Sekarang, n*fsu makannya kembali seperti biasanya, tidak seperti minggu lalu yang sangat sulit menerima makanan apapun di tambah selalu mual.


Sementara Rafka membaringkan tubuhnya di atas sofa yang cukup muat menampung tubuh besarnya. Matanya fokus pada layar ponsel yang menampilkan tulisan yang cukup membosankan bila terus di baca. Karna kondisi Salsa sekarang, Ia harus menjaga wanita itu dan libur beberapa hari  untuk menjaga Salsa. Namun, sekretarisnya akan mengirim berkas atau dokumen padanya agar pekerjaannya tidak terlalu menumpuk. Dan untuk rapat, Ia percayakan pada asistennya, Arjo, untuk menggantikan dirinya menghadiri pertemuan penting itu.


Drrt...


Suara dering ponsel membuat perhatian Salsa teralihkan, sedangkan Rafka tampak tak terganggu dengan suara itu. Salsa meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Raut wajah wanita itu berubah melihat nama sang penelpon di layar ponsel. Mendadak napasnya memberat. Dengan ragu-ragu dan terselip ketakutan dalam benaknya Ia mengangkat telpon tersebut.


"Hallo, Bu." Salsa meremas kuat ponsel yang kini menempel di telinganya. Ia melirik sekilas suaminya.


"Nak, bagaimana kabar mu? Sudah lama kamu tidak menelpon Ibu." Suara lembut Asiah membuat mata Salsa memanas. Sungguh, Ia sangat merindukan wanita itu yang kini jauh dari pelupuk mata.


"A-aku baik. Bagaimana kabar Ibu dan juga Bapak?" tanya Salsa dengan suara tercekat di tenggorokan. Rasanya Ia ingin menangis menumpahkan semua yang Ia rasakan dan masalah yang menimpanya pada kedua orangtuanya. Tapi Ia sadar, Ia anak pertama dan harapan ibu dan bapak. Dan tentunya harus lebih kuat dan sabar.


Tanpa sadar air mata merembes membasahi pipi tirus Salsa. Dan itu tidak luput dari perhatian Rafka yang kini sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Keningnya mengernyit serta rasa penasaran dengan sang penelpon hingga wanita itu menangis.


"Terima kasih ya, Nak, untuk kiriman uangnya. Ibu tidak menyangka kamu akan mengirim uang sepuluh juta. Dan Ibu juga tidak menyangka gaji pertama mu sebesar ini."


Salsa tertegun mendengar pernyataan ibunya. Lidahnya mendadak kelu, keningnya mengernyit bingung. Ia tidak pernah mengirim uang sepeser pun pada  pada ibu apalagi dengan jumlah nominal sebesar itu. Ekor mata Salsa melirik Rafka yang menatap dirinya. Apakah pria itu yang melakukannya? Mengirim uang untuk kedua orangtuanya di kampung?

__ADS_1


"Iya, Bu. Kalau begitu telponnya aku tutup dulu. Nanti aku telpon lagi."


"Iya, Nak. Jaga diri kamu baik-baik." pesan Asiah.


"Iya, Bu."


Salsa kembali meletakkan ponselnya ke atas meja setelah sambungan telpon berakhir. Kini, sorot matanya terotasi pada Rafka sepenuhnya.


"Apa ini termasuk rencana Bapak?" tanya Salsa dengan nada pelan.


Satu alis Rafka terangkat mendengar itu."Rencana apa yang kau maksud?" Rafka balik bertanya, menatap lekat wanita tersebut.


Salsa menghela napas berat sebelum membalas ucapan suaminya." Mengirim uang sepuluh juta pada orangtua ku di kampung, siapa lagi yang melakukan itu bila bukan Bapak. Aku takut ini hanya akal-akalan Bapak agar aku menandatangani surat perjanjian itu," tuding Salsa yang sangat yakin.


Raut wajah Salsa langsung berubah. Dan Rafka tersenyum tipis sangat tipis.


Namun, wanita itu yakin pasti Rafka akan meminta timbal-balik atas apa yang pria itu lakukan.


Salsa beringsut ketika Rafka berjalan mendekat padanya. Ia mendongak menatap pria tersebut yang kini berdiri dihadapannya.


"Jangan selalu berpikiran buruk pada saya. Sampai kebaikkan yang saya lakukan kau anggap ada sesuatu yang buruk di baliknya."


"Bagaimana bisa saya percaya dengan Bapak? Sedangkan Bapak sudah memperlihatkan sikap buruk Bapak dengan bersikap egois untuk mengambil anak yang aku kandung sekarang. Bukankah itu sudah menjadi alarm bahaya untuk ku agar lebih menjaga jarak dengan Bapak?"

__ADS_1


Rafka mencondongkan tubuhnya pada Salsa yang hendak menjauh. Namun, pria itu lebih dulu merengkuh pinggang Salsa, dan kini jarak keduanya sangat dekat hingga hembusan napas wanita itu bisa Rafka rasakan.


"Lepaskan aku! Menjauh dari ku!" Salsa mendorong dada kokoh Rafka yang sengaja semakin merengkuh tubuh mungil itu hingga Ia merasakan dada empuk wanita itu menempel sempurna pada tubuhnya.




Kamar bernuansa putih dan abu-abu itu tampak sangat berantakan seperti kapal pecah. Azkiya mengobrak-abrik setiap lemari dan laci di dalam kamarnya hingga mendapatkan sebuah surat yang terbungkus amplop coklat.


Dengan cepat Ia mengambil isi dalam amplop tersebut. Napas Azkiya semakin memberat dan air mata kembali meleleh membaca pernyataan dari dokter Arya  tentang kemandulannya yang sengaja Rafka rahasiakan. Suaminya sudah mengetahuinya tapi tega menyembunyikan ini semua.


"Kenapa kamu tega melakukan ini, mas?" Netra hitam pekat itu menatap kosong pada selembar kertas tersebut.


Azkiya mengambil tasnya yang tergeletak di atas kasur dan  menghubungi suaminya. Lagi, panggilannya tak di jawab.


_____________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.


See you di part selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2