Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 28


__ADS_3

Warning 18+


"Salsa, bangun..." Rafka mengusap lembut kepala sang istri yang tertidur nyenyak dengan selimut yang membalut tubuh polosnya. Ia baru saja dari apotek, membeli salep untuk istrinya tersebut.


"Eugh..."


Wanita itu tampak melenguh dan menggeliat dalam balutan selimut. Dengan mata yang terasa berat karna ngantuk dan lelah yang masih mendera. Iris coklat Salsa langsung menangkap sosok Rafka yang duduk dipinggiran kasur, pria itu tersenyum padanya.


"Bapak..."


"Sekarang kita obati dulu ya, saya sudah membeli salep," ucap Rafka memperlihatkan benda kecil di tangannya.


"Biar aku saja yang mengobatinya," balas Salsa hendak meraih salep itu dari tangan suaminya, tapi Rafka langsung menjauhkannya.


"Jangan, biar saya saja yang mengobatinya. Kau cukup berbaring telentang."


"Tidak usah, Pak. Aku bisa sendiri." Salsa merapatkan kedua pahanya ketika Rafka menyibak selimut yang memperlihatkan bagian pahanya yang terekspos.


"Kali ini jangan membantah. Turuti saya." Rafka membuka lebar kedua paha Salsa yang memperlihatkan kewanitaan sang istri. Salsa memalingkan wajahnya dengan semburan merah yang menghiasi wajahnya. Ini sangat memalukan, apalagi Rafka tidak langsung mengobatinya tetap menatap lekat bagian area sensitifnya.


Salsa mengigit bibir bawahnya, menahan rintihannya ketika Rafka mengolesi salep di bagian sensitifnya dengan lembut. Sensasi rasa dingin membuat tubuhnya sedikit menggelinjang. Pria itu dengan fokus mengobati bagian yang lecet dan sedikit bengkak pada lipatan kewanitaan Salsa. Padahal Ia bermain dengan pelan, tidak terlalu ganas tapi kenapa sampai seperti ini,  bathin Rafka.


"Sudah selesai..." ucap Rafka menutup kembali tubuh bagian bawah Salsa dengan selimut."Mungkin besok sudah sembuh."


Salsa mengangguk.


"Sekarang makan dulu, saya sudah membelikan makanan dan pakaian untuk mu." Rafka menunjuk dengan ekor matanya pada papper bag berwarna coklat yang terletak di atas meja.


"Terima kasih, Pak."


"Tidak usah berterima kasih. Kau istri saya, segala keperluan mu termasuk urusan perut sudah jadi tanggung jawab saya."


Salsa tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya. Baru kali ini Rafka benar-benar memberikan perhatian padanya.


"Pak, tapi aku ingin mandi dulu," ucap Salsa yang masih tampak canggung.


"Sini, biar saya bantu. Tapi saya siapkan air hangat di bathroom terlebih dahulu," balas Rafka yang begitu perhatian. Lagi-lagi perhatian yang suaminya berikan membuat bibir Salsa berkedut.


Rafka segera masuk ke kamar mandi, mengisi bathroom dengan air hangat untuk sang istri. Sekitar beberapa menit pria itu keluar dari kamar mandi.


"Ayo..." Rafka mengangkat tubuh Salsa dan menggendongnya, membawa ke kamar mandi.


Sedangkan Salsa menengadahkan kepalanya, terpaku menatap Rafka. Ia masih tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan semanis ini. Kedua tangan wanita itu semakin erat melingkar di leher suaminya.


Rafka dengan penuh hati-hati meletakkan Salsa di bathroom yang sudah Ia isi air hangat.

__ADS_1


"Bapak..."


"Kenapa, hmm?"


"Kan baru di kasih salep, seharusnya aku tidak langsung mandi." Salsa mendongak menatap suaminya tatapan polosnya.


Rafka tersenyum seraya membasahi rambut Salsa." Nanti saya obati lagi." Pria itu mengedipkan matanya genit.


Salsa memalingkan wajahnya, mengulum senyumannya yang sangat sulit di tahan. Kedua pipi wanita itu merona dengan debaran jantung yang menggila.


"Aku bisa melakukannya sendiri." Salsa menepis pelan tangan Rafka yang terus meraba-raba dan menggoda bagian sensitifnya. Pria itu seolah seperti pengantin baru, yang baru saja merasakan kenikmatan yang tidak pernah Ia rasakan. Dengan hasrat yang tidak berkesudahan.


Sekitar 30 menitan Salsa sudah selesai membersihkan tubuhnya, tentu dengan Rafka yang membantunya.


"Pakai, lah, selimut ini agar kau tidak ke dinginan. Saya ambilkan pakaian untuk mu." Rafka membuka papper bag coklat di atas meja. Sedangkan Salsa tengah duduk di kursi rias, menatap pantulan dirinya.


"Apa Bapak akan kembali lagi ke Jakarta?" tanya Salsa seraya melirik ponsel Rafka di atas meja rias yang menyala karna notifikasi pesan masuk dari  Azkiya.


"Iya, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Jadi malam ini kau harus ikut saya pulang ke Jakarta," jawab Rafka yang melangkah mendekati Salsa.


"Pak, beri aku dua hari lagi tinggal di kota ini. Aku berjanji akan ikut Bapak pulang ke Jakarta." Salsa menatap Rafka dengan penuh permohonan.


Pria itu terdiam sejenak, dan sedetik kemudian menghela napas berat."Baiklah. Tapi besok siang saya akan kembali lagi ke sini untuk melihat keadaan mu. Dan saya pegang janji mu."


Salsa mengangguk dengan semangat. Ia memejamkan matanya ketika Rafka mengecup keningnya.




"Di Jakarta saya sudah menyiapkan rumah untuk mu. Kita bisa menghabiskan waktu berdua di sana nanti," ucap Rafka buka suara setelah beberapa menit hanya mesin mobil yang terdengar.


"Aku terserah Bapak saja," balas Salsa yang tampak menikmati kebersamaannya dengan Rafka.


Kini, mobil sedan hitam itu berhenti di sebuah gang.


"Kau tinggal di sini?" tanya Rafka menatap ke arah jalan sempit yang minim cahaya itu.


Salsa mengangguk."Aku mengontrak di sini. "


"Lebih baik kau ikut saya ke Jakarta dibanding harus tinggal di tempat seperti ini."


"Untuk dua hari saja. Lusa aku akan ikut Bapak ke Jakarta." Wanita itu tampak menyakinkan suaminya.


"Baiklah. Ayo saya antar," ucap Rafka yang membuka pintu mobil.

__ADS_1


Salsa menahan pergelangan tangan Rafka.


"Tidak usah, Pak. Aku bisa sendiri. Kontrakan ku tidak jauh dari sini."


Wanita itu dengan ragu-ragu mengecup sudut bibir suaminya. Tubuh Rafka seketika menegang dengan debaran jantung yang tak karuan.


"Terima kasih tumpangannya, Pak." Salsa segera turun dari mobil. Sementara Rafka masih mematung di tempatnya hingga kedua sudutnya melengkung sempurna.


*


*


Salsa segera masuk ke dalam rumah kontraknya dengan wajah paniknya.


"Kau kenapa, Salsa?" tanya Adan yang baru saja dari dapur dan sudah mendapati Salsa di ruang tamu.


Wanita itu melirik ke arah pintu dan melihat pada Adan.


"Ba-bapak Rafka sudah mengetahui keberadaan ku, Mas. Kita harus pergi dari sini," jawab Salsa dengan suara yang bergetar. Kedua mata wanita itu terlihat memerah.


Adan tampak terkejut mendengarnya."Sekarang di mana laki-laki itu?!" tanya Adan dengan raut wajah penuh emosi. Ingin rasanya menghajar pria yang sudah merusak adik sepupunya itu.


"Dia sudah pergi. Sekarang bawa aku ke tempat yang jauh, Mas...aku tidak ingin bertemu dengan dia lagi." Salsa menangis terisak-isak. Dan menatap memohon pada Adan.


"Tunggu, kenapa lehernya mu banyak tanda merah seperti ini." Adan menunjuk ke arah leher jenjang Salsa. Sementara wanita itu langsung diam membisu.




"Kamu dari mana saja, Mas?" tanya Azkiya yang terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara yang tampak bising dan sudah mendapati Rafka baru saja keluar dari kamar mandi.


"Maaf, Sayang. Aku ada rapat penting. Maaf bila kamu menunggu lama kedatangan ku," jawab Rafka tersenyum.


Sementara Azkiya mengernyitkan keningnya menatap wajah suaminya yang terpancar kebahagiaan. Rafka tampak bersiul-siul seraya mengambil pakaiannya dalam lemari. Hari ini perasaan pria tersebut begitu berbunga-bunga. Seolah kupu-kupu beterbangan di atas kepalanya.


"Kamu menang tender proyek, Mas?" tanya Azkiya. Seolah penasaran dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah suaminya.


"Bisa dibilang begitu," balas Rafka seraya mengenakan pakaiannya. "Sekarang tidurlah, maaf bila menganggu tidur mu."


"Aku ingin memeluk kamu. Tidur ku tidak terlalu nyenyak bila tidak memeluk mu, Mas," ucap Azkiya dengan manjanya.


____________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2