Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 5


__ADS_3

Azkiya menata makanan yang cukup banyak di atas meja dibantu oleh beberapa pelayan. Sementara  Rafka ada di kamar mandi, membersihkan badannya sebelum makan malam. Sesekali wanita itu tersenyum, ini sudah hal biasa yang Azkiya lakukan ketika menyambut suaminya setelah pulang dari luar kota. Ia membuat makanan spesial untuk Rafka. Di tambah hari ini bertepatan anniversary ke-3 tahun pernikahan mereka.


"Maaf menunggu lama, Sayang." Rafka mengecup singkat pelipis Azkiya yang tampak tersentak kaget.


Wanita yang sudah duduk di kursi jati itu tersenyum manis menatap Rafka yang kini duduk di sampingnya.


"Iya, tidak apa-apa Mas. Mas, mau langsung makan?" tanya Azkiya yang hendak mengambil piring kosong.


Rafka menggeleng seraya meminum teh hangat yang sudah tersedia di meja tersebut.


"Nanti dulu, Sayang. Aku ingin mencicipi kue cake ini. Kamu yang buat?"


Azkiya mengangguk cepat." Iya, Mas. Aku  baru saja belajar membuat cake ini.


"Rasanya enak," puji Rafka ketika memakan satu gigitan cake tersebut. Senyuman Azkiya semakin melebar.


Wanita itu meraih tangan kiri suaminya, membuat Rafka menatap Azkiya.


"Mas ingat hari ini, hari apa?" tanya Azkiya dengan mata berbinar.


Kening Rafka mengerut."Hari selasa. Memang kenapa?"


Azkiya menggeleng cepat." Bukan, Mas lupa kalau hari ini anniversary tiga tahun pernikahan kita?"


"Maaf Sayang, aku lupa," balas Rafka merasa bersalah. Ia benar-benar lupa.


"Tidak apa-apa, Mas. Wajar kalau Mas lupa karna sibuk dengan pekerjaan," balas Azkiya yang tak melunturkan senyumannya.


Namun, bagi Rafka ucapan sang istri seperti sebuah sindiran. Mengingat akhir-akhir ini Ia selalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak meluangkan waktu untuk Azkiya.


"Aku bersyukur karna pernikahan kita bisa bertahan sampai sekarang. Dan aku lebih bersyukur lagi karna Mas tetap setia dengan ku dan sabar menunggu ku yang belum memberikan anak," tutur Azkiya. Namun, tersirat rasa haru dari raut wajah wanita itu.


Ekpresi wajah Rafka mendadak berubah mendengar itu. Ada rasa bersalah yang mengganjal dihatinya. Azkiya bangkit dari tempat duduknya dan langsung mendudukkan dirinya di pangkuan Rafka yang masih menampilkan ekpresi yang sulit diartikan termasuk pandangan matanya.


"Mas Rafka jangan pernah berpaling dari ku ya? Apalagi sampai menikah lagi karna masalah aku yang tidak kunjung hamil..." ucap Azkiya lirih dan serak." Aku tidak akan pernah mengizinkan Mas menikah lagi. Aku tidak suka berbagi apalagi harus melihat Mas bersama wanita lain. Aku sangat mencintai Mas Rafka." Azkiya mengecup dan mel*mat sekilas bibir Rafka.


Sementara Rafka tersenyum kaku membalas ucapan Azkiya. Ia menatap lekat wajah cantik sang istri yang tersenyum membalas tatapan matanya. Apakah Ia akan sanggup bila melihat tatapan kebencian dan kemarahan Azkiya padanya bila mengetahui Ia kembali menikah lagi tanpa izin.


Darrrt...


Suara dering ponsel membuat perhatian keduanya teralihkan. Rafka langsung merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan telpon dari asistennya Arjo.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rafka melirik Azkiya yang kini turun dari pangkuannya dan kembali duduk di kursi.


"Maaf bila saya menganggu waktu, Tuan. Saya ingin mengabarkan bila nona Salsa di larikan ke rumah sakit."


"Kenapa? Ada apa dengan dia?" tanya Rafka yang tampak terkejut dan ada sedikit kekhawatiran dalam benaknya pada wanita itu.


"Saya belum tahu penyebabnya, Tuan. Tapi sekarang nona Salsa sedang ditangani dokter."


"Kau tunggu di sana, aku akan segera ke sana." Rafka langsung memutuskan sambungan telpon dari asistennya.


Pria itu menghela napas berat menatap Azkiya yang kini sibuk mengisi piring kosong dengan nasi dan lauk.


"Siapa yang telpon, Mas?" tanya Azkiya sambil meletakkan piring yang sudah Ia isi dengan nasi dan lauk di dekat Rafka.


"Maaf, Sayang. Aku ada urusan mendadak dan harus segera ke perusahaan."


"Kerja lagi? Baru saja pulang dari luar kota tapi___"


"Setelah urusannya selesai aku akan segera pulang." Rafka berusaha menyakinkan sang istri.


Azkiya diam. Namun, raut wajahnya tampak jelas kecewa. Rafka bangkit dari tempat duduknya, Ia mencium kening Azkiya sekilas dan setelahnya berlalu pergi menuju ke pintu keluar.




"Di mana dia?" tanya Rafka ketika sudah sampai di rumah sakit tempat Salsa di rujuk.


Arjo yang sedari tadi duduk di kursi, kini berdiri menyambut kedatangan atasannya tersebut.


"Nona Salsa ada di dalam, Tuan," jawab Arjo.


Rafka menatap pintu ruang UGD yang tertutup rapat di mana Salsa berada sekarang. Ia beralih menatap Arjo.


"Apa penyebab dia di bawa ke rumah sakit?"


"Sebelumnya saya mengantarkan papper bag yang anda titipkan pada saya untuk diberikan pada Nona Salsa. Tetapi tidak ada sahutan dari dalam apartemen saat saya memanggil nona Salsa. Karna saya khawatir terjadi apa-apa, saya memilih masuk ke dalam dan sudah mendapati nona Salsa tidak sadarkan diri dan makanan yang sudah berhamburan di lantai," tutur Arjo panjang lebar.


Rafka terdiam. Ia mengusap kasar wajahnya. Bagaimanapun wanita itu sudah jadi tanggungjawabnya di tambah Salsa tengah mengandung anaknya.


Ceklek

__ADS_1


Antensi keduanya teralihkan pada dokter pria yang keluar dari ruang UGD tersebut.


"Bagaimana keadaannya?" Rafka langsung menghadiahi pertanyaan pada dokter Rian.


"Anda suaminya?" tanya dokter Rian.


Rafka mengangguk ragu." Iya."


Dokter Rian menghela napas berat." Jadi, istri Bapak mengalami alergi terhadap udang. Dan itu menyebabkan dia sesak napas dan pingsan. Di tambah dia mengalami syok anafilaksis, di mana pasien akan mengalami mual atau sakit perut."


"Lalu, bagaimana dengan janin yang dia kandung?" Rafka menatap dokter Rian penuh harap. Bagaimana pun itu darah dagingnya dan bohong bila Ia tidak mengharapkan anak itu, karna selama tiga tahun menikah dengan Azkiya, Ia sangat mengharapkan keturunan dari sang istri. Tapi Ia sadar Azkiya tak akan bisa memberikannya.


"Anda tenang saja, ini tidak berpengaruh pada janin yang istri anda kandung. Tapi saya mohon agar anda lebih memperhatikan setiap makanan yang akan istri anda makan."


Rafka mengangguk.


"Pasien bisa langsung pulang sekarang. Nanti suster akan memberikan resep obat yang harus anda tebus."


"Baik, Dok."


"Kalau begitu saya permisi." ucap dokter Rian yang beranjak dari hadapan Rafka.


Setelah kepergian dokter tersebut, Rafka segera masuk ke dalam ruang UGD tempat Salsa berada sekarang. Terlihat seorang wanita terbaring di brankar dan sudah siuman. Salsa hanya diam dan menatap langit-langit di ruangan itu. Entah apa yang dipikirkan wanita itu.


"Bagaimana keadaan mu?"


Mata Salsa melebar mendapati Rafka sudah berdiri di samping brankar.


"Ba-bapak kenapa ada di sini?" tanya Salsa gugup dan suara yang tercekat.


"Seharusnya saya yang tanya, kenapa kau tidak memberitahu saya kalau kau alergi udang? Seharusnya tidak kau makan, makanan yang saya pesan itu!" sarkas Rafka.


Salsa menggigit bibir bawahnya kelu. Mulutnya terbungkam tak mampu membalas ucapan Rafka. Suara keras itu sangat menakutkan baginya.


__________


Hay-hay semuanya!^^


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote, komen dan ulasan bintang lima ya girl. Supaya aku lebih semangat lagi nulisnya 😭🙏


Untuk bab-bab awal pendek-pendek dulu ya?!

__ADS_1


__ADS_2