Hanya (Istri) Simpanan

Hanya (Istri) Simpanan
HIS •Chapter 8


__ADS_3

Salsa mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air hujan. Ia memilih berteduh di sebuah halte, ada beberapa orang yang juga berteduh di sini. Wanita yang mengenakan cardigan ungu itu memilih duduk di kursi yang ada di halte tersebut. Hujan semakin deras di sertai hembusan angin yang cukup kencang dan terasa dingin menusuk ke pori-pori kulit.


Senyuman Salsa berbinar menatap kantong kresek yang Ia pegang sekarang. Sudah tak sabar rasanya untuk sampai ke apartemen dan menyantap batagor yang sedari kemarin Ia inginkan. Jujur, Ia tidak suka dengan makanan yang satu ini, tapi entah mengapa beberapa hari ini Ia selalu terbayang-bayang hingga air liur ingin menetes.


"Kapan hujannya reda?" gumam Salsa. Pandangan matanya menyapu ke arah jalan raya yang berlalu lalang pengendara di tengah derasnya hujan.


Kening Salsa mengkerut menatap mobil sedan hitam yang tak asing lewat di hadapannya. Sorot mata wanita itu menatap bayangan dua orang dalam mobil tersebut yang menjauh dari pandangan matanya.


"Seperti mobil pak Rafka..." gumam Salsa tak lepas memandangi mobil tersebut yang kini hilang dari pandangan matanya.


"Kamu kenapa, Mas? Melihat siapa?" tanya Azkiya yang menatap ke arah halte.


Rafka menggeleng cepat." Tidak melihat siapa-siapa, Sayang," alibinya yang mulai melajukan mobilnya.


Azkiya kembali duduk dengan tenang. Senyuman di bibir wanita itu kembali mengembang, tak sabar menuju ke tempat yang akan mereka tuju. Azkiya menoleh menatap Rafka yang fokus menyetir mobil. Apalagi hujan turun sangat deras hingga menimbulkan kabut dari kejauhan.


Mobil sedan hitam itu memasuki area OLO Italian resturaunt. Rafka sudah memesan private room untuk mereka berdua. Pria itu menghentikan mobilnya di tempat parkir yang tersedia di restoran tersebut. Rafka lebih dulu turun dari mobil tersebut, tak lupa menggunakan payung  dan membuka, kan, pintu mobil untuk sang istri. Azkiya segera keluar dari mobil setelah Rafka membuka, kan, pintu mobil untuknya. Ia merapatkan tubuhnya pada sang suami, takut pakaiannya basah terkena cipratan air hujan.


"Ayo Sayang." Rafka menggengam erat tangan kanan Azkiya ketika memasuki dalam restoran.


Suasana dalam restoran Italian tersebut terbilang unik dan hangat. Salah satu sudut restoran dipercantik deretan jendela kaca patri warna-warni yang membangun atmosfer mediterania. Begitu banyak pengunjung restoran di tempat ini.


Rafka dan Azkiya sudah di sambut kedatangannya oleh salah satu pelayan di restoran tersebut.


"Mari saya antar ke ruangan private yang anda pesan," ucap pelayan wanita yang menggunakan pakaian unik dan menampilkan wajah ramahnya.


Rafka mengangguk. Azkiya mengalungkan kedua tangan di lengan suaminya, pandangan matanya mengedar ke setiap sudut ruangan yang menampilkan hiasan interior Italia.


"Sayang, kamu ikuti pelayan itu, aku ke toilet  sebentar," ucap Rafka menghentikan langkah kakinya.


Tanpa menanyakan apapun wanita itu mengangguk. Rafka langsung merogoh saku celananya setelah kepergian sang istri yang sudah menjauh.

__ADS_1


"Arjo, aku minta tolong agar kau menjemput Salsa di halte yang ada di jalan ****" perintah Rafka pada asistennya lewat sambungan telpon.


"....."


"Langsung hubungi ku bila Salsa sudah bersama mu."


Rafka mematikan sambungan telponnya dan segera menyusul Azkiya yang sudah berada di private room.




Wanita bertubuh mungil itu memeluk dirinya sendiri karna udara dingin yang semakin menusuk di tambah pakaiannya yang basah.


Kening Salsa berkerut kala sebuah mobil Avanza putih berhenti tepat di depannya. Tidak lama seorang pria yang mengenakan pakaian formal, turun dari mobil menggunakan payung hitam.


"Arjo..." gumam Salsa yang bangkit dari tempat duduknya.


"Mari Nona saya antar pulang," ucap Arjo yang kini berdiri di hadapan Salsa.


"Tuan Rafka yang memberitahu saya dan meminta untuk menjemput anda di sini."


Pupil mata Salsa membesar mendengar nama pria itu, Ia langsung menatap ke arah mobil avanza. Ada secercah kebahagiaan yang mencuat dalam benaknya mendengar nama pria itu.


"Mana Pak Rafka, mana?" tanya Salsa celingukan mencari sosok pria itu. Tatapan matanya mengedar ke sekeliling area tersebut.


Arjo menggeleng." Tuan tidak ada di sini."


Pemilik mata bulat itu langsung meredup, tersirat kesedihan dari wajah Salsa. Ia berharap pria tersebut ada di sini dan menjemput dirinya bukan Arjo. Mata Salsa memanas, meremas kuat kantong kresek yang Ia pegang sekarang.


"Mari Nona," ucap Arjo. Pria itu membuka, kan, pintu mobil untuk Salsa yang kini masuk ke dalam mobil Avanza tersebut.

__ADS_1


"Apa Bapak Rafka sangat sibuk?" tanya Salsa kala Arjo mulai menjalankan mobilnya.


"Iya, Nona. Dan mungkin tuan akan sangat jarang untuk mengunjungi anda," balas Arjo seadanya."Sebelumnya saya minta maaf, tapi anda jangan terlalu berharap tuan Rafka akan selalu bersama anda dan memberikan perhatian lebih pada anda karna sedang mengandung anaknya," sambung Arjo tanpa mengalihkan pandangan matanya ke arah jalan.


Tentu, Arjo mengetahui seluk-beluk tentang kehidupan atasannya tersebut, termasuk tentang pernikahan Rafka dan Azkiya yang sudah berjalan selama tiga tahun namun tak kunjung mendapatkan seorang anak. Ia berharap Salsa bukan, lah, wanita yang akan menghancurkan pernikahan tuan mudanya tersebut. Walaupun wanita muda yang kini duduk di sampingnya sudah menjadi istri kedua Rafka, meski dinikahi secara siri.


Sementara Salsa terdiam mencerna ucapan yang Arjo lontarkan padanya.


"Apa anda ingin mampir ke mini market?"


Salsa menggeleng lesu dan menyandarkan kepalanya di jendela mobil dengan sorot mata yang tampak kosong.




"Bagaimana? Apa kamu menyukainya, Sayang?" tanya Rafka menatap lekat Azkiya yang tampak terpesona dengan private room yang dihias sedemikian rupa dan sangat romantis.


Bunga mawar merah bertebaran di lantai dan dua lilin di letakkan di meja yang menjadi pembatas keduanya yang duduk saling berhadapan. Setangkai mawar putih sebagai penghias di atas meja tersebut yang menambah kesan romantis.


"Aku sangat menyukainya, Mas. Terima kasih..." lirihnya dengan suara yang terdengar serak. Mata wanita itu memanas tak sanggup menahan air mata kebahagiaan dan haru.


"Aku akan melakukan apapun untuk mu, bila itu bisa membuat kamu bahagia," ucap Rafka tulus. Tangannya terulur mengusap sudut mata Azkiya yang meneteskan air mata.


"Ini sudah sangat membahagiakan untuk ku, Mas. Bersama mu sudah menjadi sebuah anugrah terindah. Tapi kalau aku boleh meminta, jangan pernah berpaling dari ku. Tetap menjaga komitmen dan kesetiaan," balas Azkiya menatap penuh harapan besar pada suaminya." Jangan sampai rumah tangga yang kita bangun selama tiga tahun hancur begitu saja karna kehadiran orang ketiga."


Rafka seolah tertampar dengan ucapan Azkiya yang lagi-lagi membahas tentang hal itu. Dadanya terasa sesak dan bibirnya terbungkam. Mau sehati-hati apapun dirinya untuk menjaga kesetiaan, komitmen dan pernikahan ini, tetap saja takdir tak tertebak ketika menghadirkan sosok wanita muda dalam kehidupannya. Ini bukan masalah kesetiaan tapi tanggung jawab yang harus Ia jalankan pada seorang wanita yang sudah mengandung darah dagingnya yang mungkin akan menjadi pewaris dalam keluarganya kelak.


__________________


Hei girl! Terima kasih sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen. Terima kasih.


See you di part selanjutnya:)


__ADS_2